Minggu, 25 September 2022

Metode Etnografi

 Metode Penelitian Etnografi

Pengertian

Etnografi secara etimologis berasal dari bahasa yunani yang artinya “Ethnos”berarti Etnik atau Ciri suatu masyarakat atau bangsa dan “Graphein” artinya tulisan atau gambaran. sehingga dapat diartikan sebagai suatu tulisan yang menggambarkan mengenai suatu budaya masyarakat. Etnografi menurut Brewer (2000:10)  yaitu studi tentang manusia dalam situasi atau lapangan tempat tinggal manusia yang diteliti secara alami, dengan metode pengumpulan data untuk menangkap makna sosial dan aktivitas sehari-hari, melibatkan peneliti yang berpartisipasi langsung, atau untuk mengumpulkan data secara sistematis tanpa memaksakan makna pada mereka secara eksternal. 

Menurut Cresswell (2016)  Etnografi adalah suatu desain kualitatif dimana seorang peneliti menggambarkan dan menginterpretasikan pola nilai, perilaku, kepercayaan dan bahasa yang dipelajari dan dianut oleh suatu kelompok budaya. Etnografi merupakan studi yang mendeskripsikan bagaimana individu-individu menggunakan budayanya untuk memaknai realitas dan mengkonstruksi interaksi sosial antara Individu-Individu dengan kelompok-kelompok sosial, cara pandang dan memahami secara alami disebut the native of view. (Ellingson, 2009; Wimmer & Dominick, 2006). Jadi, penelitian etnografi adalah sebuah penelitian kualitatif yang melakukan studi terhadap kehidupan suatu kelompok masyarakat secara alami untuk mempelajari dan menggambarkan pola budaya satu kelompok tertentu, dalam hal kepercayaan, bahasa, dan pandangan yang dianut bersama dalam kelompok itu.

Perlu diketahui bahwa penelitian etnografi adalah ciri khas penelitian ilmu Antropologi. Penelitian ini mengutamakan adanya sense of realities peneliti, proses berpikir mendalam dan interpretasi atas fakta berdasarkan konsep yang digunakan, mengembangkannya dengan pemahaman yang dalam serta mengutamakan nilai-nilai yang diteliti. Oleh karenanya, untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan penelitian ini, metode ini mengutamakan pembaruan antara peneliti (participant observation) dengan objek yang diteliti dalam waktu yang cukup lama.

Tingkah laku individu dipelajari dalam konteks hari ke hari berbanding melakukan eksperimentasi yang dilakukan oleh peneliti. Data dikumpulkan dari berbagai sumber, namun observasi dan wawancara yang menjadi alat utamanya. Pendekatan dalam pengumpulan data biasanya tidak terstruktur di awal penelitian. Ini dimaksud untuk memberi setting alami bagi peneliti. Keterlibatan peneliti dapat digambarkan dalam proses : mengamati, partisipasi, interaksi, analisis, refleksi, menulis, memikirkan kembali, mendeskripsikan budaya.

Creswell mengkategorikan penelitian Etnografi menjadi 2, yaitu:

  1. Etnografi realistis, peneliti memperoleh data menurut sudut pandang orang ketiga, etnografer berada di belakang panggung dan bebas nilai dari pikiran peneliti, Etnografi juga harus mampu memfilter informasi dari pihak ketiga yang sudah berada dalam lingkungan budaya tersebut dengan membandingkan dengan dokumen-dokumen lain, pengamatan eksternal, gambar dan artefak.

  2. Etnografi Kritis, yakni peneliti ikut menyuarakan dan mengadvokasi suatu kelompok budaya yang akan diteliti, peneliti ikut serta dalam partisipatif observer dan tidak bebas nilai.


Etnografi dan Antropologi

Antropologi adalah ilmu yang sepenuhnya dibuat dari catatan lapangan mengenai kehidupan sosial (Margaret Mead). Kemunculan Etnografi sebagai suatu metode sangat berkaitan erat dengan ilmu antropologi yaini suatu ilmu yang mempelajari secara mendetail mengenai kebudayaan yang ada pada manusia. Antropologi seringkali melakukan riset etnografi untuk mengetahui karakteristik masyarakat seperti:

  1. Latent, masyarakat tertutup/tersembunyi

  2. Aware, masyarakat yang sudah menyadari isu

  3. Active, masyarakat yang sudah aktif melakukan tindakan-tindakan tertentu

Penelitian etnografi berkembang karena ilmu antropologi yang menetapkan standar penelitiannya yang akhirnya dikembangkan menjadi penelitian kualitatif etnografi. Menurut Adamson Hoebel Mengenai hubungan Etnografi dan Antropologi adalah Inti dari penemuan budaya antropologi dalam etnografi. Anthony F. Wallace menjelaskan semua perbandingan dan teori dari kerja dari budaya antropologi adalah tergantung pada gambaran etnografi nya. Clifford Geertz menjelaskan jika ingin memahami mengenai pengetahuan maka lihatlah apa yang terjadi dalam praktik kehidupan sehari-hari bukan teori-teori nya, dalam antropologi apa yang dilakukan praktisi di lapangan didapatkan dari etnografi.

