Jumat, 30 September 2022

Inside Bureaucracy

Inside Bureaucracy

(Anthony Downs, 1964)


Birokrasi masih memiliki stigma negatif walau birokrasi adalah institusi yang sangat penting di setiap negara, mereka membuat keputusan yang penting dalam mempertajam ekonomi, politik, sosial dan bahkan moral. Max Weber (sosiolog) adalah orang yang pertama kali mencetuskan konsep birokrasi dan berkembang menjadi teori organisasi, kemudian di tajamkan lagi oleh pandangan march dan simon, menghadirkan teori birokrasi bagi pembuat keputusan yang bertujuan untuk mencapai kemampuan memprediksi. Dasar teori birokrasi terus berkembang mulai dari dari traditional ekonomi dari Adam smith dan sampai pada ilmu politik yang ditulis oleh simmel, truman,n buchanan, tullock, rieke dan simon


Definisi

Organisasi adalah suatu sistem aktivitas koordinasi yang sadar atau upaya dari dua orang atau lebih yang secara eksplisit dibuat untuk mencapai tujuan akhir/maksud akhir. Birokrasi adalah salah satu contoh dari sebuah organisasi, secara harfiah Birokrasi berasal dari kata bureaucracy (bahasa inggris bureau + cracy), diartikan sebagai suatu organisasi yang memiliki rantai komando dengan bentuk piramida, di mana lebih banyak orang berada di tingkat bawah daripada tingkat atas, biasanya ditemui pada instansi yang sifatnya sipil maupun militer.

Birokrasi memiliki 4(empat)  karakteristik (Downs, 1965) yaitu:

  1. Bentuk organisasi yang sangat besar, dengan bentuk piramida dimana bagian atas lebih sedikit.

  2. Secara umum semua anggotanya adalah karyawan tetap, dan memperoleh hampir total pendapatan dari birokrasi, pegawai full time.

  3. Dipekerjakan, dipromosikan dan ditahan secara teori melalui penilaian yang hasil kinerja nya bukan karena agama, ras, kedudukan sosial, atau sesuku atau bukan karena kedekatan dengan pimpinan politik yang berganti setiap periode.

  4. Hasil pekerjaan tidak secara langsung dapat dievaluasi oleh pasar, bukan transaksi langsung apa yang saya berikan dan apa yang saya dapatkan.

Dari keempat hal tersebut timbul masalah-masalah dari birokrasi seperti:

  1. Organisasi yang besar menghadapi masalah administrasi yang substantif.

  2. Pekerja tetap memberikan rasa aman sehingga tidak terlalu tertekan dan tidak memaksimalkan diri karena keamanan kerja (birokrasi harus mampu bersaing dengan pasar kerja diluar).

  3. Kebijakan personal tergantung dari aturan kinerja berarti tergantung dari atasannya  untuk memperoleh promosi dibanding dari mereka yang dilayani, dan terkadang mereka lebih termotivasi untuk berperilaku mengejar promosi, hanya pada fokus mentaati aturan untuk promosi.

  4. Tolak ukur keberhasilan output sulit diukur sehingga kinerja secara utuh tidak dapat dievaluasi melalui pasar.


Birokrat adalah mereka yang bekerja di birokrasi yang didefinisikan sebagai seseorang yang:

  1. Bekerja di organisasi yang besar.

  2. Sebagian besar penerimaan diperoleh dari bekerja di birokrasi dan waktu full di birokrasi.

  3. Dipekerjakan, di promosikan dan dipertahankan paling utama dari kinerjanya.

  4. Memproduksi hasil yang tidak dapat dievaluasi pasar.


Teori berdasarkan hipotesis utama:

  1. Official (semua pegawai berusaha mencapai tujuan rasionalnya, dengan cara yang paling efisien , cost rendah, kapasitas terbatas dan keuntungan yang maksimal)

