Senin, 03 Oktober 2022

Bab 8 Teori Relasi Manusia Memadukan Individu dan Organisasi

 Bab 8

Teori Relasi Manusia

Memadukan Individu dan Organisasi

(Michael M. Harmon) dan (Richard T. Mayer)

Efisiensi, apa yang mempengaruhi selain efisiensi

Beberapa ahli mengenalkan model seperti Sistemik (a La James D. Thompson), Produktivitas (Frederick Winslow Taylor), Organisasional (Chester Barnard), dan Birokrasi (Max Weber). dalam konteks organisasi bahwa organisasi sama seperti individu yang memiliki rasionalitas tersendiri, tetap rasionalitas ini tentu diciptakan oleh individu-individu yang bersepakat dan telah jelas arahnya sedangkan rasionalitas individu-individu yang bekerja pada organisasi harus menyesuaikan kondisi tersebut.

Eksperimen Hawthorne menunjukkan bagaimana perilaku pekerja dapat dimanipulasi untuk memajukan tujuan organisasi. Dalam perspektif keputusan menjelaskan bagaimana rasionalitas individu disesuaikan dengan rasionalitas organisasi. selama ini organisasi atau perusahaan hanya fokus pada efisiensi tujuan organisasi dan mengabaikan individu atau pekerjanya padahal individu suasana dan konsep hubungan individu pekerja sangat penting dalam mencapai tujuan organisasi.

Adaya relasi manusia dalam mempengaruhi tindakan di kembangkan dalam psikologi humanistik seperti Abraham Maslow, McGregor, Chris Argyris, Warren Bennis, Rensis Likert dan Frederick Herzberg. ada 4 dalil utama yang tercermin dalam tulisan teoritisasi relasi manusia yaitu:

  1. Teori relasi manusia yang menantang asumsi-asumsi manusia yang mendasari tentang hakikat manusia dan maksud hakikat organisasi yang implisit di dalam teori-teori organisasional.

  2. Teori relasi manusia yang belakangan berpedoman pada kepercayaan bahwa ada suatu ketegangan fundamental antara kebutuhan individu dan organisasi.

  3. walaupun berbeda alasan melakukannya, para teoritisi relasi manusia memperjuangkan ide tentang demokrasi organisasional

  4. ada ketegangan antara teori relasi manusia yang baru dan yang lama mengenai administrasi publik. ketegangan ini mengenai konsepsi yang berlawanan mengenai administrasi demokratis

  5. prinsip teoritis relasi manusia yang baru dipandu oleh keyakinan implisit pada kebijakan intrinsik organisasi demokratis.


Perdebatan Argyris / Simon

Teori berhubungan dengan manusia dipengaruhi intrinsik dan moralitas. hal ini berkaitan dengan nilai-nilai pada organisasi. “didalam dunia Dionysian-Argyris, akal adalah belenggu kebebasan manusia rasional dingin, di batasi, dan tak mampu beraktualisasi diri dan mencapai pengalaman-pengalaman puncak. untuk mencapai pengalaman tersebut manusia harus meninggalkan akalnya dan menanggapi dorongan hati untuk bebas. Dalam dunia Apollonian, akal adalah hamba kebebasan dan kreativitas. akal adalah alat untuk dapat memimpikan dan merancang pengalaman-pengalaman puncak. Akal memungkinkan menciptakan lingkungan yang dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan sehingga dapat mengalami kesenangan indera dan pikiran yang lebih dalam”. 

Organisasi masih mengedepankan rasionalitas realitas sosial sebagai suatu kebutuhan pragmatis dan teoritis, penggunaan instrumental rasional selalu digunakan dalam menangani masalah organisasi.dan tindakan instrumental rasional ini memperkuat dan menekankan impersonalitas hubungan dalam organisasi maupun organisasi lain dengan lingkungannya. semua tindakan berdasarkan untuk rugi dan perhitungan perilaku sehingga individu dalam organisasi layaknya sebuah mesin yang sudah terprogram.


Dalam Buku The Functions of The Executive, Chester Barnard mengukuhkan organisasi sebagai sistem kerja sama alamiah, dimana kolektivitas bersama diutamakan walau masih dilatarbelakangi rasional individu. keseimbangan terjadi antara rasional organisasi dan kekuatan rasional individu untuk mencapai hasil yang optimum.


Abraham Maslow

Dalam Eupsychian Management diterbitkan tahun 1965, menerangkan mengenai psikologi manusia dalam memenuhi kebutuhan psikologisnya pada level individu. Sistem yang dikembangkan maslow lebih natural dimana susunan kebutuhan dan motivasi dalam suatu hierarkis dimana pemenuhan hirarkis dasar lebih kuat dari hirarkis diatasnya karena memenuhi kebutuhan alamiah dan biologis terlebih dahulu. lima level hirarki kebutuhan dari dasar adalah fisiologis (sandang, pangan, papan), Keselamatan (kebebasan dari kerusakan fisik), Cinta (hasrat kasih sayang seperti keluarga, sahabat dan rekan), penghargaan (pengakuan yang diberikan orang lain atas kompetensi, prestasi dan seluruh nilai pribadi), aktualisasi diri (kebutuhan untuk menunjukan potensi bawaan seseorang).

Menyesuaikan strategi kebutuhan pegawai akan membantu organisasi meningkatkan efektivitasnya, karyawan yang berada pada pencapaian penghargaan dan aktualisasi diri akan membuat efektifitas organisasi semakin baik. partisipasi individu dalam organisasi dalam aktualisasi diri dapat menciptakan demokrasi organisasional terlepas dari ikatan kontrak sebagai karyawan apabila sudah memiliki hubungan yang kuat dengan organisasi. 

