Rabu, 28 September 2022

Relasi Kebudayaan dan Kebijakan Publik

Relasi Kebudayaan dan Kebijakan Publik

Relasi kebudayaan mempertemukan 2 teori utama yaitu teori kebudayaan yang dikembangkangkan dalam ilmu antropologi dan sosiologi dengan teori kebijakan publik yang dikembangkan dalam ilmu administrasi  hukum dan politik. Dalam suatu kebijakan publik tidaklah semata-mata melihat pada aspek administrasi dan manajemennya saja tetapi melihat pada aspek hukum, politik dan respon masyarakat, dimana respon ini merupakan pandangan yang dapat ditelaah lebih jauh dalam kebudayaan masyarakat


Pemerintah dan Masyarakat di Era Postmodern

Era post modern ditandai dengan masifnya produk informasi yang jauh melebihi dari produksi kebutuhan lainya, di era industri produksi industri berupa barang dan jasa sudah melebihi kebutuhan masyarakat bahkan sampai pada spesialisasi sehingga proses produksi sudah menspesialkan produk-produknya pada kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendetail dan di era postmodern produksi informasi jauh lebih besar dari produksi-produksi lainnya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Perluasan konteks hubungan sosial ini tentu mempengaruhi hubungan masyarakat dengan pemerintah begitu juga sebaliknya. apalagi sumber informasi yang dicerna tidak sama antara masyarakat dan pemerintah.

Semakin terkoneksinya hubungan masyarakat yang tidak mengenal batas bertransformasi ke dalam globalisasi dan digitalisasi. perkembangan teknologi mentrigger konektivitas tersebut dan menjadi suatu masyarakat yang global. Penyelenggara negara dalam membuat kebijakan publik akan terbantu dengan arus informasi dan respon yang dapat ditangkap dari arus digital tersebut untuk di aplikasikan dalam kebijakan


Isi Kebijakan (Policy Content)

Sebuah peraturan yang diterapkan, berisi legal-normatif dimana mengatur masyarakat dalam spesifikasi aturan tertentu. Proses kebijakan (Policy proses), yaitu bagaimana proses kebijakan itu dibuat sampai diimplementasikan dan dievaluasi. proses awal tersebut karena muncul dari masyarakat itu sendiri


Antara kebijakan dan sistem regulasi

Suatu kebijakan yang telah disahkan, diundangkan dan masuk dalam lembar negara maka kebijakan tersebut telah menjadi sebuah regulasi yang harus dipatuhi oleh semua warga negara. Sebuah kebijakan jika dilihat dari sisi antropologi dan sosiologi sangat erat kaitanya karena munculnya kebijakan adalah karena masyarakat dan implementasi ke dalam masyarakat juga akan dapat dikaji dari sisi budaya masyarakat. Clifford Geertz (1973) kebudayaan adalah pola dari dan pola bagi tindakan, maka sama hal nya dengan kebijakan sebagai suatu tindakan sosial tidak bisa lepas dari pola dari dan pola bagi kebudayaan.

Suatu regulasi yang dibuat dan bertentangan dengan budaya masyarakat maka akan sulit untuk dilaksanakan. Dalam kajian Christensen & Rabbibhadana (1994) tentang kegagalan pemerintah Thailand membuat peraturan yang dapat berlaku efektif dalam pemanfaatan sumber daya hutan yang tidak terkendali, kegagalan tersebut terjadi karena unsur kebijakan bertentangan dengan nilai budaya masyarakat sehingga pelaksanaanya tidak efektif. Suatu kebijakan publik yang tidak berpijak pada ranah sosial budaya masyarakat maka akan sulit diterapkan.

Benda-Beckmann (1984) menerangkan kebijakan publik dan peraturan dibuat, ditransformasikan, dimodernisasi, diubah, dimanipulasi, diselewengkan dalam konteks sosial dan budaya hidup. suatu peraturan dan kebijakan tidak dilihat hanya sebagai konteks peraturan saja tapi diluar peraturan tersebut seperti interaksi sosial dan lingkup kebudayaan(Benda-Beckmann, 1984)


Regulatory Communities (Meidinger, 1987) atau policy communities atau policy network (Bennet & Howlet)

Komunitas regulasi adalah suatu komunitas yang berperan penting dalam menyuarakan perlunya peraturan, komunitas ini bisa berangkat dari birokrasi, tokoh-tokoh masyarakat, ormas, NGO dan berbagai sumber lainnya. menurut Meidinger, karakteristik dari komunitas ini adalah:

  1. Mempunyai hubungan dengan masyarakat yang lebih luas, tapi tetap memiliki keunikan tersendiri.

  2. Para anggotanya mempunyai hubungan terus menerus.

  3. Mengejar kepentingan sendiri dan selalu berjuang mendefinisikan visi yang sama tentang suatu kebaikan bersama.

  4. Para warga masyarakat saling mempengaruhi satu sama lain, saling merujuk dalam bertindak serta saling menginginkan suatu penghormatan.

  5. Masyarakat selain menjadi arena untuk mengejar kepentingan, juga sebagai forum dialog dan diskusi mengenai permasalahan yang perlu diangkat dan diatur.

salah satu contoh yang menjadi bagian dari komunitas kebijakan publik menurut (Britain & Cohen, 1980a) adalah birokrasi


Kesimpulan:

  1. Proses kebijakan selalu berada dalam interaksi sosial dan konteks kebudayaan

  2. Kebijakan dibuat dan dilaksanakan oleh suatu komunitas yang tergabung dalam regulatory communities/policy communities


Pengaturan negara sebagai sistem budaya

Mengapa pengaturan negara dikaji dengan menggunakan perspektif kebudayaan? dan bagaimana melihat pengaturan negara dalam perspektif kebudayaan? mereka yang melihat menggunakan perspektif budaya selalu berpegang pada tesis bahwa pengaturan negara merupakan refleksi dari kebudayaan, bukan sekedar aturan teks, normatif tapi merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat. Dalam penelitian Ihromi (1984) menyatakan kebudayaan merupakan dasar, desain, cetak biru dalam norma dan peraturan hukum serta perlindungan terhadap  norma melalui proses hukum. Kebudayaan merupakan perangkat ideasional (Goodenough,,.) simbol dan makna (Geertz, 1973) dalam mempersepsikan suatu persoalan atau masalah dan mewujudkannya dalam regulasi negara, dan mempersepsikan kembali regulasi yang sudah ada dengan perkembangan sosial yang ada.