  2. Official in general have complex set ketika dihadapkan pada tujuan-tujuan dan suasana yang kompleks antara individu dan dan lingkungan yang dilatarbelakangi oleh kekuasaan, pendapatan, prestige, keamanan, kenyamanan, loyalitas (ide, institusi dan negara), kebanggaan atas pekerjaan yang luar biasa, hasrat untuk kepentingan publik. Gambaran nya dapat dibagi kedalam beberapa kategori tertentu yaitu:

  1. Purely self interest officials yaitu mereka yang termotivasi karena manfaat buat diri sendiri dibanding untuk kepentingan sosial, tipe ini terdiri atas:

  • Climber, yaitu mereka yang memaksimalkan kekuasaan, pendapatan dan prestige untuk tujuan pribadi, mereka mengejar porosi ke level yang lebih tinggi, meningkatkan status, jabatan dan posisinya, atau melompat untuk mendapatkan karir dan jabatan yang lebih baik

  • Conserves, mereka yang mencari keamanan dan kenyamanan, tidak mengejar jabatan asal di home base atau di bidang yang sama dan terjamin keluarga dan kepentingannya. Mereka merasa nyaman di zona nyaman dan takut akan perubahan karena dapat mengurangi kehadiran prerogatif mereka.


  1. Mixed-motive official memiliki gabungan ketertarikan pribadi dan loyal altruistik, yang terdiri atas:

  • Zealots, yaitu setia tapi terbatas pada kelompoknya, mereka mencari kekuasaan dan mereka dapat memperbarui kebijakan sesuai dengan tujuan dan kepentingan kelompoknya.

  • Advocates, yaitu loyal kepada kebijakan yang luas bagi organisasi, memiliki dua kaki loyal kepada organisasi dan juga kepada masyarakat yang dilayani. mereka tidak mengabaikan kepentingan organisasi sekaligus tetap menampung serta memuaskan kebutuhan masyarakat luas yang di layani.

  • Statesman, yaitu loyal kepada masyarakat dan bangsa secara keseluruhan. Seorang yang idealis, mereka mencari kekuasaan untuk alasan altruistik, memiliki intrinsik yang tinggi untuk melayani masyarakat.


The Environment

Lingkungan tidak berpijak pada satu teori tetapi multi teori yang simultan. Sebuah dunia dimana banyak teori berjalan satu sama lain dan dasar dasar yang menggerakan tindakan adalah input atau informasi yang diperoleh.  tetapi perolehan informasi memiliki kendala antara lain:

  1. Informasi sangat mahal karena membutuhkan waktu, usaha dan biaya.

  2. Pembuat keputusan memiliki keterbatasan kemampuan dan keterbatasan waktu berdasarkan data yang tidak semua terserap.

  3. Walaupun beberapa kemungkinan informasi yang tidak pasti  dapat dieliminasi, ternyata masalah yang penting ada di informasi yang tidak pasti tersebut.

sejauh ini institusi dapat berupa demokrasi, totalitarian, monarki, tradisional atau bentuk lain dari birokrasi yang lebih spesifik. 


Hirarkis

Hirarkis yang melekat pada struktur birokrasi menurut max weber ada 4 ciri yang fundamental pada birokrasi yaitu:

  • Hirarki organisasi

  • Perluasan penggunaan aturan, aturan yang interpretasikan dari sudut pandang birokrasi sehingga meluas menurut pandangan birokrat misal UU yang diturunkan ke PP, Peraturan Menteri, Peraturan Dirjen atau SOP Kepala Kantor

  • Impersonality prosedur (berdasarkan prosedur), pelaksanaan kegiatan berdasarkan aturan yang telah ditetapkan 

  • Pegawai yang terspesialisasi

Tetapi weber mengabaikan ciri lain dari suatu organisasi yang sangat penting yaitu informal struktur dan komunikasi humanistik.