Elitisme mengubah kepercayaan yang tampak tak tahu malu akan kebaikan esensi hakikat manusia. mereka yang berada di puncak merasa menjadi manusia superior. tidak melibatkan demokratis dan merasa diri paling benar dan semua organisasi tergantung padanya. mereka yang terjebak dengan tanggung jawab dan kekuasaan sehingga menjadi berbuat yang hanya menyenangkan baginya serta membuang yang menjengkelkan.


Sisi Manusiawi Perusahaan: Douglas McGregor

Teori X dan Y McGregor, dimana diringkas menjadi tiga dalil yaitu:

  1. Manajemen bertanggung jawab untuk mengorganisir unsur-unsur perusahan yang produktif

  2. Proses manajemen untuk mengarahkan usaha-usaha pegawai, memotivasi, mengendalikan tindakan, memodifikasi perilaku untuk memenuhi kebutuhan organisasi

  3. tanpa campur tangan aktif oleh manajemen, orang akan pasif, bahkan menentang. sehingga perlu strategi penempatan, diupah, dibujuk, dihukum, dikendalikan, dan diarahkan

Menurut McGregor, Teori X adalah teori yang menganggap seseorang dalam melakukan sesuatu tindakan  atau pekerjaan yang bertentangan dengan intrinsik seseorang yang berakibat pada perilaku seperti:

  1. Pemalas dan bekerja sekecil mungkin

  2. Kurang berambisi, tidak suka bertanggung jawab dan lebih suka dipimpin

  3. Mementingkan diri sendiri dan acuh tak acuh terhadap kebutuhan organisasi

  4. secara alamiah menolak perubahan

  5. mudah tertipu, tidak cerdas dan mudah dihasut


McGregor melihat pendekatan teori X sebagai pegawai yang jiwa nya tertidur dan memerlukan peningkatan kebutuhan seperti dalam istilah Maslow sampai ke tingkat tertinggi aktualisasi diri. Manajemen yang gagal membuat pegawai akan terus berada pada level X sedangkan manajemen yang berhasil membuat pegawai menjadi Teori Y dengan dalil sebagai berikut:

  1. Manajemen bertanggung jawab untuk mengorganisir unsur-unsur usaha produktif

  2. orang secara alamiah tidak pasif sehingga harus diberdayakan

  3. motivasi, potensi untuk berkembang, kemampuan memikul tanggung jawab, kesedian mengarahkan perilaku kepada tujuan-tujuan organisasional 

  4. Tugas hakiki manajemen adalah menata kondisi dan metode operasi sehingga orang-orang dapat mencapai tujuan mereka sendiri


Teori Y menggambarkan misi individu dan organisasi sudah berjalan, sehingga individu mengejar pencapaiannya sekaligus mencapai tujuan organisasi. salah satu contoh praktik manajemen merubah teori X menjadi Y adalah dengan pendelegasian dan desentralisasi. manajemen yang baik juga harus mampu membangkitkan intrinsik pegawai dan menempatkannya pada situasi yang membuat intrinsik tersebut menjadi aktif sehingga dapat mendorong kepada teori Y. pemanfaatan hierarkis Maslow juga dapat mendorong pergeseran dari teori X ke teori Y.


Menggabungkan Individu dan Organisasi (Chris Argyris)

Argyris memandang ketegangan antara individu dan organisasi lebih disebabkan oleh keperluan organisasi untuk rasionalitas dan spesialisasi berbeda dengan McGregor yang menekankan sebagai teoritis manajemen. Argyris mengidentifikasikan empat imperatif untuk perkembangan individu dalam hubungannya dengan organisasi formal yaitu:

  1. Mengurangi perasaan ketergantungan, ketundukan, subordinasi, dan kepasifan kepada manajemen

  2. Mengurangi kemungkinan bahwa menjadi subjek tindakan unilateral sewenang-wenang orang yang berkuasa dan menemukan kesempatan untuk lebih bertanggung jawab kepada diri sendiri.

  3. mengungkapkan perasaan terpendam yang disebabkan oleh organisasi formal, kepemimpinan yang bersifat mengarahkan, pengendalian manajemen dan program-program relasi manusia yang berpura-pura

  4. Menciptakan dunia informalnya sendiri dengan kebudayaan nilai-nilai  dimana menemukan naungan psikologis dan jangkar yang kokoh untuk dapat menset dan memelihara stabilitas organisasi formal. dengan menciptakan dunia informal, maka dapat mengambil peran aktif dalam mempengaruhi organisasi formal.


Argyris menentang Weber maupun Taylor seperti contoh Spesialisasi, dimana makin sedikit kemampuan seseorang maka semakin sederhana kemampuan yang dipergunakan padahal manusia memiliki kecenderungan untuk berkembang dan pekerjaan-pekerjaan yang lebih kompleks. sama seperti otoritas hirarkis menghambat kebutuhan otonomi dan pengarahan diri pada individu.


Perkembangan Organisasi

Komunikasi yang terdistorsi, agenda tersembunyi, pertahanan psikologis, kesibukan dan tugas-tugas substantif, maupun kondisi dan situasi tiap individu membuat orang-orang dalam organisasi sering lupa pada patologi yang melekat dengan cara dan hubungan satu sama lain. sehingga memerlukan ahli untuk melakukan pencegahan atas hal ini. 