Meidinger (1987) dalam membentuk peraturan dan kebijakan terlebih dahulu mengkaji proses nilai dan norma serta pendefinisian kepentingan yang mendasari kepentingan sosial dan tujuan nya. Kebudayaan adalah proses yang dinamis, dan akan terus berkembang dari waktu ke waktu. Benda-Beckmann (1986) melalui proses sosial suatu kebijakan dibuat, hukum diciptakan, dimanipulasi, diubah dan diterapkan, karena perkembangan budaya yang terus hidup maka akan selalu terjadi proses konstruksi dan rekonstruksi persepsi atau interpretasi para pendukung kebudayaan terhadap suatu objek yang akhirnya akan mempengaruhi kebijakan publik dan sistem regulasi yang mengatur objek tersebut.

Kebudayaan sangat terkait konteks situasi dan proses historis, yang merupakan hasil interaksi berbagai aspek, antara manusia dan manusia serta manusia dan lingkungan. Tidak ada keseragaman  uniformitas kebudayaan karena lokasi dan waktu menjadi faktor penting pembentuk kebudayaan tetapi di era kecanggihan komunikasi seperti ini tercipta super culture dimana masyarakat di berbagai belahan dunia terpengaruh oleh suatu budaya teknologi dan melihat input yang nantinya juga akan mempengaruhi budaya mereka dari informasi-informasi tersebut.

Alvesson (1993) menekankan organisasi selalu berhubungan erat dengan lingkungan kebudayaan yang ada di luarnya. hubungannya saling mempengaruhi. budaya organisasi dapat mempengaruhi lingkungannya dan lingkungan dapat mempengaruhi budaya  organisasi.  dan besar kecil pengaruhnya tergantung karakteristik dan perbedaan organisasi  dan lingkungan tersebut.


Open System Birokrasi (Birokrasi terbuka)

Birokrasi terbuka yaitu suatu pendekatan yang melihat situasi dan kondisi dalam menjalankan organisasi, kecenderungan mengesampingkan prinsip bahwa birokrasi selalu bekerja atas aturan prosedural dan struktur formal dengan hubungan yang bersifat impersonal maka dengan sistem open ini maka pemahaman mendalam dalam membaca situasi dan putusan lebih diutamakan, serta koordinasi menggunakan hubungan informal dan putusan dapat segera diambil. 

Moore (1983) menggambarkan birokrasi sebagai bidang sosial semi otonom yakni sosial yang mampu menghasilkan aturan-aturan, dan instrumen agar tunduk pada aturan tapi pada saat yang sama memiliki kerentanan terhadap aturan-aturan yang berasal dari luar sehingga disebut semi otonom. Tapi dalam pengertian saya bahwa menggambarkan sosial semi otonom dalam birokrasi adalah birokrasi diberikan kewenangan untuk membuat diskresi aturan dan kebijakan tapi dibatasi oleh ranah-ranah peraturan yang lebih tinggi.

Pada umumnya pendekatan dalam antropologi-sosiologi adalah pendekatan emik yaitu pemahaman menurut pandangan subjektif dari objek yang diteliti (actors point of view) dan pendekatan holistik yaitu pemahaman menyeluruh terhadap objek secara utuh dan menyeluruh (Brian & Cohen, 1980)  yang merupakan tradisi membawa penelitian antropologi dalam kajian organisasi, birokrasi, dan kebijakan publik. 


Source : Relasi kebudayaan dalam kebijakan publik dan sistem regulasi negara

Hanief Saha Ghafur (Universitas Indonesia)

Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, Vol. 25, No. 4, Oktober–Desember 2012, 263–270


Teori Organisasi untuk Administrasi Publik

Teori Organisasi untuk Administrasi Publik


(Michael M Harmon dan Richard T. Mayer)


BAB 11


Organisasi Publik adalah organisasi yang berdiri sendiri dan memiliki karakteristik yang berbeda dengan organisasi lainnya sehingga cara berpikir dan bergeraknya pun berbeda. landasan teori-teori yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa teori yang saling berinteraksi satu sama lain.


Teori Emergensi : Organisasi sebagai rasionalitas yang ditemukan


Dalam ilmu sosial positivisme melihat sebuah problematis dalam kondisi yang statis dan tidak problematis. hal ini tersebut dikritik dengan pandangan bahwa organisasi merupakan suatu proyeksi kesadaran manusia. jadi, apa yang dilakukan manusia dan organisasi tidak dapat dipandang objektif karena berdasarkan makna tindakan sosial yang dibentuk oleh makna-makna subjektif yang dibentuk para aktor kepada perilaku manusia (Weber, ..). Teori yang berlandaskan objektif hanya dilihat sebagai instrumen untuk mendesain awal organisasi sehingga perlu memperhatikan proses atau kelemahan dari teori objektif ketika itu sudah berjalan dalam tindakan-tindakan tersebut. 

Teori Emergensi yang dikembangkan oleh Mary Parker Follet (1868-1933) melihat dari sisi perspektif integratif dan terinspirasi dari gerakan pragmatis Amerika. Ide ini muncul karena mengedepankan sifat emergensi organisasi ketimbang tindakan organisasi yang rasional. Pendekatan pertama adalah seleksi alamiah oleh Karl Weick yang melihat tindakan organisasi ditentukan secara alamiah sesuai aksi dan respon tindakan dan cara memaknai aksi dan respon tersebut. pendekatan kedua adalah psikoanalitik oleh Orion White dan Cynthia McSwain melihat tindakan dari kerangka psikis meliputi hubungan energi tak sadar dengan kesadaran.

Instrumental rasional dalam organisasi sudah sangat mengakar dan kuat dalam cara berpikir, padahal kembali kepada pendekatan diatas apa yang akan terjadi adalah hasil reaksi tindakan-tindakan dan tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang statis. Organisasi menjadi suatu perwujudan  tindakan rasional. Rasionalitas telah menjadi fondasi utama organisasi tetapi Herbert Simon menyoroti bahwa rasionalitas memiliki keterbatasan kecerdasan, SDM, waktu, informasi dan perubahan. Tindakan rasional ini sangat bergantung pada pengalaman historis dan menjadi sebuah rekonstruksi artifisial yang menyesatkan, bukan dari asumsi deskriptif dan normatif dalam organisasi. 