Penelitian Etnografi menggunakan adanya sense of reality peneliti, proses interpretasi yang mendalam berdasarkan fakta dan pemahaman dengan nilai-nilai yang diteliti. Untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid maka harus benar-benar menyamakan frekuensi nya dengan masuk dan merubah diri menjadi bagian dari objek  seperti chanel TV kalau frekuensinya ketemu maka gambar akan dapat ditangkap. Pembauran ini dilakukan untuk waktu yang lama tetapi bagi mereka yang cepat bersosialisasi  dan dapat memahami lingkungan maka bisa dengan cepat menyesuaikan


Pentingya penelitian Etnografi

Menurut Margaret Mead bahwa apa yang orang katakan, apa yang orang kerjakan, apa yang orang katakan tentang apa yang mereka kerjakan bisa jadi sama sekali berbeda dan hal ini hanya dapat dibuktikan dengan penelitian mendalam yang menembus dinding pembatas pikiran seseorang. Penelitian Etnografi dapat menjawab pandangan perilaku manusia tersebut. hal inilah yang membuat penelitian dengan pendekatan etnografi menjadi berbeda dengan penelitian lainnya karena penelitian etnografi mengupas dan membedah kebudayaan sampai ke akarnya.


Waktu Pelaksanaan Penelitian Etnografi

Ukuran waktu pelaksanaan penelitian dengan menggunakan metode etnografi tidak terbatas pada ukuran waktu karena untuk masuk ke dalam suatu komunitas budaya yang akan diteliti tergantung pada secepat apa peneliti masuk secara mendalam dalam komunitas atau masyarakat budaya yang diteliti. Penelitian Etnografi baru diakui secara otoritatif memerlukan waktu  6 sampai dengan 18 bulan. Waktu 6 bulan jika peneliti sudah menguasai lingkungan bahkan mungkin akan lebih singkat apabila peneliti sebelumnya sudah masuk kedalam lingkungan yang akan diteliti dan telah menjadi bagian dari yang diteliti.

Ciri Penelitian Etnografi

  • Etnografi sepenuhnya disusun sesuai dengan pandangan, pengalaman warga pribumi (emic view)

  • Merasakan makna dan nilai yang melatarbelakangi terbentuknya budaya tersebut.

  • Wawancara mendalam dan observasi terlibat.

  • Peneliti tinggal di lapangan untuk belajar budaya yang dikajinya.

  • Analisis data menyeluruh (holistik).

Karakteristik Etnografi:

  • Dilakukan analisis data dan interpretasi data tentang arti dari tindakan manusia (human action)

  • Menggali atau meneliti fenomena sosial

  • Data tidak terstruktur

  • Kasus atau sampel sedikit

Prosedur Etnografi

  1. Pilih Tema kultural atau isu yang akan dipelajari dari suatu kelompok.

  2. Mengidentifikasi dan menentukan lokasi dari kelompok budaya yang akan diteliti.

  3. Menentukan apakah masalah penelitian ini adalah paling cocok didekati dengan metode etnografi.

  4. Tentukan tipe etnografi yang cocok digunakan untuk mempelajari konsep budaya tersebut.

  5. Kumpulkan informasi dari lapangan mengenai kehidupan dari kelompok tersebut.

  6. Tuliskan tentang gambaran atau potret kelompok budaya tersebut dari sudut pandang partisipan maupun dari sudut pandang peneliti itu sendiri.

Langkah-langkah Penelitian Etnografi

  1. Melakukan observasi preliminary eksternal, sebelum masuk pada penelitian yang akan didalami terlebih dahulu mempelajari dan mengamati perilaku masyarakat yang akan menjadi objek penelitian, Melakukan penelusuran 

  2. Memetakan Objek penelitian, Setelah mendapatkan gambaran mengenai objek yang diamati maka dapat menentukan critical point dari objek yang diamati termasuk menemukan key informan dan jalur masuk penelitian.

  3. Menetapkan seorang Informan, seorang informan adalah orang yang benar-benar mengetahui dan paham mengenai budaya tersebut serta mampu berkomunikasi dengan peneliti. Terdapat 5 syarat informan yaitu enkulturasi penuh artinya memahami budayanya dengan baik, keterlibatan langsung, suasana budaya apa adanya, memiliki waktu yang cukup dan non-analitis

  4. Mendekati Informan dan menyamakan tujuan dengan informan agar dapat masuk kedalam frekuensi informan, jangan sampai informan resisten dengan penelitian kita. ada dua cara yang dapat dilakukan pertama melalui perantara yaitu informan yang dapat menjembatani peneliti dengan budaya yang akan diteliti dan kedua melalui penjelasan mengenai maksud tujuan penelitian serta dapat meyakinkan bahwa penelitian ini akan memberikan manfaat bagi budaya masyarakat.

  5. Melakukan wawancara dengan informan, melakukan wawancara sembari menjalankan aktivitas, wawancara bersifat informal seperti berbincang dan berdiskusi ringan.