Teori yang didukung atau basic teori dalam mengambil keputusan sedangkan yang diputuskan berbeda sesuai teori keputusan. Robert Denhardt dalam dilemanya yaitu: manajer memiliki kepentingan pribadi dalam kehidupan organisasi dan menganggap diri dalam posisi berkuasa, mempunyai andil dalam status quo. manajer harus memilih untuk bertindak secara otoritatif untuk melestarikan organisasi ini sebagaimana adanya atau bertindak secara demokratis untuk membantu dalam mengubah norma-norma kelompok.


Demokrasi tak Terelakkan : Warren Bennis

Kritik Bennis mengenai mendamaikan kebutuhan individu dan organisasi dimana menurut Bennis adalah sebuah Solusi Utopis. dimana mendamaikan tersebut dengan mengubah individu menjadi Y dengan aktualisasi diri. menurut Bennis aktualisasi bersifat kabur dan motivasi individu sebenarnya jauh lebih diperumit karena faktor-faktor situasional yang tidak dapat diantisipasi oleh teori tersebut. Diera teknologi yang sangat cepat berubah demokrasi adalah suatu : iklim kepercayaan” yang meliputi hal-hal berikut:

  1. Komunikasi penuh dan bebas tanpa memandan jenjang kekuasaan

  2. lebih mempercayai konsensus

  3. pengaruh lebih didasarkan pada kompetensi teknis dan pengetahuan

  4. Atmosfer mengizinkan dan bahkan mendorong ungkapan-ungkapan emosional dan juga tindakan-tindakan yang berorientasi tugas

  5. Menerima ketidak elakan konflik antara organisasi dan individu tetapi bersedia mengatasi dengan menengahi konflik berdasarkan landasan rasional.


Humanisme Organisasional dan “Administrasi Publik Baru”

Keterlibatan individu atau demokratis organisasi. Nilai utama dari demokrasi organisasi adalah partisipasi sedangkan di sisi lain para tradisionalis administrasi publik menekankan akuntabilitas dalam organisasi publik. Simbol upaya menggabungkan konsep politk dan organisasi atas demokratis organisasi ditentukan oleh lima tema utama, antara lain:

  1. Membahas keprihatinan yang luas tentang relevansi pengajaran administrasi publik pada iklim politik dan timbulnya gerakan-gerakan hak sipil. kritik diarahkan khusus pada ajaran yang memperkuat etika netralitas untuk pada administrator.

  2. Post Positivisme, kekecewaan terhadap premis-premis teoritis yang mendasari riset ilmu sosial

  3. Adaptasi terhadap pergolakan lingkungan, mencerminkan penggabungan tiga unsur yaitu perhatian terhadap isu-isu sosial politik yang menekan, keprihatinan yang muncul dalam literatur pengembangan organisasi, dan isu-isu yang muncul di dalam literatur sistem terbuka

  4. Bentuk-bentuk organisasi baru, beberapa model seperti organisasi temporer dan model kemitraan lebih disukai dibanding model birokrasi weber.

  5. Organisasi berfokus Klien, pergeseran model swasta, mengambil inspirasi dari partisipasi warga dan psikologi humanistik


Organisasi publik memiliki peranan dalam mewujudkan keadilan sosial. Organisasi publik harus dinilai dari segi efek dari produksi dan distribusi keberlimpahan material dalam usaha mensejahterakan semua orang.


Efisiensi dan Efektivitas

Peraih nobel ibu Teresa pernah ditanya oleh senator Mark Hartfield mengenai pengorbanan melayani kaum miskin di kalkuta sebuah kota kecil dan usaha pengurangan kemiskinan tersebut sangat kecil sekali di mata dunia tetapi beliau menjawab “tuhan tidak memanggilku untuk sukses tetapi memanggilku untuk setia”.

Cerita lain datang dari usaha burung pipit yang dengan paruhnya yang kecil membawa air untuk memadamkan kobaran api yang sangat besar yang membakar nabi Ibrahim dimana tindakan burung pipit tersebut di tertawakan oleh Cicak dan mengejeknya sebagai usaha yang sia-sia tetapi burung pipit tidak menghiraukan cicak dan menjawab cicak bahwa “aku tahu bahwa aku tidak akan mungkin memadamkan api yang maha besar tersebut tapi aku yakin bahwa Allah tahu kemana aku berpihak”


Hubungan antara Keberhasilan dan Keyakinan

Para teoritis dan praktisi perilaku organisasional tampak ambivalen tentang prioritas relatif keyakinan dan keberhasilan. Di Sisi keberhasilan berdiri para pendukung teori kontingensi dengan menyatakan pencapaian efektif tujuan sebagai standar kebaikan dan kebenaran mereka, para teoritisi kontingensi sudah bersedia menerima apapun yang ditunjukan riset dengan perasaan yang tampak yakin, sementara di sisi Keyakinan berdiri mereka yang memiliki kepekaan Kantian atau religius yang menghalangi arbitrasi metode ilmiah dan meyakini sifat serta pertolongan Tuhan dengan keyakinan penuh.

Mereka yang berdiri pada sisi Keberhasilan ada yang jelas pada posisi tersebut ataupun jelas pada posisi keyakinan dan ada juga yang berada di posisi keduanya. Sudut pandang keyakinan jelas riset ilmu sosial tidak dapat memberikan jawaban.