Masing masing orang mengklaim tindakannya berdasarkan dari kesadaran kita yang muncul dari pengalaman sosial. orang bertindak secara spontan dalam menanggapi hakikat situasi sosial dan perubahannya serta menggunakan logika cepat dan pengaruh alam bawah sadar yang terbentuk dari pengalaman historis serta serapan informasi.

Perspektif pandangan:

  1. Rasional secara instrumen memandang pikiran mendahului, memunculkan, mengorientasi tindakan, padahal justru tindakanlah yang mendahului pemikiran sadar. kita seringkali bereaksi spontan terhadap respon tanpa memikirkan dahulu berdasarkan logika sadar. Makannya kadang kala seorang yang tahu teori ketika menerapkannya kesulitan karena tindakan dahulu baru pikiran sadar, sehingga sulit mengontrol tindakan berdasarkan teori.

  2. Tujuan sosial muncul dari proses sosial, proses bukan alat instrumen untuk mencapai tujuan

  3. perubahan lebih alamiah ketimbang stabilitas organisasi, sehingga mengenali rintangan perubahan bukan menciptakan perubahan baru dan biarkan alamiah jangan dibuat-buat

  4. organisasi digerakkan secara logis dan historis ketimbang politik

  5. tindakan administrasi adalah kesadaran diri, bukan memastikan tindakan yang tepat secara institusional

  6. berteori adalah alat yang berharga untuk memfasilitasi tindakan


Mary Parker Follet memiliki pandangan pragmatis moderat, yang memegang dua keyakinan yaitu: (1) komitmen pada ide pragmatis bahwa penuntun yang paling terjamin untuk menemukan kebenaran adalah pengalaman. (2) psikologi yang beranggapan adanya diri tidak mendahului interaksi sosial.

Follet juga menolak pandangan raison d’etre atau pemaksimalan keuntungan dan pekerja hanyalah instrumen produksi ekonomi dan mengkritik gagasan pluralistik karena adanya benturan kepentingan yang berujung pada kompromi antara kepentingan yang berlawanan tersebut. Follet mendukung melalui scientific frederick taylor tapi dalam hubungan sosial sehingga tujuan organisasi berupa produktivitas dan tujuan pekerja upah tinggi serta kondisi kerja yang lebih baik berjalan beriringan.


Maksud, Pengalaman Rasionalitas

Apa yang sudah ditetapkan menjadi tujuan dalam proses tidak dapat secara lurus dan tanpa hambatan serta perubahan pada subjeknya serta lingkungan akan selalu dihadapi. Tujuan organisasi dipandang tidak hanya sebagai target karena dalam proses dalam kehidupan ada yang lebih kaya seperti tanggung jawab, moral, etika yang mulia dan negosiasi terhadap semua hal tersebut.


Integrasi dan Hukum Situasi

Dalam setiap situasi, individu yang berhadapan langsung dengan situasi akan melihat perubahan kondisi situasi secara langsung yang luput dari target dan tujuan yang sebelumnya telah ditetapkan organisasi. sikap sadar pada pengalaman berarti kita memperhatikan perubahan yang dibuat oleh situasi dalam diri kita. selain itu sikap tanggung jawab dan komitmen bersama-sama menjaga sikap. Follet optimis dengan kemungkinan untuk mendamaikan individu dan organisasi sehingga dapat tercapai integrasi.

Lebih jauh Follet menyampaikan:

Seorang pemimpin bukan orang yang menegaskan kehendak individunya dan membuat orang lain mengikutinya tetapi…orang yang tahu bagaimana menghubungkan kehendak-kehendak yang berbeda sehingga memnangkitkan daya penggerak. seorang pemimpin harus tahu bagaimana menciptakan suatu kekuasaan group ketimbang mengungkapkan kekuasaan pribadi. dia harus membuat suatu tim (DA, h.248)


Follet membedakan integrasi dengan kompromi. ketika integrasi adalah penyatuan kebebasan masing-masing individu yang seragam sedangkan kompromi adalah penindasan, dimana ada yang harus dikorbankan. lebih jelas Freud mengungkapkan bahwa orang waras adalah mereka yang tidak mempunyai hasrat yang terlarang. Kelompok industri yang sehat adalah kelompok industri dimana tidak ada majikan dan karyawan yang berkompromi, bangsa yang sehat tidak akan didasarkan pada balas jasa, liga bagsa yang sehat adalah dimana tidak ada negara yang menjadi korban, psikologi modern menyebut penindasan sebagai kompromi.


Teori Manajemen Follet pada Hakikatnya adalah teori politik

sangat berbahaya ketika kekuasaan individu diserahkan untuk mendapatkan kegiatan bersama, tetapi dengan menyatukan kekuasaan kita tidak menyerahkannya. kekuasaan yang dihasilkan oleh hubungan adalah hal yang kualitatif, jika kita mengikuti seluruh aturan kita menerjemahkan segala sesuatu dalam kegiatan , maka kita melihat kekuasaan sebagai kekuasaan untuk melaksanakan sesuatu (CE, h. 191)


Tanggapan Follet mengenai teori Persetujuan

Teori persetujuan bersandar pada kekeliruan intelektualistik yang menyeluruh bahwa pemikiran dan tindakan tidak dapat dipisahkan. teori ini bersandar bahwa kita berpikir dengan “pikiran”kita dan pihak lain pun dengan “pikiran”mereka. bagaimana konsep ini dapat dibilang setuju bahkan kita sering melihat kasus-kasus ketika kita tidak mampu meyakinkan orang-orang dengan penalaran kita yang paling cermat(CE, h. 198)


Koordinasi bukan Kontrol

Follet menolak proses kontrol baik oleh kekuatan kepribadian maupun otoritas hierarkis. Koordinasi merupakan hubungan timbal balik menyampaikan ide-ide dan fakta situasi yang berubah melalui aksi dan respon serta penyesuaian di kalangan aktor. Koordinasi menghindari korban dan individu memperoleh makna dari partisipasi mereka.