Kenapa birokrasi harus memiliki authority hierarkis? ada 2 alasan yaitu:

  1. Untuk menset konflik yang tidak terelakkan yang muncul pada suatu organisasi yang besar, semakin besar maka semakin besar potensi konflik karena interpretasi dan pandangan subjek serta kepentingan masing-masing subjek dan kelompok akan semakin besar.

  2. Perbedaan setiap bagian  mempengaruhi cara pandang masing-masing bagian terhadap realitas dan stok informasi yang mereka miliki, sehingga menyebabkan perkembangan pola perilaku yang tidak konsisten dalam mencapai tujuan dasar yang sama. Maka dari itu perlu hierarkis, karena jika semua perbedaan pendapat dengan voting memunculkan ketidakefisienan, tingkat hierarkis  level mengurangi ketidakefisienan yang terjadi. Selain itu kekuasaan untuk membuat penyelesaian konflik juga merupakan pilihan untuk dapat didelegasikan kepada sebagian kecil anggota organisasi pada level di bawahnya. Hierarkis juga memberikan efisiensi komunikasi karena jumlah perwakilan semakin kecil dan dianggap bahwa perwakilan ini memahami apa yg ada dibawahnya (prinsip representatif). Hierarkis organisasi juga penting karena kebutuhan komunikasi yang efisien, bahkan sekecil apapun komunikasi karena setiap orang memiliki karakter pandangan berbeda dengan orang lain.


Birokrasi harus memiliki mekanisme sendiri dalam meredakan konflik, beberapa konflik sering disebabkan karena pola perilaku dan keterbatasan sumber daya, kekuasaan untuk membuat penyelesaiaan masalah harus didelegasikan ke bawah.  begitu juga seterusnya sampai ke bawah sesuai ukuran masing-masing level. Komunikasi dari atas ke bawah, dari level ke level berikutnya di bawah, proses trafic ini sering membuang-buang waktu, mengirim pesan ke bawah dan bawah kembali mengirim pesan kembali begitu seterusnya baik ke bawah dan ke atas,  bahkan seringkali informasi-informasi yang diterima tidak relevan dengan pekerjaanya. Hierarkis pembagian akan menyeleksi bagaimana mana saja ke bawahnya yang perlu informasi, dan setiap komunikasi berbeda level akan memiliki karakter yang berbeda juga sehingga bias akan selalu ada, bagaimana dari pimpinan eselon 2 dengan [pengetahuan nya menyampaikan pada level eselon 3 begitu juga seterusnya. semakin berbeda bagian dari birokrasi menyampaikannya maka semakin sedikit detail informasi yang dia dapat proses.

jadi akan sangat lucu, informasi yang terserap sampai ke bawah relatif kecil dari yang disampaikan oleh atas, padahal di bawah mereka mengetahui secara luas seluk beluk masalah tapi informasi atau perintah dari atas selalu kecil yang diterima, sebaliknya pimpinan diatas  mengetahui sedikit tentang apa yang masing biro aparatur kerjakan, bagaimanapun, tidak ada yang pernah tahu apapun tentang apa yang terjadi di birokrasi.

Ada banyak bentuk dari hirarki struktur yang paling signifikan adalah :

  1. Tall hierarkis (dengan jarak kontrol yang sempit tetapi banyak level) atau Struktural,  bentuk ini sering kali banyak terjadi konflik, heterogen, sangat specialis staf, high rate of internal technical innovation, dan organisasi yang komplek.

  2. Flat hierarchies (dengan jarak kontrol yang lebar dan sedikit level) atau fungsional. flat hierarkis lebih tepat untuk organisasi yang sedikit konflik, lingkungan yang stabil, staf umum tidak terspesialisasi, anggota yang homogen.


Masalah komunikasi dan kontrol dalam birokrasi hirarkis

  1. Masalah distorsi pesan

Bayangkan apabila sebuah organisasi yang terdiri dari ribuan pegawai, dan informasi dari ribuan pegawai itu diserap oleh tiap-tiap level, misal ribuan pegawai  bc ada 100 kantor, dan dari 100 kantor ada 25 kanwil lalu laporan di jadikan satu lembar untuk diserahkan ke seorang decision maker, tentu informasi yang ada tidak terserap dengan baik apalagi tiap level memiliki distorsi yang berbeda-beda lagi.