Hak dan Kecukupan Proses

Pada dasarnya individu juga bertanggung jawab secara sosial, konflik individu dan organisasi dapat dihindari dengan mendamaikan orientasi psikologis dari relasional individu. Dalam pendapat LaPorte menekankan hak kesempatan untuk pertumbuhan pribadi harus diperluas kepada seluruh penduduk dan juga kepada anggota organisasi. Robert Golembiewski mengmebangkan nilai-nilai yang dikaitkan dengan etika Judei-Kristen :

  • Pekerjaan harus diterima secara psikologis oleh individu

  • Pekerjaan harus memungkinkan manusia mengembangkan kemampuannya

  • Tugas pekerjaan harus memberikan ruang bagi individu untuk menentukan nasib sendiri

  • Pekerja harus mempunyai kemungkinan untuk mengendalikan dengan cara yang bermakna 

  • organisasi tidak boleh menjadi wasit perilaku satu-satunya dan terakhir, baik organisasi maupun individu harus tunduk pada suatu tata tertib moral eksternal


Masalah utama bukan terletak bahwa administrasi tidak efisien dalam melaksanakan tugasnya, lebih tepatnya lantaran efisiensinya birokrasi menghalangi warga negara individualnya untuk menentukan nasib mereka secara kooperatif, seefisien apapun birokrasi dalam melayani warga negara bila hal itu ditafsirkan sebagai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya maka ia gagal bila kepentingan itu didefinisikan dalam istilah proses.

Bachrach menjelaskan bahwa lembaga-lembaga politik dan administratif di dalam suatu demokrasi harus mewakili kedua jenis kepentingan yaitu minat proses dalam partisipasi politik dan minat hasil akhir keputusan politik.


Bab 9 Teori Pasar: Berorganisasi Sebagai Kepentingan Diri yang Diungkapkan

Bab 9

Teori Pasar: Berorganisasi Sebagai Kepentingan Diri yang Diungkapkan

(Michael M. Harmon) dan (Richard T. Mayer)

Teori Pasar Berorganisasi mengarah kepada utilitarianisme yaitu suatu paham yang etis-etika yang menempatkan tindakan-tindakan yang dapat dikatakan baik adalah yang berguna, memberikan faedah (manfaat), dan menguntungkan, sedangkan tindakan-tindakan yang tidak baik adalah yang memberikan penderitaan dan kerugian. Teori ini dikembangkan oleh David Hume, Thomas Hobbes, Jeremy Bentham dan John Stuart Mill.Peran akan dibatasi sebagai pengarah tindakan-tindakan manusia yang secara mendasar diperintah oleh nafsu-nafsu. PAra utilitarian berpandangan bahwa pengalaman bukanlah refleksi abstrak akan tetapi komitmen terhadap empirisme dan kepercayaan kepada pendekatan ilmiah.

Ada lima wawasan dasar yang diperoleh dari asumsi kepentingan diri dan bersama atas pandangan teori pasar yaitu:

  1. Pilihan individual pada dasarnya adalah basis bagi tindakan organisasional atau kolektif. tindakan tersebut merupakan gabungan dari tindakan individu

  2. PIlihan-pilihan individu adalah ungkapan preferensi individu yang berbeda dan saling bertentangan satu sama lain. oleh karena itu konflik yang ada pada kehidupan sosial diselesaikan dalam organisasi yang berperan sebagai alat.

  3. Dibutuhkan yang bertindak seperti hakim yang memutuskan preferensi yang bertentangan

  4. Perbedaan dalam preferensi individual dan group , keterbatasan waktu dan sumber daya cenderung menghasilkan strategi satisfacting ketimbang atraksi memaksimalkan yang dilakukan oleh pembuat keputusan

  5. strategi yang memuaskan menghasilkan keputusan yang berbeda dari segi peningkatan jumlah ketimbang dari segi fundamen dari keputusan situasi terdahulu.

Dalam dua buku yang membahas teori pilihan publik yakni The calculus of Consent (James M. Buchanan) dan The Intellectual Crisis in American Public Administration (Gordon Tullock). Teori pilihan publik didefinisikan sebagai studi ekonomi atas pembuatan keputusan non-pasar atau penerapan ekonomi ke dalam ilmu politik. teori ini memberikan pembaharuan pada pemerintah dan memberikan perhatian yang besar kepada isu-isu administratif yang efektif dan efisien.

Tindakan politik juga diambil dari tindakan Individu atomistik yang termotivasi dan mempunyai tujuan sendiri. karena itulah metode individualisme meresapi literatur pilihan publik tetapi asumsi individualisme bukan hanya sekedar teori tetapi filosofis kepada nilai-nilai politik tertentu. Dalam tradisi utilitarianisme dan liberal Amerika mencakup pilihan individu yang bebas, memaksimalkan manfaat individu, kerjasama ketimbang paksaan dalam hal membutuhkan tindakan-tindakan kolektif.

Meskipun pilihan publik menunjukkan dengan jelas ada lembaga-lembaga pemerintah yang tertib dan efisien, pembelaaan nilai-nilai kolektif tidak didasarkan pada perhatian keberlangsungan sistem seperti pada teori sistem arus utama tetapi ketertiban hanya sebagai prasyarat untuk memungkinkan pilihan individu yang bebas dalam konteks yang agak stabil dan efisiensi adalah ukuran persamaan yang mengukur manfaat bersih individual. singkatnya kriteria nilai untuk mempertimbangkan kebaikan lembaga ditentukan oleh sejauh mana ia mendorong kebebasan dan kemanfaatan diantara kumpulan individu. Antara kemerdekaan individu dan stabilitas ketertiban sosial disepakati dalam konstitusi.