  6. Melakukan analisis dari wawancara, hasil rekaman dan tulisan wawancara dianalisis secara mendalam agar mendapatkan gambaran umum mengenai nilai budaya tersebut.

  7. Mengajukan pertanyaan deskriptif, hasil analisis wawancara dijadikan dasar untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan lebih mendalam dan menanyakan ke beberapa informan lain untuk melihat hasil secara komprehensif.

  8. Membuat analisis deskriptif, melakukan analisis wawancara mendalam untuk menyimpulkan hasil, semakin dalam penelitian dan wawancara berulang-ulang akan memperoleh hasil yang lebih optimal

  9. Mengajukan pertanyaan struktural, hasil analisis deskriptif dapat digunakan untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan yang lebih terstruktur. Dalam penelitian etnografi wawancara yang lebih dalam akan terus menggali nilai-nilai yang tidak tampak hanya dengan sekali wawancara.

  10. Membuat analisis Taksonomi, menganalisa wawancara dengan membuat taksonomi serta mengelompokkan ke dalam kelompok-kelompok tertentu, untuk gambaran yang masih ambigu dapat dilanjutkan dengan wawancara berikutnya.

  11. Mengajukan Pertanyaan kontras, hasil analisis taksonomi memberikan gambaran data-data yang masih ambigu dan di lakukan pertanyaan kontras untuk mengetahui perbedaan-perbedaan tersebut, selain itu dapat juga dilihat antara artefak, gambar kebudayaan yang berbeda dari penjelasan, untuk memperdalam nilai penelitian.

  12. Membuat analisis Komponen, merupakan suatu pencarian sistematik berbagai atribut yang berhubungan dengan simbol-simbol budaya

  13. Menganalisa tema budaya

  14. Membuat Tulisan Etnografis


Jenis Instrumen Penelitian Etnografi:

  1. Indepth Interview, yaitu wawancara mendalam dan menggali yang dilakukan peneliti kepada informan

  2. LIfe History, yaitu menggali sejarah kehidupan informan dan masyarakat

  3. Participant Observation, yaitu menjadi anggota kelompok objek yang diamati dan mengobservasi dari dalam kelompok itu sendiri

  4. Focus Group Discussion / FGD, yaitu melakukan dialog mendalam dengan beberapa informan untuk menggali lebih dalam budaya masyarakat setempat

  5. Document Analysis, yaitu menganalisis dokumen-dokumen, gambar, artefak dan sebagainya yang menjadi bagian dari budaya


Bentuk Laporan Etnografi yang dapat disajikan Peneliti

  1. Social Science Description, yaitu bentuk laporan etnografi yang menggambarkan secara menyeluruh sosial masyarakat melalui pengamatan, wawancara dan analisis dan merefleksikan pandangan budaya tersebut dari dalam dan terbatas hanya menyerupai konsep yang ada dalam budaya masyarakat yang diamati, gambaran deskripsi ini berupa tiruan dari gambaran budaya masyarakat setempat karena pada dasarnya peneliti hanya orang luar yang mencoba menjelaskan konsep etnik mendekati konsep analisis informan.

  2. Etnografi Description, yaitu bentuk laporan etnografi yang menerjemahkan bahasa budaya lokal kedalam tulisan dengan bahasa sendiri peneliti tanpa menghilangkan makna substansi dan unsur-unsur budaya, sehingga bahasa tulisan ini harus mampu membawa pada kondisi yang sebenarnya dari hasil penelitian.

  3. Ethnography Standard, menunjukkan tingkat keragaman bahasa penduduk, penelitian berusaha menjelaskan keberagaman tersebut dalam suatu standar yang dapat dipahami secara luas.  konsep budaya asli dijelaskan secara analitis sehingga kajian etnografis berakar kuat dalam bahasa yang digunakan penduduk asli. konsep dan makna yang dimiliki informan dimasukkan kedalam deskripsi dan memberikan pengertian mendalam mengenai pandangan hidup lain yang dimiliki masyarakat

  4. Life Histories, yaitu laporan etnografi yang menggambarkan budaya dengan mengungkapkan pengalaman hidup dalam membentuk arti dan makna budaya, yang saling berinteraksi dan mempengaruhi.

  5. Etnografi Novel, yaitu laporan etnografi yang penulisan yang dikemas dalam cerita, sehingga pembaca dapat memahami makna budaya melalui penyelaman ke dalam cerita novel tersebut, tulisan novel ini mengandung makna budaya yang dinikmati pembaca dan membawa pembaca ke dalam suasana budaya yang sebenarnya.

  6. Etnografi Monolingual, adalah laporan etnografi yang bersumber dari cerita masyarakat setempat yang di dekonstruksikan dengan cermat semantiknya oleh etnografer, misal cerita rakyat, kejadian bersejarah yang sudah ada dalam masyarakat yang dibedah oleh peneliti dalam memahami budaya masyarakat. Etnografi ini juga sering disebut mirip dengan sejarah kehidupan.