Pada setiap level  menurut Tullock ada kecenderungan tiap level untuk mengangkat nilai yang secara kepentingan level atau kelompok lebih berharga dan bermanfaat untuk kelompoknya masing-masing. Semua tipe official akan tergoda untuk mendistorsi informasi yang mereka loloskan dengan cara:

  1. Dengan meminimalkan atau menemukan informasi yang tidak favorit bagi kinerja dan kemampuan mereka, serta melebih-lebihkan informasi yang menguntungkan mereka.

  2. Dengan tidak menekankan informasi yang tidak membuat nyaman atasan mereka (menutup realitas agar kelihatan baik), terutama bagi kelompok-kelompok birokrasi climber yang ingin cari muka dan selalu tampil baik di depan atasan untuk mengejar promosi. Sementara Advocates dan Zealots lebih sedikit mengalami distorsi bahkan menjadi antagonize ke atasan mereka jika mereka melakukan mereka tetap akan melanjutkan ide mereka terhadap organisasi dan masyarakat walau mereka merusak kesempatan promosinya

  3. Dengan menseleksi informasi yang merekaa lolos kan ke atas maka itu akan mengindikasikan bahwa kebijakan sekarang akan terus dilanjutkan (ada maksud tersembunyi dari kebijakan tersebut seolah-olah dianggap baik dan terus diberikan kesempatan untuk terus dikerjakan) atau dengan tambahan sumber daya yang dipilih untuk kepentingan pekerjaan tersebut.

Pada semua kasus, pegawai birokrasi sangat termotivasi untuk menekan semua  informasi yang mengindikasikan bahwa fungsi mereka harus dihapuskan atau diberikan sedikit sumber daya. mereka harus dianggap penting dan kapasitas mereka cukup atau kurang karena ingin selalu meminta tambahan sumber daya, mereka enggan untuk mengatakan berlebihan atau mengatakan unit mereka cukup karena akan mengurangi sumber daya yang dimiliki.

sekilas, ada kemungkinan distorsi yang serius yang muncul dari 2 faktor:

  1. Seorang superior bisa jadi menerima informasi yang lebih akurat dari sumber, dengan demikian dapat menelaah distorsi dari informasi tersebut.

  2. Pegawai menyadari bahwa dia telah menerima informasi yang bias dari subordinatenya maka dari itu dia mengcounter bias dengan dirinya untuk menghilangkan efek dari bias tersebut

Mekanisme ini secara ekstrem masih lemah dalam birokrasi yang luas. Birokrasi atau publik sektor tidak memiliki ukuran yang yang objektif seperti pada sektor swasta, dan tentu akan sangat sulit bagi seorang superior membedakan antara laporan yang akurat dan distorsi yang disengaja.

untuk mengurangi distorsi karena bias, banyak dari atasan mencoba menghilangkan bias informasi dari bawah dengan mengeliminasikannya. sebagai contoh E level subordinat melebih-lebihkan kebutuhan untuk pendanaan, D level diatasnya bisa memperoleh keuntungan negosiasi ke atasannya di C level dengan menunjukkan bahwa bawahannya D level membutuhkan sumber dana lagi. Distorsi yang terjadi  dari tiap-tiap level akan berpengaruh besar semakin ke atas akan semakin besar jurang distorsinya, pimpinan birokrasi dapat membatasi efek dari distorsi dengan beberapa peralatan sebagai berikut:

  1. Ukuran yang objektif dari kinerja, dapat jelas dihitung dan dievaluasi misal jumlah masalah yang ditemui oleh bawahan (tidak melihat kualitas masalahnya), jumlah kata yang diketik sekretaris, atau jumlah dokumen yang dikerjakan (tidak melihat seberapa susah masing-masing dokumen hanya dilihat dari kuantitasnya saja).