Dalam pandangan barat Individu merupakan entitas filosofi utama sehingga pandangan yang menganggap individu hanya semata-mata hanya dilihat dari sumbangannya kepada pemenuhan kebutuhan sistem. Individu dapat saja berpura-pura menjadi komunitarian tetapi maksud didalamnya hanya pada kepentingan individu. dama diri individu selalu berbeda-beda karena pengetahuan yang tidak sama. 


Biaya Tindakan Kolektif

Biaya Kolektif walau lebih mahal tapi pemanfaatan tidak dapat tercapai jika menggunakan biaya pribadi, walau secara keputusan biaya pribadi dapat lebih tepat sasaran tetapi ada batas biaya pribadi tidak akan seimbang dengan biaya kolektif dan pemanfaatan yang dirasakan juga. aturan terbaik untuk membuat keputusan kolektif adalah kebulatan suara. Teknik yang dapat dipakai dalam mencapai kebulatan ini adalah melalui mekanisme perdagangan, yaitu penawaran dan penjualan dimana mencari titik tengah kesepakatan bersama yang kembali pada masing-masing individu.

salah satu contoh dari penerapan teknik perdagangan ini adalah sebagai berikut:

“seorang pejabat perumahan ditugaskan untuk memberikan enam rumah kepada 10 masyarakat yang kurang mampu, karena ketersediaan rumah saat ini baru 6 rumah sedangkan masyarakat tak mampu yang sudah memenuhi syarat ada 10 sehingga terjadi dilema siapa saja yang berhak menerima dari 10 orang tersebut. akhirnya pejabat tersebut membagikan 60 voucher kepada 10 keluarga yang berhak, masing-masing keluarga memiliki 6 voucher dan untuk mendapatkan 1 rumah butuh 10 voucher, masing-masing keluarga dapat menjual atau membeli voucher dengan keahlian atau uang yang mereka miliki dari keluarga lain, mereka yang menjual voucher dapat bertahan dengan mencari sewa hasil penjualan vouchernya tersebut. tawar menawar ini memberikan solusi bersama dalam keputusan kebijakan publik”.

“Teknik yang digunakan nabi Muhammad S.A.W dalam memindahkan batu hajar aswad berbeda lagi, ketika para kepala suku merasa berhak memindahkan batu suci tersebut terjadi perdebatan karena nilai mengangkat batu tersebut sulit untuk dijadikan pikiran material yang dapat diperdagangkan. pada akhirnya nabi membentangkan kain dan memindahkan batu tersebut diatas kain dan mengajak para kepala suku untuk memegang kain yang diatasnya terdapat batu suci tersebut untuk dipindahkan”.


semakin besar keberagaman melalui desentralisasi pelayanan-pelayanan kotapraja di dalam suatu wilayah geografis, semakin besar kesempatan warga negara untuk memilih dengan kakinya.


Pilihan Publik dan Administrasi Publik: Vincent Ostrom

Susunan organisasi dapat dianggap tak lebih dan tak kurang daripada susunan pembuatan keputusan. Susunan keputusan menetapkan syarat dan kondisi untuk membuat pilihan.Osborne mengkritik tokoh-tokoh utama paradigma klasik seperti ide-ide Woodrow Wilson, Max Weber, Luther Gulick, dan Herbert Simon. 

Woodrow Wilson menjelaskan bahwa dalam semua pemerintahan, baik demokratis maupun otokratis, pasti selalu ada pusat dan sumber kekuasaan tunggal, pada saat yang sama sumber kekuasaan itu terpecah-pecah dan semakin tak bertanggung jawab. misal menurut wilson sumber kekuasaan politik di Amerika terletak pada Kongres. tetapi tidak peduli dimana kekuasaan berada, prinsip-prinsip administrasi sudah dipandang baik secara universal dan akan tetap digunakan oleh siapapun agar menjadi titik terang pelaksanaan dan pertanggungjawaban . tetapi otoritas administrasi berasal dan bertanggung jawab  di bawah politik, nilai-nilai administrasi tersebut yang luas dapat diarahkan oleh otoritas politik sesuai kepentingannya.

Ostrom mengkritik memaksimalkan efisiensi dengan penataan hierarkis karena asumsi hierarkis merupakan struktur utama organisasi. Ostrom mempertanyakan kepercayaan bahwa hierarkis merupakan cara yang paling efisien dan keputusan demokratis dan efisiensi organisasi publik tidak selalu nilai-nilai yang bertentangan.

Dalil-dalil “Ilmu administrasi” Wilson antara lain:

  1. Akan selalu ada pusat kekuasaan tunggal yang dominan dalam suatu masyarakat

  2. semakin terpecah-pecah kekuasaan maka semakin tak bertanggung jawab

  3. struktur konstitusi mendefinisikan dan menentukan komposisi pusat kekuasaan dan membangun struktur politik berkaitan dengan pengundangan hukum dan pengendalian administrasi

  4. bidang politik menetapkan tugas administrasi, tetapi bidang administrasi terletak di luar lingkungan politik

  5. Semua pemerintah modern mempunyai kemiripan struktur yang kuat dalam fungsi administratif

  6. Kesempurnaan susunan hierarkis dari layanan publik yang dilatih secara profesional 

  7. Kesempurnaan dalam organisasi hierarkis akan memaksimalkan efisiensi yang diukur dengan biaya paling sedikit 

  8. Kesempurnaan administrasi yang baik yang didefinisikan di atas adalah kondisi yang diperlukan untuk modernitas dalam peradaban manusia dan untuk kemajuan kesejahteraan manusia.