Teknik Studi etnografi yaitu:

  1. Information Understanding, memberikan dan menjelaskan mengenai tujuan kegiatan dan meyakinkan bahwa kegiatan ini akan banyak memberikan manfaat bagi enik sosial yang dipelajari

  2. Goalkeeper, masuk melalui perantara seseorang yang dapat menjembatani antara sosial yang akan dipelajari dengan peneliti

Thick Deskripsi (Deskripsi bersifat detail mendalam dan holistik) dengan cara-cara:

  • Pola-pola perilaku verbal dan non verbal dari masyarakat yang memiliki budaya yang kita teliti

  • Interaksi antar individu

  • Pengalaman-pengalaman budaya yang dimiliki dari masyarakat yang diteliti

  • Sistem kepercayaan dan keyakinan dalam masyarakat tersebut

  • Sistem nilai yang ada di dalam masyarakat

  • Alat-alat atau artefak-artefak yang digunakan dalam keseharian antara lain pola pakaian, banugnan-bangunan dan berbagai media pelengkap hidup


Metode Pengumpulan data:

  1. Observasi non partisipasi: pengamatan tanpa terlibat di dalam atau pengamatan dari luar objek terhadap aktivitas-aktivitas sosial budaya dan kelompok yang diteliti.

  2. Observasi partisipasi, melakukan pengamatan dengan melakukan partisipasi terhadap aktivitas-aktivitas sosial dengan ikut terlibat sebagai bagian dari objek yang diamati.

  3. Wawancara mendalam, bersifat informal dan mampu menggali nilai-nilai yang dipercaya dalam masyarakat.

  4. Teknik pengosongan nilai yang ada dalam peneliti (hanya mengaktifkan nilai pikirannya saja).

  5. Dokumen dan artefak, mengkaji informasi dari data tertulis maupun artefak.

  6. Rekaman audio dan video, Gambar dan buku diary penelitian.


Analisis data

  • Analisis domain yaitu analisa secara menyeluruh dari objek penelitian melalui pemahaman tiap-tiap aktor dan budaya lingkungan agar kita memperoleh gambaran secara umum dan luas mengenai objek yang diamati

  • Analisis taksonomi, yaitu menjabarkan dan menyusun serta mengelompokan analisis domain-domain menjadi lebih rinci

  • Analisis komponensial, yaitu mencari ciri spesifik pada setiap struktur atau elemen-elemen, analisis dilakukan melalui observasi dan wawancara terseleksi dengan pertanyaan kontras membandingkan untuk mengetahui kebenaran yang lebih mendetail, teknik menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi yang bersifat triangulasi.

  • Analisis tema kultural yaitu mencari hubungan antara domain secara keseluruhan dan menentukan tema atau judul penelitian.


Sabtu, 24 September 2022

The Institutional Dynamics of International Political Orders

The Institutional Dynamics of International Political Orders 

James G. March and Johan P. Olsen


Introduction

Politik internasional dibuat, dipelihara, diubah dan diabaikan. perkembangan dan perubahan tatanan sosial, bagaimana mengelola politik internasional dengan baik, stabil, berkembang ke arah mana?


Perubahan dan Keberlangsungan Tatanan Internasional

Dalam setiap periode selalu ada perubahan politik internasional, kadang baik bahkan bisa memburuk. 


The Westphalian Order of Nation-States

Perjanjian Westphalia (1648) sebagai refleksi dan diproklamirkan sebagai konsep dari politik internasional. pengakuan wilayah dan mengakui kedaulatan yang terjadi di eropa mengakhiri perang yang berkepanjangan karena selisih paham tersebut.


Perubahan Kontemporer dalam Tatanan Nasional

Suatu bangsa tidak akan pernah statis dan akan selalu berubah, perubahan semakin cepat dengan meningkatnya transportasi dan komunikasi, ada 3 jenis perubahan tatanan sosial negara yaitu pertama perubahan batas negara, penggabungan ataupun perpecahan negara dan akan merubah-rubah teritorial maupun pengaruh dari negara-negara lain. Kedua peningkatan perpecahan dan pemisahan, perbedaan kelas sosial dalam suatu negara seperti ethnic, agama, bahasa, wilayah, fungsi dan kelas sosial  telah membentuk solidaritas dan berada pada batas2 negara, bisa jadi karena kesamaan dengan negara tetangga daerah perbatasan-perbatasan ini memiliki kesamaan multikultural dengan daerah negara lain, penyatuan solidaritas ini dapat memperkeruh lepas wilayah. Ketiga peningkatan koneksi internasional maupun nasional dan tantangan dari dominansi internasional yang monocentric, hierarki dan negara kesatuan. Autonomi dan kedaulatan memberikan dampak fundamental pada keamanan, peraturan, migrasi, ekologi, kesehatan, budaya.

Halangan institusi yang menghambat interaksi antara daerah atau wilayah semakin lemah bahkan dihapuskan, membuat integrasi semakin mudah. adapun dampak negatif termasuk relaksasi batas dan halangan untuk bertukar, beberapa ekonomi, budaya dan transaksi intelektual telah membentuk link menyeberangi batas negara karena kemudahaan komunikasi, transaksi dan perjalanan antar batas wilayah.