Dalam proses psikologis individu kita mengetahui bahwa setiap individu mempunyai kecenderungan berperang dalam dirinya ketika membuat putusan dan pilihan atau berinteraksi. keberhasilan dalam kehidupan sebagian besar tergantung pada berbagai tendensi, dorongan hati, hasrat yang disesuaikan satu sama lain yang sedang dimasukkan ke dalam suatu keseluruhan yang harmonis (PC, h 164)

kontak langsung atau perintah horizontal memberikan unsur bebas dari paksaan, dan tetap melakukan penyesuaian-penyesuain sendiri. berbeda dengan perintah vertikal yang erat dengan paksaan. Mary Parker Follet, menolak sosialisme tapi bukan pembela kapitalisme, menekankan koordinasi penyamaan tujuan bersama-sama.


Teori Seleksi Alamiah: Karl Weick

Dalam bukunya The Social Psychology of Organizing, dari judul tersebut menggambarkan bahwa organisasi sebagai makhluk hidup yang memiliki psikologi layaknya manusia. Weick mengartikan berorganisasi merupakan kegiatan sosial yang dicirikan oleh kesalingtergantungan para aktor sosial dengan perilaku yang cocok satu sama lain. Weick tidak menyebutkan untuk mencapai tujuan baik itu tujuan organisasi atau kolektif atau tujuan individu. rencana dan tujuan organisasi hanyalah sebuah simbol yang mengirimkan pesan kepada lingkungan apa yang akan dilakukan organisasi atau sebagai sebuah iklan untuk menarik investor dan klien.

Ide Herbert Simon tentang rasionalitas terbatas, karena pada prinsipnya rasionalitas tidak benar-benar memaksimalkan input informasi tapi sebatas terisolasi dalam pengetahuan terbatas para aktor pengambil keputusan termasuk konsekuensi jangka panjang atau pun informasi di luar pengalaman aktor.

Ide Weick diantaranya adalah membalikkan ide-ide tradisional mengenai sebab akibat dari kegiatan-kegiatan atau peristiwa dalam organisasi. contoh: seringkali manajer kesulitan karena lupa berpikir dalam lingkaran atau berpikir paradoks/berkebalikan misal gaya kepemimpinan mempengaruhi produktivitas, orang tua mengajarkan ke anak-anak, tujuan mempengaruhi alat, rangsangan mempengaruhi tanggapan, keinginan mempengaruhi tindakan. pernyataan ini salah karena dapat dibuktikan bekerja sebaliknya seperti produktivitas mempengaruhi kepemimpinan, tanggapan mempengaruhi rangsangan, anak mengajarkan ke orang tua, tindakan mempengaruhi keinginan.


Floyd Allport: Orang berkumpul karena ingin mengejar tujuannya sendiri-sendiri dan membutuhkan orang lain untuk melakukan hal yang tertentu, dan orang lain pun juga sama, jadi walaupun tujuannya berbeda ada titik temu yang sama dalam kelompok atau organisasinya. 


Berinteraksi dan berorganisasi rangkap

“perilaku seseorang tergantung input, dan respon aksi ini disebut interaksi”


Seleksi Alam dan Retrospeksi

4 model evolusioner berorganisasi didasarkan pada 4 asumsi yang saling berkaitan:

  1. Proses berorganisasi adalah yang utama, sementara tujuan atau sasaran adalah hal sekunder

  2. Perubahan adalah kondisi alamiah sementara stabilitas adalah kondisi yang dipaksakan

  3. berorganisasi dianggap kegiatan yang memaknai

  4. kegiatan memaknai biasanya dilaksanakan secara retrospek (setelah dilakukan) ketimbang secara prospektif


4 langkah dasar Weick mengenai model berorganisasi yaitu:

  1. Perubahan Ekologis, organisasi menanggapi perubahan  sehingga memaksa untuk melakukan cara-cara tertentu

  2. Pembuatan (enactment), tercipta lingkungan aktif sebagai respon dan berdampak pada kita sendiri

  3. Seleksi, proses pemaknaan sasaran sementara atau proses organisasional yang menghasilkan jawaban dari pertanyaan.

Kecenderungan untuk melihat masalah atau peristiwa dengan cara tertentu akan mengurangi ketegasan kita, kita cenderung melihat masalah dan peristiwa secara mainstream atau cara pandang kebanyakan. hal ini perlu diwaspadai dan pembatasan juga harus disusun secara longgar agar memungkingkan tindakan adaptif yang luwes dan dapat diimprovisasi.

“masalah organisasi bukan entropi hilangnya keteraturan, malah sebaliknya. keteraturan ditaksir terlalu tinggi dan dengan cara yang salah diberi penghargaan untuk keberhasilan adaptif. setelah diberi penghargaan, tindakan-tindakan yang teratur dilakukan lagi di masa depan, dan diperketat, dan mendadak organisasi itu mendapati dirinya dibebani oleh struktur ketat yang kuno”

seperti peraturan yang ada di birokrat dibuat semakin efektif dari masa ke masa dan pada akhirnya semua aturan menjadi semakin ketat dan sebagian sudah ketinggalan zaman dan tidak mengikuti perubahan yang terjadi.

  1. Penyimpanan, adalah proses berpegang selama beberapa periode waktu, penafsiran-penafsiran pengalaman yang tampak mempunyai validitas jangka panjang.


TEORI TRANSFORMASIONAL (Orion White dan Cynthia McSwain)

  • Level struktural, berada pada posisi paling jauh dari kesadaran individu, tetapi menjadi kesadaran sisa yang masuk kedalam manusia. contoh: Kosmos, dunia, masyarakat, lembaga dsb

  • Level Relasi sosial, hubungan langsung individu, interaksi, dunia pengalaman yang diterima secara langsung

  • Level Nomologis, level yang berada dalam individu, masuk ke dalam wilayah psikologis yang jarang dibicarakan, disini pikiran individu merespon, dan memutuskan. model kesadaran mencerminkan pilihan atau gaya penanganan di dunia luar. dalam level ini gagasan di seleksi otak dan perilaku akan muncul dari seleksi tersebut

  • Level pertemuan manusia, merupakan level kejiwaan manusia yang paling dalam. energi bawah sadar yang mendesak kepada pemikiran utama dan tindakan.