Max Weber dan Hierarki

Weber mengenalkan birokrasi yang erat kaitannya dengan hierarkis. birokrasi sepakat dengan tujuan yang didefinisikan secara otoritatif (khususnya secara politis) dan berusaha mencapainya secara rasional, efisien dan impersonal. Weber menyadari karena karakter seperti mesin maka birokrasi akan lebih unggul secara teknis dibanding bentuk organisasi lain. tetapi karena kesempurnaan nya tanpa di tawar birokrasi menciptakan suatu imperatif sosial dan politik yang menangkap anggotanya sendiri dan membuat para politik tidak berdaya. Pada titik ini Ostrom mengatakan:

“Birokrat individual tidak dapat meronta dari perlengkapan yang telah dipasangkan padanya, Birokrat profesional terikat pada kegiatannya oleh seluruh eksistensi material dan idealnya. hanyalah gigi tunggal dalam mesin yang terus bergerak yang menentukan rute perjalanan baginya yang pada dasarnya sudah tetap.”.

Dalam menghadapi monopoli birokrasi pada keahlian teknis dan pengetahuan, otoritas politik menjadi amatir tanpa daya yang dikendalikan ketimbang mengendalikan. konsekuensi birokrasi menggantikan politik sebagai paradigma pemerintah dan efisiensi menjadi tujuan.


Luther Gulick dan Prinsip-prinsip Organisasional

Gullick mendukung ide bahwa “konsep-konsep seperti kesatuan komando, rentang pengendalian, rantai komando, departementalisasi menurut fungsi utama, dan pengarahan kepala otoritas tunggal dalam unit administrasi yang subordinat dianggap dapat diterapkan secara universal dalam penyempurnaan susunan administratif”. Akan tetapi Ostrom menunjukkan bahwa setiap individu memiliki ketidakcocokan. Seperti dalam catatanya ostrom menerangkan: “Prinsip homogenitas menyiratkan bahwa alat-alat harus bersifat membantu bagi penyelesain suatu tunggal khusus. Menghubungkan dua atau lebih fungsi-fungsi non-homogen akan mengorbankan efisiensi teknis administrasi karena mencampurkan faktor-faktor produksi yang berakibat mengaburkan atau merusak produk sosial bersih”. Perbedaan antar individu dan penyatuan dalam homogenitas malah akan mematikan kreativitas individu dan efisiensi serta kelebihannya dalam menekan efektivitas tujuan.


Herbert Simon dan Struktur Internal

Simon berargumen bahwa organisasi sebagian besar dicirikan sebagai suatu keseimbangan yang dipelihara dalam wilayah penerimaan yang ditetapkan oleh unsur-unsur pokok yang berbeda dari suatu organisasi. Akan tetapi akhirnya Simon kembali menjauh dari implikasi radikal analisisnya dengan menerima hierarki sebagai suatu prinsip mengorganisasikan dan membatasi perhatian kepada struktur internal organisasi.

Administrasi demokrasi yang diusung Ostrom merupakan campuran ekonomi barat dan penafsiran berbagai pemikir. ada empat unsur utama dasar teori tersebut yaitu:

  1. Kefatalan para politikus dengan tindakan negatif seperti korupsi, otoritas harus di bagi-bagi untuk membatasi dan mengendalikan kekuasan politik

  2. aturan administratif, aturan ini juga dirancang oleh politikus

  3. susunan multi organisasional merangsang persaingan yang sehat di kalangan lembaga-lembaga pemerintah

  4. tujuan administrasi demokrasi adalah memaksimalkan efisiensi yang diukur dengan pengeluaran yang lebih sedikit dalam hal waktu, usaha, dan sumber daya


Tetapi perlu diingat efisiensi produsen tanpa adanya kegunaan konsumen tidaklah mempunyai makna ekonomis, jadi melihat produk publik harus berjangka panjang dan memiliki visi dan gagasan yang jelas, seefektif apapun produsen apabila hasil produk tidak berguna bagi masyarakat maka tidak bermakna. Ostrom menjelaskan mengenai metodologi individualistis pada lima asumsi yaitu:

  1. Dimotivasi oleh pertimbangan-pertimbangan kepentingan diri sendiri

  2. rasional atas pilihan -pilihan yang dimiliki yang merupakan pilihan terbaik

  3. mempunyai jumlah informasi bervariasi mengenai konsekuensi dari pilihan yang dituju

  4. menyukai konteks yang teratur tempat dilakukannya pengejaran

  5. memilih strategi yang akan memaksimalkan keuntungan


untuk mengantisipasi tujuan individu tersebut maka organisasi dapat melakukan:

  1. mengantisipasi konsekuensi yang menyusul;

  2. para individu mementingkan diri memilih strategi yang memaksimalkan kepentingan mereka;

  3. susunan organisasional khusus;

  4. struktur khusus peristiwa.

Organisasi baik pada situasi tertentu dan buruk pada situasi tertentu, organisasi fleksibel mampu untuk melakukan langkah-langkah penyesuaian dalam mengatasi permasalahan tersebut. Organisasi membatasi pilihan individu dan menimbulkan respon dari individu. Organisasi yang sangat besar berdampak pada atau berciri:

  1. Menjadi semakin tidak pandang bulu dalam menanggapi tuntutan-tuntutan yang beraneka ragam. generalisir karena jumlah yang banyak sehingga tidak mungkin diselesaikan pada setiap masalah.