Intergovernmental dan supranational institusi termasuk birokrasi, pengadilan, parlemen dan komite terkait telah mengembangkan point-point penting dalam menghadapi tantangan tersebut dan membuat sistem peraturan dan identitas. Institusi yang terhubung dalam struktur berbagi norma dan harapan yang berdampak pada otonomi daerah dan membuat semakin sulit memelihara perbedaan yang tajam antara kebijakan luar negeri dan domestik. Hal ini terjadi karena saat ini batas-batas wilayah semakin kabur, masyarakat semakin universal budaya semakin global, etika pun juga sama menyebabkan tidak ada lagi batas-batas yang jelas mengenai masyarakat suatu daerah.


Memahami dan Mengantisipasi Perubahan Tatanan Politik

Teori dalam perkembangan politik  mencoba untuk memahami dan mengantisipasi tatanan dalam politik. Beberapa teori menduga bahwa perubahan tatanan tersebut datang dari d'sign niat. Perubahan tatanan politik internasional juga berdampak pada perubahan tatanan nasional. Konsekuensi meliputi ekonomi, globalisasi, teknologi, migrasi besar, perubahan material dan kekuatan politik, perubahan kemampuan militer. Perkembangan tatanan politik internasional beranggapan bahwa pertumbuhan, adaptasi, elaborasi, kooperasi, konflik dan kompetisi diantara para politikus memimpin kepada tatanan politik baru.

Sejarah masa lalu memberikan sumbangsih atas perubahan yang terjadi, hampir semua orang setuju bahwa perang, penaklukan, pekerja asing akan berkontribusi secara signifikan dalam mengelaborasi dan memodifikasi tatanan politik internasional seperti yang terjadi di masa lalu. Political actor dan pemimpin karismatik dapat merubah tatanan politik tersebut. Gagasan intuitif seperti minat, kekuasaan, dan kebugaran lingkungan membutuhkan pertimbanga elaborasi, kualifikasi dan suplement untuk menyediakan banyak pertolongan dalam memahami politik internasional.

Memahami bagaimana institusi di bangun, bagaimana cara kerja, bagaimana munculnya, cara memelihara, cara mereka berkontribusi dalam memahami kehidupan politik internasional. Pemahaman terhadap sebuah institusi dapat diperoleh dalam old institutionalism dan new institutionalism


Perspektif Institusi

Institusi dalam berbagai macam konteks sulit untuk diprediksi, aturan institusi hanya dapat berjalan stabil pada subjek tertentu dan dalam periode waktu tertentu. Praktik dan aturan yang ditanamkan dalam struktur institusi akan diinterpretasikan  dan dijelaskan dan dilegitimasikan dalam identitas tertentu dan tentu menekan individu untuk bernegosiasi dengan aturan institusi agar dapat dengan tepat dilaksanakan dengan mensosialisasikan ke individu berikut reward dan sanksi agar individu menjaga perilakunya.

Prosesnya dengan mensosialisasikan ,melabelkan, dan merutinkan pelaksanaan. pendekatan institusi ini akan menekankan aturan institusi ke dalam aktivitas manusia dalam organisasi, tatanan sosial dan masyarakat.


Isu: Dasar tindakan

Hal pertama menjadi dasar perilaku manusia adalah interpretasi manusia tersebut terhadap suatu hal. Satu sisi tindakan tersebut dikendalikan oleh logika untuk mengantisipasi dampak yang akan datang dan preferensi sebelumnya. disisi lain ada yang melihat dasar tindakan adalah dikendalikan oleh logika kelayakan/kepatutan dan rasa dari identitas, tapi kebanyakan dari manusia adalah karena pendapat adanya norma dan penggambaran dari element serta rasional logika.

Society yang terbentuk di eropa abad pertengahan dimana norma bourgeois memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibanding rakyat atau kaum bangsawan di inggris atau kelas eropa di masa penjajahan belanda di Indonesia


Logika dari Harapan di Masa yang akan datang

Dasar tindakan dilihat dari harapan dari apa yang manusia bayangkan jika melakukan suatu perbuatan tersebut dengan memperoleh informasi ataupun melihat secara empirik apa yang telah dilakukan orang lain dan memperoleh hasil maka memicu tindakan untuk melakukan dengan harapan dapat memperoleh hasil yang sama. Dalam versi yang kompleks, aktor akan berkoalisi dengan pikiran rasionalnya dan bernegosiasi dalam beberapa perbedaan level secara simultan. Society diubah oleh tindakan individu dalam mengisi dan menjalani aktivitas dan pemikiran rasionalnya.