Relasi-relasi sosial

Teori Kritis Jurgen Habermas, white melukiskan efek menindas yang dihasilkan bahasa bersifat menjustifikasi pada perkembangan individu dan relasi sosial

“penghakiman menciptakan suatu bentuk kesadaran palsu atas makna dalam komunikasi antarpribadi, hal ini membuat individu percaya bahwa percakapan bersifat menilai atas orang lain jauh lebih menarik daripada percakapan bersifat melukiskan pengalaman hidup orang itu sendiri dan pengalaman yang dipunyai seseorang dalam relasinya dengan pihak yang dinilai.”


untuk menetralkan tendensi berbahaya dari penghakiman atau penilaian dapat dilakukan dengan 2 (dua) kriteria bahasa, yaitu:

  1. Refleksivitas, yaitu bahasa yang memantulkan kembali kepada individu apa yang sudah dan masih dilakukan, jai sifat bahasa juga desktiptifketimbang menilai.

  2. Relasionaitas, bahasa yang mengakui jarak diantara individu yang satu dengan individu yang lain. atau pertanyaan yang mengakui sepenuhnya penafsiran pembicara yang bersifat subjektif


Semua posisi nilai moral atau nilai etis pada akhirnya akan tertutup dan bersifat sembarangan dan nilainya akan muncul dari alam bawah sadar yang sering kita sebut nurani.


AKHIR BAGI HIERARKI DAN KOMPETISI (Frederick Thayer)

Mary Parker Follet secara sungguh-sungguh membenci persaingan, dimana persaingan saling menjatuhkan, membuat perpecahan, serta menolak individualisme dan lebih memilih sistem komunitarian yang memandang pemimpin sebagai fasilitator ketimbang pembuat keputusan, menentang paksaan dan hierarkis perintah. Fredrick Thayer dalam bukunya yang kontroversial, An End to Hierarchy and Competition, mengusulan visi radikal tentang dunia baru yang didasarkan pada teori organisasi tak memaksa. thayer mendesak 3 lembaga utama dunia yang sudah berjalan ribuan tahun yakni pencabutan atas:

  • demokrasi politis (ide perwakilan dan demokrasi)

  • persaingan ekonomi

  • hierarki

contoh persaingan ekonomi yang dikritik Thayer adalah para pelaku bisnis saling menjatuhkan dan menekan biaya produksi serta membuka peluang dan cara-cara yang tidak fair untuk menjatuhkan lawan.


Selasa, 27 September 2022

Handbook of Ethnography

Ringkasan Buku

Handbook of Ethnography.London: Sage, 2001.507 pp

Paul Atkinson, Amanda Coffey, Sara Delamont, John Lofland and Lyn Lofland 


Book Review

penelitian etnografi 


Buku Lain-lain

  • Handbook of Qualitative Research, edited by Norman Denzin and Yvonna Lincoln in1994,

  • Ethnography  after  Postmodernism, by   Jonathan  Spencer

  • Postmodernism, Post-structuralism  and  Post (critical)  Ethnography: of  Ruins, Aporias and Angels, by  Patti  Lather, neither  of  which  is  very  good  in  tackling  the  issues


Sumber konflik yang terjadi antara post strukturalis dan post modern yang didekonstruksi ke dalam metodologi dan praktek  dari etnografi . Tidak dapat terelakkan lagi bahwa etnografi akan menjadi arena peperangan antara post strukturalis dan postmodern melawan konflik yang menyerang pencerahan ethos dari rasional, objektif dan ilmu pengetahuan sosial. Apa yang mengejutkan bahwa etnographer sendiri yang berpotensi merusak praktik mereka sendiri dalam penelitian etnografi. Pertama dalam ilmu social dan budaya antroplogi, peneliti etnografi meragukan dua hal yaitu mereka mengkritik  perwakilan etnografi dari realitas sosial, yang meragukan text etnografi dan pertanyaan dari suara penulis yang digunakan. Mengkritik gagasan seperti reliabel dan validitas yang telah dilegitimasi di masa lalu.

Denzin dan lincoln menggambarkan keraguannya sebagai dua kritik terhadap etnografi yaitu representasi (apakah studi etnografi benar-benar mewakili budaya yang digambarkannya) dan Legitimasi. Tidak adala penelitian etnografi secara substantif bebas nilai dan benar-benar mewakili suara budaya tersebut baik dari metode, data, text dan kehadiran peneliti.

Etnografi secara sempit sering diartikan sebagai metode pengumpulan data melalui pengamatan partisipasi, unobtrusive  measure, analisis dokumen, studi tentan bahasa asli yang natural, wawancara mendalam, tujuan yang mengexplore arti sosial dan perilaku dalam lapangan yang spesifik atau setting yang memberikan makna yang penting dan kontext, sehingga sangat jelas etnografi adalah metodologi yang simultan atau pandangan yang mengandaikan teori dan filosofis framework untuk memahami perkembangan dari pengetahuan. 

Model penelitian telah menyebar dari sosial dan budaya antropologi, yang datang dari semboyan kolonialisme yaitu gold, glory dan gospel  dan akhirnya berkembang demi mendukung imperialisme di daerah baru agar dapat memahami dan mengetahui titik penting dari budaya setempat agar dapat mencapai tujuan secara efektif


Etnografi sebagai pilar dan perkembangan intelektual 

berbagai perkembang metode penelitian etnografi dipelopori oleh intelektual antara lain : British  social  anthropology (Macdonald), the Chicago School of sociology (Deegan), the community studies tradition  (Brunt), and beberapa penerjemah sosiologi tradisional seperti ethno-methodology (Pollner and Emerson), phenomenology (Maso), grounded theory (Charmaz  and  Mitchell)  and symbolic interactionism (Rock), British social science around the Second World War (Stanley), semiotics (Manning)


Orientalisme adalah suatu studi yang dikembangkan oleh sarjana barat dalam mempelajari budaya timur dengan kata lain barat menyebut budaya timur adalah asia wilayah asia. Pemahaman ini berkembang dalam masa penjelajahan eropa menemukan sumber baru, contoh perbincangan etnografi yang disampaikan melalui cerita traveller, novel dan perwakilan lainnya yang terbentuk. 


Kontribusi etnografi ke beberapa bidang antara lain: 

  1. Michael Bloor writes on ethnographic studies of health and medicine

  2. (Dick Hobbs, Alison  James) yang menangkap studi ini untuk memahami bidang-bidang lain

  3. Studies  in  educational  settings (Gordon, Holland  and  Lahelma)

  4. industry  and  work (Smith)

  5. Menengai social  studies  of science and technology (Hess)

  6. Communication (Keating). 

Beberapa Penelitian Etnografi digunakan dalam aplikasi yang lebih unik seperti:

  1. Ethnographic  studies  of  photography  and film (Ball and Smith)

  2. material culture (Tilley) and 

  3. cultural studies (Van Loon).