  2. memaksimalkan biaya sosial yang tinggi pada generasi selanjutnya atau yang melanjutkan.

  3. Gagal menyesuaikan persedian dan permintaan.

  4. terkikisnya kebaikan umum karena gagal melakukan pencegahan yang merusak penggunaan lainnya.

  5. menjadi semakin cenderung untuk salah dan tak terkendali hingga pada titik dimana tindakan-tindakan publik menyimpang secara radikal dari retorika tentang tujuan dan sasaran publik.

  6. tindakan penyembuhan atau penyelesaian malah memperburuk daripada memperbaiki masalah-masalah.


Etika Administrasi

Memecah suatu kekuasaan tunggal menjadi struktur otoritas yang terpecah -pecah banyak kepada dan padangan bahkan sampai pada warga negara secara langsung. hal ini juga menjadi mereka yang take risk or not. kebulatan sulit tercapai dalam kondisi seperti ini. Teori pilihan publik didasari oleh asumsi bahwa individu dimotivasi oleh kepentingan pribadi dan akan memiliki ke arah tindakan yang memaksimalkan keperluan mereka. terdapat tiga klaim pokok yaitu:

  1. Asumsi dasar teori pilihan publik memberi penopang-penopang yang diperlukan untuk studi ilmiah atas pembuatan keputusan politis dan administratif, memberikan penjelasan yang ketat antara masa lampau, masa kini dan masa depan.

  2. Konsep motivasi manusia yang diturunkan dari nilai-nilai yang lebih disukai

  3. Teori nilai menyarankan resep-resep untuk memperbaiki kinerja pemerintah


Letak lokus kalkulus rasional individu berbeda, sehingga sulit untuk mengenaralisir hal tersebut, sehingga memediasi kepentingan-kepentingan berbeda secara significant, bagi pilihan publik mekanismenya dalam pasar sementara bagi birokrasi adalah paksaan. Kesulitan terkait hakikat manusia antara teori pilihan publik dan teori nilai organisasional yaitu:

  1. alasan untuk meragukan mengenai pembuatan keputusan politik yang semata-mata dari segi pemuasan kepentingan individu

  2. cara manusia mendefinisikan dan berpikir dari segi kepentinganya sangat dipengaruhi secara mendalam oleh proses interaksi sosial


Golembiewski mencatat konsekuensi pilihan publik yang mungkin jangga dari sudut pandang teori demokratis, desentralisasi yang dikemukakan Ostrom bisa jadi tidak lebih baik atau lebih demokratik terutama apabila desentralisasi dipegang oleh mereka yang ingin merebut kekuasaan dan mementingkan kepentingan mereka.


Inkrementalisme Terpisah: David Braybrooke dan Charles E. Lindblom

Ekonomi pasar memiliki daya tarik sebagai pembuatan keputusan kolektif. salah satu argumennya adalah bahwa proses-proses mirip pasar memerlukan relatif sedikit hal koordinasi yang sadar, pelaksanaan otoritas atau pemrosesan informasi di pihak para pembuat keputusan. mekanisme pasar memberikan pilihan bagi kepentingan individu yang tidak seragam. 

Herbert simon menjelaskan batas-batas psikologis dan kognitif rasionalitas pada organisasi birokrasi sebagai unsur utama kritik terhadap pembuatan keputusan yang tersentralisasi. manager menjalankan aturan main dan memberi kesempatan individu untuk dapat masuk dalam mekanisme tersebut untuk memperoleh keputusan publik.

Inkrementalisme mengacu pada tipe analisis kebijakan dan pembuatan keputusan yang memperhitungkan perbedaan marginal (incremental) antara kebijakan atau status urusan sosial yang diusulkan dan yang sudah ada. kebijakan yang berjalan dan pertimbangan terbitnya kebijakan baru. suatu kebijakan yang sudah berjalan memerlukan sentuhan variabel baru untuk dapat mendongkrak daya ledak kekuatan kebijakan atau untuk merubah arah karena terjadi perubahan terhadap faktor-faktor yang berkaitan dengan kebijakan. 

Braybrooke dan Lindblom memberikan model inkremental sebagai suatu alternatif yang lebih disukai bagi rasionalitas komprehensif atau “ideal Sinoptik”. dalam model ini tujuan yang bersifat umum perlu di tetapkan dan kemudian mengmebangkan sederet alternatif untuk mencaoainya. alternatif-alternatif ini disusun sedemikian rupa dan cermat untuk memungkinkan perbandingan yang cermat mengenai kerugian, keuntungan, dan batasan waktu. sebelum membuat keputusan-keputusan yang beralasan yang dipilih.

Model analisis sinoptik dikelilingi oleh banyak masalah praktis, beberapa diantaranya diantisipasi oleh Herbert Simon, adanya batas-batas kemampuan kognitif manusia dalam memecahkan masalah, informasi yang terbatas, mahalnya analisis komprehensif mengingat waktu dan sumber daya yang terbatas, gangguan tak terelakkan dari faktor-faktor politik. 