Pada perspektif ini, sejarah dapat dilihat sebagai konsekuensi dari interaksi pemenuhan keinginan aktor dan dapat dipahami sepenuhnya berhubungan dengan harapan yang akan diperoleh sebagai konsekuensi dari tindakan. Begitu juga dengan kebijakan luar negeri dijelaskan sebagai harapan dari konsekuensi jika kita melakukan kebijakan tersebut. Dengan kata lain tindakan pribadi dipengaruhi oleh tersedianya konsekuensi insentif dengan perhitungan nasional berdasarkan informasi yang dimiliki pada individu. Ide tindakan yang dilakukan individu, organisasi maupun negara diatur dengan perhitungan dari dampak konsekuensi tindakan dan keuntungan dari preferensi sebelumnya, tetapi pandangan ini juga menuai banyak kritik. Secara khusus, dampak konsekuensi tersebut tidak sepenuhnya diketahui manusia ditambah dugaan tersebut tidak dapat diperkirakan secara tepat terutama dampak sosial dari perubahan masyarakat yang dinamis.

Teori yang membatasi rasionalitas dan keambiguan telah memberikan dampak signifikan dalam memodifikasi teori klasik mengenai instrumen rasional (Logika dari konsekuensi). Teori yang memperhitungkan konsekuensi cenderung mengabaikan masalah yang datang dari luar dengan tidak pasti dan selalu berubah-ubah menggunakan beberapa variasi dan asumsi dari harapan rasional. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam memprediksi harapan dan dugaan tersebut juga sangat besar variasi perubahannya sehingga dugaan akan sulit untuk diterapkan. Proses tersebut akan saling mengeliminasi dugaan-dugaan sampai pada putusan terakhir.

Sejalan dengan hal tersebut, dalam melihat politik sebagai pengurai sistem yang komplek ke dalam subsistem yang otonomi, banyak potensi interaksi dihilangkan dan masalah dalam hubungan diantara hierarkis yang setara. Sebelum memulai perundingan dengan negara lain, tentu kesepakatan dialog dari masyarakat setempat perlu dimatangkan sampai pada putusan final sebelum diperdebatkan pada tingkat antar negara. Pembahasan di dalam tersebut menjadi bagian penting dalam sebuah keputusan negara dalam kancah perang internasional. Dalam kesepakatan yang dibuat negara tentu aktor-aktor politik akan membuat keputusan melibatkan interpretasi dan harapan atas tindakan tersebut.


Logika Kesesuaian

Logika konsekuensi mengabaikan hal penting dari aturan identitas, norma-norma dan institusi yang mengatur perilaku manusia. Perilaku manusia akan sangat mempertimbangkan norma-norma dan institusi dalam waktu dan situasi tertentu dan hal ini seringkali membuat dilema ketika kita akan melakukan sesuatu tetapi berbenturan dengan norma yang ada, misal fokus menuntut ilmu tapi ada norma yaitu kewajiban menafkahi keluarga. Mengejar tujuan akan sangat mengedepankan pertimbangan identitas dan aturan di banding hanya harapan rasional semata.

Kesesuaian tidak membutuhkan kehadiran konsekuensi, tapi melibatkan kognitif dan dimensi etika, target dan aspirasi. Seperti logika konsekuensi, logika kesesuain secara eksplisit adalah logika yang melatarbelakangi tindakan manusia. secara spesifik adalah seperti mode dari tindakan atau penilaian seseorang. Para sarjana sepakat untuk menempatkan konsekuensi cenderung melihat sistem internasional yang melibatkan autonomi, egois, rasional. identitas dan aturan adalah pokok seperti regulasi yang dibentuk dari interaksi sosial dan pengalaman. Gambaran dari sosial internasional seperti aturan dalam kontinuitas dan aturan main yang sangat erat kaitannya dengan budaya sosial dan pemahaman antar subjek dan rasa


Hubungan Antara Kedua Logika

Walaupun antara logika konsekuensi dan logika kesesuaian seperti dalam 2 sphere atau dua dimensi yang berbeda, keduanya tetap berjalan simultan dengan perhitungan masing-masing individu. Ada 4 interpretasi dari kedua logika tersebut. 

  1. Asumsi logika yang jelas akan mendominasi logika yang kurang jelas. ini terkait apakah informasi logika harapan lebih jelas akan mengambil alih logika kesesuaian begitu juga sebaliknya.

  2. Interpretasi membedakan keputusan utama dengan sedikit penyempurnaan, argument ini mengenai logika digunakan untuk mendirikan hambatan utama untuk keputusan dan logika yang lain untuk penyempurnaan hambatan. Penggunaan logika konsekuensi yang utama dan logika kesesuaian untuk penyempurnaan ataupun sebaliknya

  3. Interpretasi melihat hubungan tindakan logis dan aturan berdasarkan tindakan sebagai pengembangan. Salah satu perbedaan antara dasar konsekuensi tindakan (instrumental) dan aturan tindakan (identitas). Dukungan dari basis tindakan ini selalu berubah-ubah sepanjang waktu dan pola nya dapat diprediksi sehingga pengguna basis tindakan ini dapat dilaksanakan pada situasi-situasi tertentu dan berdasarkan pengalaman, dan basis tindakan yang digunakan juga silih berganti sesuai situasi tersebut.

  4. The fourth interpretation sees either logic as a special case of the other.5" Students of action who are wedded to a logic of consequences, for example, believe that all action is consequential. They picture rules as instruments resulting from prior consequential negotiation.52 From this point of view, rules and identities are simply devices that minimize transaction costs in the implementation of consequential action. Students of action who are wedded to a logic of appropriateness, on the other hand, assume that all action involves rule following.53 They see consequential logic and personal interest calculations simply as rules of a particular form that are associated with specific identities and situations.