  2. Redundancies (pengulangan yang memiliki makna sama) melihat banyak laporan dan menganalisa mana masalah-masalah yang sering muncul dari laporan tersebut.

  3. By-pass mechanisms, turun langsung ke bawah tidak melewati middle lagi. langsung dikonfrontir dengan petugas di lapangan serta masyarakat yang dilayani.

  4. Use flat hirarkis, menyederhanakan struktur birokrasi menjadi flat birokrasi 


Masalah distorsi langsung

Proses transmisi perintah atau informasi langsung dari atas ke bawah berbeda dengan dari bawah ke atas, informasi yang turun dari atas biasanya berbentuk instruksi/perintah, dan instruksi yang naik ke atas biasanya berbentuk laporan. Informasi yang turun dari atas  oleh masing-masing level akan dibuat lebih spesifik atau di spesailiasi sampai ke bawah sedangkan informasi yang naik ke atas akan semakin tergeneralisasi ke atas. Pimpinan utama memberikan kebijakan umum dan selanjutnya di dekonstruksikan pada masing-masing level sampai pada level bawah yang lebih spesifik,

Pemimpin dapat mengembangkan alat kontrol untuk mengurangi kebocoran dari autoritas dengan cara sebagai berikut:

  1. Standar kinerja yang objektif untuk jenis pekerjaan yang spesifik  dan mendorong pola perilaku produktif pada seseorang dalam melakukan pekerjaan (kompetensi pada jenis pekerjaanya).

  2. Mengurangi keragaman tujuan diantara semua pegawai dengan rekrutmen yang selektif, intensive training, mengebangkan bidaya serta ideologi organisasi. sehingga pegawai relatif menjadi homogen, dan menjadi deviasi lebih sempit dan tujuan bersama akan lebih selaras.

  3. Menggunakan semua anti distorsi yang digambarkan dalam analisis komunikasi sebagai perolehan informasi yang akurat tentang perilaku turunan pegawai dari apa yang di hasratkan, tapi hal ini bukanlah perkara yang mudah karena sulit bagi top leader mengetahui secara detail perilaku pegawai lower level dalam pencapaian tujuan.

  4. Menciptakan kompetisi diantara berbagai bidang / segment birokrasi . kompetisi akan merangsang rival untuk berpikir cara baru yang terbaik untuk mencapai tujuan dinding hanya berserah semua pada top leader, rival juga mengembangkan kritik pada masing-masing performance


Down;s Third Law

“Unrestrained conflict shift power upward"

konflik dapat menciptakan peningkatan individu yang berkonflik'

Organisasi harus bisa untuk mengakomodasi informal dan minat individu dari anggotanya dan membuat tujuan organisasi tercapai dengan memanfaatkan tujuan anggotanya, tidak diragukan lagi banyak organisasi saat ini dapat memungkinkan meningkatkan proporsi usahanya nya secara langsung pada tujuan formal tanpa secara serius menegaskan tujuan anggotanya, dari analisis tersebut dapat disimpulkan:

  1. a great deal dari perilaku organisasi tidak bisa sepenuhnya dikontrol oleh pimpinan. fokus pada segmen tertentu mengurangi fokus pada segmen lain. Tidak ada cara yang sempurna dalam mengatur organisasi birokrasi. sehingga perlu strategi memprioritaskan pada segmen yang penting serta memberi manfaat yang lebih besar.