Penggunaan metode etnografi ini sangat membantu dalam bidang seperti kepolisian, Kejahatan, agama, profesi dan kesejahteraan sosial. Teknik pengumpulan data dijelaskan oleh pakar-pakar seperti 

  1. participant  observation  (Emerson, Fretz  and  Shaw), 

  2. interviewing (Heyl), 

  3. life histories (Plummer) and 

  4. narrative analysis (Cortazzi).

Sebagian fokus pada isu-isu seperti:

  1. research  ethics  (Murphy  and  Dingwall),

  2. feminist  ethnography  (Skeggs)  and  

  3. computer-assisted  qualitative  data  analysis packages (Fielding). 

tetapi ada juga yang fokus pada isu yang tidak biasa seperti Mieczkowski menulis very postmodern style about the role of drama as performed research


Cerita:

Gagasan Snouck Hurgronje, ketika pemerintah kolonial marah karena biaya yang sangat besar adanya pesta rakyat terutama pada saat lebaran idul fitri, melalui metode etnografi yang disusun oleh Snouck Hurgronje, maka dengan tegas snouck hurgronje melarang keputusan gubernur jenderal tersebut karena akan berdampak besar dan dapat meletupkan peperangan yang biayanya akan jauh lebih besar


Minggu, 25 September 2022

Metode Etnografi

 Metode Penelitian Etnografi

Pengertian

Etnografi secara etimologis berasal dari bahasa yunani yang artinya “Ethnos”berarti Etnik atau Ciri suatu masyarakat atau bangsa dan “Graphein” artinya tulisan atau gambaran. sehingga dapat diartikan sebagai suatu tulisan yang menggambarkan mengenai suatu budaya masyarakat. Etnografi menurut Brewer (2000:10)  yaitu studi tentang manusia dalam situasi atau lapangan tempat tinggal manusia yang diteliti secara alami, dengan metode pengumpulan data untuk menangkap makna sosial dan aktivitas sehari-hari, melibatkan peneliti yang berpartisipasi langsung, atau untuk mengumpulkan data secara sistematis tanpa memaksakan makna pada mereka secara eksternal. 

Menurut Cresswell (2016)  Etnografi adalah suatu desain kualitatif dimana seorang peneliti menggambarkan dan menginterpretasikan pola nilai, perilaku, kepercayaan dan bahasa yang dipelajari dan dianut oleh suatu kelompok budaya. Etnografi merupakan studi yang mendeskripsikan bagaimana individu-individu menggunakan budayanya untuk memaknai realitas dan mengkonstruksi interaksi sosial antara Individu-Individu dengan kelompok-kelompok sosial, cara pandang dan memahami secara alami disebut the native of view. (Ellingson, 2009; Wimmer & Dominick, 2006). Jadi, penelitian etnografi adalah sebuah penelitian kualitatif yang melakukan studi terhadap kehidupan suatu kelompok masyarakat secara alami untuk mempelajari dan menggambarkan pola budaya satu kelompok tertentu, dalam hal kepercayaan, bahasa, dan pandangan yang dianut bersama dalam kelompok itu.

Perlu diketahui bahwa penelitian etnografi adalah ciri khas penelitian ilmu Antropologi. Penelitian ini mengutamakan adanya sense of realities peneliti, proses berpikir mendalam dan interpretasi atas fakta berdasarkan konsep yang digunakan, mengembangkannya dengan pemahaman yang dalam serta mengutamakan nilai-nilai yang diteliti. Oleh karenanya, untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan penelitian ini, metode ini mengutamakan pembaruan antara peneliti (participant observation) dengan objek yang diteliti dalam waktu yang cukup lama.

Tingkah laku individu dipelajari dalam konteks hari ke hari berbanding melakukan eksperimentasi yang dilakukan oleh peneliti. Data dikumpulkan dari berbagai sumber, namun observasi dan wawancara yang menjadi alat utamanya. Pendekatan dalam pengumpulan data biasanya tidak terstruktur di awal penelitian. Ini dimaksud untuk memberi setting alami bagi peneliti. Keterlibatan peneliti dapat digambarkan dalam proses : mengamati, partisipasi, interaksi, analisis, refleksi, menulis, memikirkan kembali, mendeskripsikan budaya.

Creswell mengkategorikan penelitian Etnografi menjadi 2, yaitu:

  1. Etnografi realistis, peneliti memperoleh data menurut sudut pandang orang ketiga, etnografer berada di belakang panggung dan bebas nilai dari pikiran peneliti, Etnografi juga harus mampu memfilter informasi dari pihak ketiga yang sudah berada dalam lingkungan budaya tersebut dengan membandingkan dengan dokumen-dokumen lain, pengamatan eksternal, gambar dan artefak.

  2. Etnografi Kritis, yakni peneliti ikut menyuarakan dan mengadvokasi suatu kelompok budaya yang akan diteliti, peneliti ikut serta dalam partisipatif observer dan tidak bebas nilai.


Etnografi dan Antropologi

Antropologi adalah ilmu yang sepenuhnya dibuat dari catatan lapangan mengenai kehidupan sosial (Margaret Mead). Kemunculan Etnografi sebagai suatu metode sangat berkaitan erat dengan ilmu antropologi yaini suatu ilmu yang mempelajari secara mendetail mengenai kebudayaan yang ada pada manusia. Antropologi seringkali melakukan riset etnografi untuk mengetahui karakteristik masyarakat seperti:

  1. Latent, masyarakat tertutup/tersembunyi

  2. Aware, masyarakat yang sudah menyadari isu

  3. Active, masyarakat yang sudah aktif melakukan tindakan-tindakan tertentu

Penelitian etnografi berkembang karena ilmu antropologi yang menetapkan standar penelitiannya yang akhirnya dikembangkan menjadi penelitian kualitatif etnografi. Menurut Adamson Hoebel Mengenai hubungan Etnografi dan Antropologi adalah Inti dari penemuan budaya antropologi dalam etnografi. Anthony F. Wallace menjelaskan semua perbandingan dan teori dari kerja dari budaya antropologi adalah tergantung pada gambaran etnografi nya. Clifford Geertz menjelaskan jika ingin memahami mengenai pengetahuan maka lihatlah apa yang terjadi dalam praktik kehidupan sehari-hari bukan teori-teori nya, dalam antropologi apa yang dilakukan praktisi di lapangan didapatkan dari etnografi.