Historikal Efisiensi

Bagi mereka yang menganggap sejarah adalah sebagai bagian dari efisien dianggap postulat dalam mekanisme kompetisi untuk bertahan. Aktor politik berkompetisi untuk sumber daya dan keunggulan, dan pada akhirnya mengeliminasi aktor yang gagal dalam pencapaian optimal dalam alokasi sumber daya dan strategi. Sejarah menentukan oleh bentuk prediksi, dan kondisi utama dari lingkungan. Efficient history perspective melihat hasil dari politik, termasuk dinamika tatanan politik seperti tersirat dalam hambatan lingkungan. kompetisi untuk bertahanan dilihat sebagai  paksaan atas struktur sosial untuk konsisten dengan kondisi lingkungan.


Inefficient Histories

Menekankan pada kutub yang lambat beradaptasi dengan perubahan lingkungan sehingga sulit untuk mencapai optimalisasi. Tekanan untuk bertahan secara sporadik di banding konstan, kacau di banding tepat dan variasi lingkungan dalam sejauh mana mereka menentukan hasil. Lingkungan beradaptasi dengan institusi dan pada saat yang sama institusi beradaptasi dengan lingkungan. institusi akan berevolusi dan terjalin ekologi dari kompetisi, kooperasi dan bentuk lain dari interaksi, lebih jauh institusi adalah sarang, maka beberapa institusi yang beradaptasi menjadi satu bagian dengan lain institusi adapter lainnya, pada akhirnya ide dari ketidakefisienan sejarah menempati tekanan yang besar atas cara yang hasil-hasil sejarah yang terungkap mengubah premis-premis tindakan.


Empat Perspektif

Dua isu dari logika tindakan dan efisiensi sejarah dibagi kedalam 4 kelompok, 

  1. menekankan pada melihat tindakan tergantung dari logika konsekuensi dan melihat sejarah sebagai efficient. Pandangan ini melihat sejarah sebagai hasil dari interaksi antara konsekuensi individu, grup, organisasi atau negara untuk mencari realitas sebanyak mungkin dalam  jaringan preferensi individu tetapi secara collective bertentangan dengan fakta bahwa tidak semua orang dapat memiliki apa yang diinginkannya. Fluktuasi kekuatan institusi internasional dan rezim mencerminkan perhitungan dari kepentingan pribadi untuk mencoba menyelesaikan masalah bersama dan memperoleh efisiensi melalui pertukaran sukarela, kontrak maupun perjanjian. hasilnya tergantung kemampuan memenmumkan pengempangan pareto, melawan balik kegagalan pasar, mengurangi biaya transaksi, dan konflik kepentingan yang berlebihan.

  2. Lebih menekankan pada tindakan berbasis logika konsekuensi tetapi dengan inefficient sejarah. Hasil dari tindakan ini tergantung faktor yang menjadi perhatian dan kemungkinan interaksi yang tidak diprediksi dari kondisi lingkungan. Hasilnya menentukan bagian dari sejarah dengan cara membuat konsekuensi sejarah bergantung, sebagai tambahan, minat dan sumber daya berkembang dari hasil dari sejarah. 

  3. Menekankan aksi berdasarkan logika kesesuain dan sejarah yang efisien, banyak pekerja oleh institusi ekonomi dan beberapa institusi sosial. Tindakan berdasarkan aturan dasar, bagaimanapun juga aturan, norma, identitas, bentuk organisasi dan institusi yang ada ada adalah produk tak terhindarkan dari sejarah yang efisien. Institusi yang bertahanan di lihat secara unik cocok dengan lingkungan kemudian memprediksi dari lingkungan.

  4. Mempelajari tindakan berdasarkan logika kesesuaian tetapi melihat sejarah dengan ketidak efisienan. pekerjaan yang berevolusi menjadi ekonomis yang menekankan pada proses evolusi dibanding menciptakan hasil. aturan, norma, institusi dan identitas yang mengatur tindakan manusia dilihat sebagai perkembangan  dalam cara tidak dapat diprediksi dari kondisi lingkungan utama. 


Evolusi dari Politik dan Institusi

jika secara efisien, maka praktik politik akan menyesuaikan dengan cepat dan unik saat ini, faktor eksternal menentukan keinginan dan kemampuan. sejarah tidak efisien dalam nalar, bahkan institusi relatif keras melawan perubahan lingkungan atau menyampaikan reform dan keinginan dan kemampuan untuk berevolusi secara praktis akan berdampak. 

Ilustrasi 1 : keterikatan dan pengembangan identitas

story pertama, identitas muncul dalam cara yang tidak terkoneksi dengan kehidupan politik. 

Story ke 2,berlawanan aktor politik lunak dan tunduk dengan politik, kemunculan, perkembangan, dan penyebaran pemahaman , identitas , minat dan lembaga ditajamkan dengan interaksi dan keterlibatan aktivitas politik.