  2. Mengatur ulang, organisasi birokrasi cenderung untuk menyusun ulang are yang tidak terkontrol dengan baik dibanding secara signifikan menguranginy

  3. Pimpinan organisasi cenderung menghindari atau takut dengan investigasi dari pihak luar,  karena investigasi akan menunjukkan kelemahan-kelemahan dan perilaku yang tidak sesuai dengan aturan formal


The objektif dari menghilangkan semua sampah dari birokrasi adalah tidak mungkin dan tidak diinginkan. itu tidak mustahil karena tidak ada manusia dalam organisasi pernah memilih mendekati 100% dari usaha untuk mencapai tujuan formal secara langsung, tidak mungkin seseorang benar-benar bekerja 100%  sesuai formalitas organisasi yang ada, sampah disini adalah perbuatan yang tidak efisien misal komunikasi double, laporan dobel atau pekerjaan yang tidak efisien, dan yang paling sulit adalah membedakan mana itu sampah atau bukan sampah


dinamik dari birokrasi : Their Life cycle 

Bagaimana birokrasi datang menjadi sekarang

Birokrasi tidak lahir tapi diciptakan,  penciptanya biasanya Zealot  yang sangat terobsesi tentang ide dan usaha mencari kecukupan dari ide nya untuk dapat dilaksanakan. Ide baru ini muncul spontan aja layakan molekul hidrogen di alam bebas. teori of cosmology dan tidak setiap Zealot sukses membuat organisasi, sukses hanya diperoleh jika ide ,sitasi dan waktu didukung dan menyatu dengan lingkungan. 

birokrasi secara normal dibuat oleh seorang zeolus dengan mengikuti 4(empat) cara yaitu:

  1. Kharisma yang konsisten, karismatik leader  dan pengikut utamanya yang setia yang merubah menjadi organisasi.

  2. Memisahkan dari organisasi yang sudah ada,  mungkin pada awalnya zealous berada pada anggota organisasi yang yang sudah ada, kemudian memiliki ide yang berbeda da suksess memisahkan diri dari organisasi sebelumnya untuk mendukung ide yang baru.

  3. Perkembangan kewirausahaan , group zealous yang pada dasarnya berada di luar organisasi  kemudian mendapat dukungan yang cukup dari idenya untuk membuat design birokrasi yang membawanya membangun organisasi.

  4. Menciptakan sesuatu dari ketiadaan, dengan kekuatan anggota dan dukungan sosial memahami kebutuhan dari organisasi dalam menyelesaikan kepastian fungsi. Selama periode ini, pemimpin konsentrasi atas usaha pembentukan fungsi seefisien mungkin sehingga mereka dapat mendemonstrasikan kepada klien mereka bahwa mereka mendapat support yang cukup. dengan kata lain mereka secara kuat berorientasi untuk menyelesaikan formal tujuan dari birokrasi.


Efek dari Penuaan Perilaku Birokrasi

  1. Birokrasi akan belajar tampil dengan fungsi yang disetujui secara efisien, efeknya adalah menciptakan tambahan kapasitas tanpa menambah sumber daya sehingga harus kreatif dan efektif untuk meningkatkan produk layanannya.

  2. Birokrasi menyempurnakan lagi peraturan-peraturannya semakin banyak pengalaman yang diterima semakin dapat untuk menciptakan peraturan yang siap menghadapi berbagai situasi.

  3. Tujuan birokrasi pada level pimpinan cenderung bergeser menuju pemeliharaan dan penyebaran pandangannya. Hal ini terjadi karena organisasi yang besar dan terus berkembang dan aturan bergeser dari atensi menjadi administrasi.

  4. Hal yang penting dari tipe pegawai dalam birokrasi cenderung bergeser. the zealous yang mendirikan menurut kekuasaan dan pengaruh karena zealot biasanya miskin administrasi sejak secara fokus konsen pada isu penting dan terlalu bias ketakutannya atas kebijakan untuk menempatkan internal konflik secara terpisah, converse cenderung untuk mendapatkan tambahan kekuasaan dan prestise karena mereka adalah administrator yang baik dan lebih flexible terhadap perubahan tujuan organisasi. ketika birokrasi menghadapi pergeseran lingkungan yang begitu cepat maka climber dan advocate cenderung maju ke depan karena mereka lebih inovatif.