Penelitian Etnografi menggunakan adanya sense of reality peneliti, proses interpretasi yang mendalam berdasarkan fakta dan pemahaman dengan nilai-nilai yang diteliti. Untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid maka harus benar-benar menyamakan frekuensi nya dengan masuk dan merubah diri menjadi bagian dari objek  seperti chanel TV kalau frekuensinya ketemu maka gambar akan dapat ditangkap. Pembauran ini dilakukan untuk waktu yang lama tetapi bagi mereka yang cepat bersosialisasi  dan dapat memahami lingkungan maka bisa dengan cepat menyesuaikan


Pentingya penelitian Etnografi

Menurut Margaret Mead bahwa apa yang orang katakan, apa yang orang kerjakan, apa yang orang katakan tentang apa yang mereka kerjakan bisa jadi sama sekali berbeda dan hal ini hanya dapat dibuktikan dengan penelitian mendalam yang menembus dinding pembatas pikiran seseorang. Penelitian Etnografi dapat menjawab pandangan perilaku manusia tersebut. hal inilah yang membuat penelitian dengan pendekatan etnografi menjadi berbeda dengan penelitian lainnya karena penelitian etnografi mengupas dan membedah kebudayaan sampai ke akarnya.


Waktu Pelaksanaan Penelitian Etnografi

Ukuran waktu pelaksanaan penelitian dengan menggunakan metode etnografi tidak terbatas pada ukuran waktu karena untuk masuk ke dalam suatu komunitas budaya yang akan diteliti tergantung pada secepat apa peneliti masuk secara mendalam dalam komunitas atau masyarakat budaya yang diteliti. Penelitian Etnografi baru diakui secara otoritatif memerlukan waktu  6 sampai dengan 18 bulan. Waktu 6 bulan jika peneliti sudah menguasai lingkungan bahkan mungkin akan lebih singkat apabila peneliti sebelumnya sudah masuk kedalam lingkungan yang akan diteliti dan telah menjadi bagian dari yang diteliti.

Ciri Penelitian Etnografi

  • Etnografi sepenuhnya disusun sesuai dengan pandangan, pengalaman warga pribumi (emic view)

  • Merasakan makna dan nilai yang melatarbelakangi terbentuknya budaya tersebut.

  • Wawancara mendalam dan observasi terlibat.

  • Peneliti tinggal di lapangan untuk belajar budaya yang dikajinya.

  • Analisis data menyeluruh (holistik).

Karakteristik Etnografi:

  • Dilakukan analisis data dan interpretasi data tentang arti dari tindakan manusia (human action)

  • Menggali atau meneliti fenomena sosial

  • Data tidak terstruktur

  • Kasus atau sampel sedikit

Prosedur Etnografi

  1. Pilih Tema kultural atau isu yang akan dipelajari dari suatu kelompok.

  2. Mengidentifikasi dan menentukan lokasi dari kelompok budaya yang akan diteliti.

  3. Menentukan apakah masalah penelitian ini adalah paling cocok didekati dengan metode etnografi.

  4. Tentukan tipe etnografi yang cocok digunakan untuk mempelajari konsep budaya tersebut.

  5. Kumpulkan informasi dari lapangan mengenai kehidupan dari kelompok tersebut.

  6. Tuliskan tentang gambaran atau potret kelompok budaya tersebut dari sudut pandang partisipan maupun dari sudut pandang peneliti itu sendiri.

Langkah-langkah Penelitian Etnografi

  1. Melakukan observasi preliminary eksternal, sebelum masuk pada penelitian yang akan didalami terlebih dahulu mempelajari dan mengamati perilaku masyarakat yang akan menjadi objek penelitian, Melakukan penelusuran 

  2. Memetakan Objek penelitian, Setelah mendapatkan gambaran mengenai objek yang diamati maka dapat menentukan critical point dari objek yang diamati termasuk menemukan key informan dan jalur masuk penelitian.

  3. Menetapkan seorang Informan, seorang informan adalah orang yang benar-benar mengetahui dan paham mengenai budaya tersebut serta mampu berkomunikasi dengan peneliti. Terdapat 5 syarat informan yaitu enkulturasi penuh artinya memahami budayanya dengan baik, keterlibatan langsung, suasana budaya apa adanya, memiliki waktu yang cukup dan non-analitis

  4. Mendekati Informan dan menyamakan tujuan dengan informan agar dapat masuk kedalam frekuensi informan, jangan sampai informan resisten dengan penelitian kita. ada dua cara yang dapat dilakukan pertama melalui perantara yaitu informan yang dapat menjembatani peneliti dengan budaya yang akan diteliti dan kedua melalui penjelasan mengenai maksud tujuan penelitian serta dapat meyakinkan bahwa penelitian ini akan memberikan manfaat bagi budaya masyarakat.

  5. Melakukan wawancara dengan informan, melakukan wawancara sembari menjalankan aktivitas, wawancara bersifat informal seperti berbincang dan berdiskusi ringan.

  6. Melakukan analisis dari wawancara, hasil rekaman dan tulisan wawancara dianalisis secara mendalam agar mendapatkan gambaran umum mengenai nilai budaya tersebut.

  7. Mengajukan pertanyaan deskriptif, hasil analisis wawancara dijadikan dasar untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan lebih mendalam dan menanyakan ke beberapa informan lain untuk melihat hasil secara komprehensif.

  8. Membuat analisis deskriptif, melakukan analisis wawancara mendalam untuk menyimpulkan hasil, semakin dalam penelitian dan wawancara berulang-ulang akan memperoleh hasil yang lebih optimal

  9. Mengajukan pertanyaan struktural, hasil analisis deskriptif dapat digunakan untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan yang lebih terstruktur. Dalam penelitian etnografi wawancara yang lebih dalam akan terus menggali nilai-nilai yang tidak tampak hanya dengan sekali wawancara.

  10. Membuat analisis Taksonomi, menganalisa wawancara dengan membuat taksonomi serta mengelompokkan ke dalam kelompok-kelompok tertentu, untuk gambaran yang masih ambigu dapat dilanjutkan dengan wawancara berikutnya.