Braybrooke an Lindblom mengantisipasi keberatan normatif, inkrementalisme mempunyai efek menggabungkan suatu susunan nilai yang sangat beragam ke dalam proses analisis kebijakan. Penekanan inkrementalis pada gerakan sedikit demi sedikit menjauhi keburukan sosial menghasilkan pengembangan kebijakan yang didasarkan pada pengalaman dan sadar akan kemampuan terbatas pikiran manusia untuk memproses informasi yang kompleks. Inkrementalisme menetapkan suatu preferensi untuk nilai-nilai yang disebut melioratif (yang bersifat memperbaiki), berlawanan dengan nilai-nilai peremptoris (yang harus ditaati).

Pada pendekatan melioratif, pertimbangan-pertimbangan tentang menerima atau menolak suatu kebijakan harus dilakukan melalui perbandingan kebijakan itu dengan alternatif-alternatif untuknya. dalam pendekatan peremptoris, dicari karakteristik-karakteristik tertentu untuk dijadikan sebagai basis untuk menyetujui atau menolak kebijakan itu, tanpa memberi perhatian kepada alternatif-alternatif. Putusan melioratif akan terikat pada kondisi sedangkan peremtoris tidak.


Seorang Ekonom sebagai Kritikus Pasar: Albert O Hirschman

Hirschman mengungkap kekurangan mekanisme pasar dalam organisasi sosial. Dalam Exit, Voice and Loyalty, Hirschman menjelaskan bagaimana organisasi, firma, dan pemerintah menanggapi maupun gagal menanggapi. dalam analogi Exit maksudnya adalah ketidakpuasan seseorang atas produk yang dikeluarkan perusahaan lalu membeli produk lain dari perusahaan lain atau keputusan anggota yang tidak puas dan memutuskan keluar / Exit. Voice dianalogikan sebagai usaha untuk mengubah, menyampaikan ketimbang lari atau keluar/Exit dari peristiwa yang tidak disetujui. dal Loyalty menggambarkan keputusan untuk melekat dengan perusahaan atau organisasi atau setia walaupun pertimbangan jangka pendek kepentingan diri malah tampak untuk mendiktekan keluar. Hirschman berpendapat bahwa variasi campuran dari ketiga fungsi ini diperlukan untuk menjelaskan mengapa beberapa organisasi pulih dari kemerosotan periodik dalam kinerjanya, sementara organisasi lain tidak.

Aksi keluar bisa saja ditanggapi para manajer dengan kesukaan apabila yang keluar adalah pelanggan yang sering menyusahkan. atau para pelanggan yang keluar dan membuktikan bahwa produk lain tidak sebaik produk awal sehingga menambah keyakinan pelanggan untuk kembali dan bertahan pada perusahan atau organisasi. aksi suara/voice merupakan sinyal manajemen terkait kepuasan pelanggan, apabila ditanggapi dengan serius oleh manajemen maka aksi voice tidak berujung ke Exit/keluar tetapi jika tidak mendapati serius atau terkesan tidak serius maka akan menuju Exit/keluar. aksi keluar sebenarnya lebih sering dipilih karena tidak memberikan negosiasi lagi dan banyaknya sumber pilihan lain yang tersedia di luar, sedangkan aksi suara karena pilihan yang lebih baik belum tentu ada dan sebaiknya memperbaiki yang sudah ada.

Aspek paradoksal aksi keluar dan angkat suara mempunyai penting dengan perhatian administrasi publik normatif kepada ketanggapan, keterwakilan, dan kualitas proses organisasional. Angkat suara adalah esensi politik demokrasi. aspek paradoksal angkat suara dalam hubunganya dengan aksi keluar adalah angkat suara dianggap serius oleh para pimpinan organisasi ketika ada ancaman aksi keluar, padahal justru alternatif aksi sosial cenderung menghentikan pertumbuhan seni angkat suara. seara ironis menurut Hirschman bahwa orang yang paling mudah dan paling mungkin untuk keluar adalah orang yang mampu menggunakan angkat suara paling efektif.

ketika kondisi sekolah-sekolah publik memburuk, maka orang tua yang sadar kualitas akan mengeluarkan anaknya dari sekolah publik dan mengirim anak ke sekolah swasta. Aksi “keluar” ini mungkin menyebabkan dorongan perbaikan tapi tidak ada suara (kritik) karena banyak alternatif lain diluar sana yang kualitasnya bagus. orang baru akan bersuara apabila alternatif-alternatif tidak ada dan hanya berfokus pada yang ada. 

Mekanisme lain untuk mengangkat tradisi angkat suara adalah pertama hukuman bagi para pelanggan yang keluar dari organisasi cukup tinggi sehingga menciutkan keberanian mereka untuk keluar secara tiba-tiba dan kedua ancaman keluar masih tinggi sehingga manajemen memperhatikan dan menyediakan jalur untuk angkat suara.

Dari analisis tersebut aksi keluar dan angkat suara mampu menjelaskan mengapa pasar tidak memuaskan berkenaan dengan administrasi publik. pertama dengan menekankan aksi keluar, pasar kemungkinan besar bertanggung jawab terhadap ketidakpuasan warga yang hanya di bawah kondisi istimewa khususnya ketika kesempatan untuk angkat suara juga ada, kedua, situasi tidak adil kemungkinan besar diperburuk oleh mekanisme pasar, karena orang kaya lebih memiliki banyak pilihan apabila keluar sedangkan orang miskin tidak ada pilihan lain, ketiga kualitas proses organisasional yang dialami khususnya oleh mereka yang miskin, kurang berpendidikan, dan warga yang kurang leluasa bergerak kemungkinan rendah apalagi jika organisasi tidak mampu mendengarkan suara dengan baik.