Story ketiga, aktor politik terlihat diciptakan dari interaksi politik, tetapi hubungan digambarkan memperburuk perbedaan internasional, lebih mempertajam perbedaan dibanding menghilangkannya, memberdayakan antagonisme, berlawanan dari pandangan dunia dan berprasangka dibanding memadamkannya.


Menciptakan Internasional Identitas Yang Tersampaikan

Contonya misal atribut UE/Unie Eropa sebagai kampanye identitas negara eropa saat ini, beberapa organisasi internasional juga membuat indikator untuk menciptakan identitas seperti OECD


Membuat identitas internasional secara tidak sengaja

International identitas akan berkembang dari orientasi domestik demokrasi dan identitas dalam politik internasional. Dalam pemerintahan demokrasi rule base internasional masih ditaati walau logik rasional sebaiknya melakukan tindakan seperti contoh ketika inggris tidak menggunakan kekuatan angkatan launtua untuk menghancurkan kapal-kapal jerman yang membawa bijih besi dari norwegia karena secara aturan melanggar perjanjian internasional, negara democratic lebih mentaati tata aturan tersebut. Dalam dunia demokrasi, tension antara ahli dan politik selalu saja  terjadi sejak zaman yunani. sulitnya para expert memberikan pengetahuan mereka karena aktor politik tetap yang membentuk, atau bagi siapa yang dapat mengumpulkan follower, pengetahuan expert dapat tak dipakai karena satu suara nilainya sama dalam dunia demokrasi


ilustrasi 2 : keterikatan dan pengembangan kemampuan

Aktor politik mengakumulasi pengalaman dengan institusi, praktik dan aturan seperti mereka menyelidiki dan beradaptasi dengan lingkungan mereka dan untuk mengubah kemampuan menggunakan in, praktik dan aturan melalui proses pembelajaran, interpretasi, alasan, pendidikan, meniru, dan adaptasi.


Perangkap kompetensi dan keseimbangan ganda

Pengaturan politik menjadi lebih efisien jika aturan dihilangkan dan aktornya menjadi lebih kompeten dalam menjalankan operasional. efisiensi bagaimanapun juga akan menjadi musuh dalam adaptasi. kecenderungan bagi sistem untuk menjadi usaha yang terkunci kedalaman struktur aturan dasar. disatu sisi efisiensi akan menjadi standar yang telah diterapkan pada sistem tetapi akan sulit jika ada perubahan lingkungan efisiensi akan kembali menjadi tidak efisiensi apabila tidak dirubah. .


Competence and the transformation of objectives.

kemampuan dapat memberikan perubahan, memberikan solusi dari masalah untuk mencapai tujuan.


Perbedaan Penekanan

Perbedaan perspektif yang berasumsi tindakan berdasarkan identitas atau institutional perspektif dan ineficient history dan conventional perspektif yang tindakan atribut untuk menghitung dari konsekuensi dan kendala lingkungan


Kesimpulan

Sejarah panjang dalam tatanan politik internasional sangat kompleks sehingga tidak cukup teori yang dapat memuaskan. saling berhubungan dan saling ketergantungan negara-negara di dunia menciptakan sejarah yang merubah kondisi lingkungan dan tidak secara otomatis atau secara tidak ambigu merefleksikan perubahan tatanan politik dan peraturan institusi dan apa yang terjadi pada tatanan internasional merupakan bagian dari interaksi tiap-tiap negara, atau politik yang berkembang di negara masing-masing.

Sejarah menciptakan ekologi yang complicated dan tindakan lokal yang adaptif. sebagai individu, grup, organisasi dan institusi mencari untuk berperang secara cerdas dan belajar perubahan dunia yang melibatkan kesamaan lain dan mencoba beradaptasi, mereka menciptakan koneksi yang menundukkan niat individu untuk interaksi mereka. Adaptasi lokal menuntut ecology ketergantungan dan tindakan rasional berdasarkan harapan atau konsekuensi dan berdasarkan aturan untuk membuat identitas dengan lingkungan yang mempengaruhi secara unik. Ekspektasi, preferensi, identitas dan arti berdampak pada hubungan manusia dan pengalaman. mereka berevolusi menjadi tindakan yang mereka produksi.bApa yang terjadi merupakan proses panjang dari sejarah, perang dunia, perang dingin, penyatuan eropa dan pembaharuan kekuatan etnik nasional. pembelajaran hubungan internasional seperti ilmu sosial, adalah cabang dari sejarah dan  sejarah mengenai harapan.

Gambar 1, melengkapi gagasan tindakan konsekuensial, preferensi eksogen, dan sejarah efisien dengan gagasan tindakan berbasis aturan dan identitas, sejarah tidak efisien, dan kekokohan kelembagaan. Digunakan untuk menafsirkan pengamatan sejarah yang cermat dan deskripsi perilaku dan peristiwa, perspektif seperti itu memberikan dasar untuk kompromi cerdas antara rendering sejarah sederhana yang tidak konsisten dengan realitas dan rendering kompleks yang tidak konsisten dengan kapasitas manusia untuk pemahaman.