  11. Mengajukan Pertanyaan kontras, hasil analisis taksonomi memberikan gambaran data-data yang masih ambigu dan di lakukan pertanyaan kontras untuk mengetahui perbedaan-perbedaan tersebut, selain itu dapat juga dilihat antara artefak, gambar kebudayaan yang berbeda dari penjelasan, untuk memperdalam nilai penelitian.

  12. Membuat analisis Komponen, merupakan suatu pencarian sistematik berbagai atribut yang berhubungan dengan simbol-simbol budaya

  13. Menganalisa tema budaya

  14. Membuat Tulisan Etnografis


Jenis Instrumen Penelitian Etnografi:

  1. Indepth Interview, yaitu wawancara mendalam dan menggali yang dilakukan peneliti kepada informan

  2. LIfe History, yaitu menggali sejarah kehidupan informan dan masyarakat

  3. Participant Observation, yaitu menjadi anggota kelompok objek yang diamati dan mengobservasi dari dalam kelompok itu sendiri

  4. Focus Group Discussion / FGD, yaitu melakukan dialog mendalam dengan beberapa informan untuk menggali lebih dalam budaya masyarakat setempat

  5. Document Analysis, yaitu menganalisis dokumen-dokumen, gambar, artefak dan sebagainya yang menjadi bagian dari budaya


Bentuk Laporan Etnografi yang dapat disajikan Peneliti

  1. Social Science Description, yaitu bentuk laporan etnografi yang menggambarkan secara menyeluruh sosial masyarakat melalui pengamatan, wawancara dan analisis dan merefleksikan pandangan budaya tersebut dari dalam dan terbatas hanya menyerupai konsep yang ada dalam budaya masyarakat yang diamati, gambaran deskripsi ini berupa tiruan dari gambaran budaya masyarakat setempat karena pada dasarnya peneliti hanya orang luar yang mencoba menjelaskan konsep etnik mendekati konsep analisis informan.

  2. Etnografi Description, yaitu bentuk laporan etnografi yang menerjemahkan bahasa budaya lokal kedalam tulisan dengan bahasa sendiri peneliti tanpa menghilangkan makna substansi dan unsur-unsur budaya, sehingga bahasa tulisan ini harus mampu membawa pada kondisi yang sebenarnya dari hasil penelitian.

  3. Ethnography Standard, menunjukkan tingkat keragaman bahasa penduduk, penelitian berusaha menjelaskan keberagaman tersebut dalam suatu standar yang dapat dipahami secara luas.  konsep budaya asli dijelaskan secara analitis sehingga kajian etnografis berakar kuat dalam bahasa yang digunakan penduduk asli. konsep dan makna yang dimiliki informan dimasukkan kedalam deskripsi dan memberikan pengertian mendalam mengenai pandangan hidup lain yang dimiliki masyarakat

  4. Life Histories, yaitu laporan etnografi yang menggambarkan budaya dengan mengungkapkan pengalaman hidup dalam membentuk arti dan makna budaya, yang saling berinteraksi dan mempengaruhi.

  5. Etnografi Novel, yaitu laporan etnografi yang penulisan yang dikemas dalam cerita, sehingga pembaca dapat memahami makna budaya melalui penyelaman ke dalam cerita novel tersebut, tulisan novel ini mengandung makna budaya yang dinikmati pembaca dan membawa pembaca ke dalam suasana budaya yang sebenarnya.

  6. Etnografi Monolingual, adalah laporan etnografi yang bersumber dari cerita masyarakat setempat yang di dekonstruksikan dengan cermat semantiknya oleh etnografer, misal cerita rakyat, kejadian bersejarah yang sudah ada dalam masyarakat yang dibedah oleh peneliti dalam memahami budaya masyarakat. Etnografi ini juga sering disebut mirip dengan sejarah kehidupan.

Teknik Studi etnografi yaitu:

  1. Information Understanding, memberikan dan menjelaskan mengenai tujuan kegiatan dan meyakinkan bahwa kegiatan ini akan banyak memberikan manfaat bagi enik sosial yang dipelajari

  2. Goalkeeper, masuk melalui perantara seseorang yang dapat menjembatani antara sosial yang akan dipelajari dengan peneliti

Thick Deskripsi (Deskripsi bersifat detail mendalam dan holistik) dengan cara-cara:

  • Pola-pola perilaku verbal dan non verbal dari masyarakat yang memiliki budaya yang kita teliti

  • Interaksi antar individu

  • Pengalaman-pengalaman budaya yang dimiliki dari masyarakat yang diteliti

  • Sistem kepercayaan dan keyakinan dalam masyarakat tersebut

  • Sistem nilai yang ada di dalam masyarakat

  • Alat-alat atau artefak-artefak yang digunakan dalam keseharian antara lain pola pakaian, banugnan-bangunan dan berbagai media pelengkap hidup


Metode Pengumpulan data:

  1. Observasi non partisipasi: pengamatan tanpa terlibat di dalam atau pengamatan dari luar objek terhadap aktivitas-aktivitas sosial budaya dan kelompok yang diteliti.

  2. Observasi partisipasi, melakukan pengamatan dengan melakukan partisipasi terhadap aktivitas-aktivitas sosial dengan ikut terlibat sebagai bagian dari objek yang diamati.

  3. Wawancara mendalam, bersifat informal dan mampu menggali nilai-nilai yang dipercaya dalam masyarakat.

  4. Teknik pengosongan nilai yang ada dalam peneliti (hanya mengaktifkan nilai pikirannya saja).

  5. Dokumen dan artefak, mengkaji informasi dari data tertulis maupun artefak.

  6. Rekaman audio dan video, Gambar dan buku diary penelitian.


Analisis data

  • Analisis domain yaitu analisa secara menyeluruh dari objek penelitian melalui pemahaman tiap-tiap aktor dan budaya lingkungan agar kita memperoleh gambaran secara umum dan luas mengenai objek yang diamati

  • Analisis taksonomi, yaitu menjabarkan dan menyusun serta mengelompokan analisis domain-domain menjadi lebih rinci

  • Analisis komponensial, yaitu mencari ciri spesifik pada setiap struktur atau elemen-elemen, analisis dilakukan melalui observasi dan wawancara terseleksi dengan pertanyaan kontras membandingkan untuk mengetahui kebenaran yang lebih mendetail, teknik menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi yang bersifat triangulasi.

  • Analisis tema kultural yaitu mencari hubungan antara domain secara keseluruhan dan menentukan tema atau judul penelitian.