  5. Yang tua dan yang besar , birokrasi menjadi subjek yang inersia atau lambat bergerak (efek tua dan besar), hal utama dari organisasi yang besar adalah besarnya biaya yang dikeluarkan dalam membuat peraturan, kebiasaan dan prosedur dan inter-personal network dari kewenangan komunikasi. organisasi yang besar lambat terutama bergerak menghadapi perubahan karena rentetan prosedur yang mengikutinya.

  6. Fungsi birokrasi cenderung melebarkan jangkauan, jika kepentingan dari fungsi sosial meningkat dan jatuh, birokrasi cenderung untuk mengambil fungsi baru agar dapat memelihara kekuasan, pendapatan dan prestise. Birokrasi menjadi inersia karena terlalu besar, ada gap aspirasi yang muncul dari top leader dan lower rank di asn birokrasi, dimana pemimpin menjadi bahkan lebih dari keinginan untuk menggeser tujuan  untuk memperoleh keuntungan dari sumber, mereka dengan keras dan sulit untuk membuat bawahannya mengikuti dan mengadopsi pola baru berperilaku sehingga top leader di birokrasi yang sudah tua menjadi seperti tahanan dan inersia pada operasionalnya.


Accelerator dan Accelerator Effect

jika birokrasi sebagai fungsi sosial tiba-tiba meningkat dan menjadi penting, birokrasi pada umumnya diberikan tambahan sumber daya oleh masyarakat untuk berubah menghadapi tuntutan dan tantangan yang terjadi. Perubahan di dalam birokrasi tersebut menciptakan kesempatan untuk promosi dan memaksa secara konstan merubah organisasi karena ketidakpastian hari ke hari dikarenakan pertumbuhan yang cepat. Kondisi ini akan cenderung menarik bagi climbers dan mengusir conservers. Pada akhirnya climber di birokrasi meningkat terutama pada posisi yang tinggi. Ketimpangan antara climber dan conservers akan semakin terasa dan pertumbuhan ini terjadi tidak normal karena kalah bersaing antara para pegawai. Para climber berhasil naik di posisi tinggi sementara conservers jatuh.

Climber orangnya inovatif dan kreatif dapat beradaptasi dengan perubahan. Akselerasi pertumbuhan menimbulkan efek yang cenderung  perlu tahan karena:

  1. Perkembangan birokasi yang tidak seimbang cendrung membangkitakan lebih banyak antagonism dari luar birokrasi yang terinvasi

  2. Pertumbuhan cenderung pada luar kutub yang pada dasarnya meningkatkan pada kepentingan fungsi sosial. maka society berhenti memberikan lebih banyak sumber daya.

  3. kegagalan untuk memelihara pada level yang sama dari talent yang tumbuh besar, sehingga tidak dapat menjaga hasil produk yang tinggi yang pada dasarnya membantu untuk memenangkan lebih banyak sumber.

  4. kebanyakan anggota yang berbakat harus menentukan lebih banyak administrasi yang mengurangi caliber mereka pada kinerja yang terlihat dalam sosial.

akselerator dan declarator pada prinsipnya mengindikasikan perubahan pada kuantitatif dimensions  dan juga pada kualitatif


Mengapa Birokrasi Mencari Perluasan

  1. Pertumbuhan yang cepat pada organisasi dapat menarik lebih banyak personil yang mampu dan lebih muda menahan pegawai competent.

  2. Ekspansi pada organisasi secara normal juga menyediakan pemimpin dengan peningkatan kekuatan, pendapatan dan prestise padahal mereka mendorong pertumbuhan kecuali jika mereka conservers

  3. Pertumbuhan cenderung mengurangi internal konflik pada organisasi dan membuat anggotanya meningkatkan status personalnya tanpa menyebabkan yang lain jatuh

  4. Peningkatan ukuran organisasi mengembangkan kualitas dan penampilannya dan kesempatan untuk bertahan 

  5. Karena tidak ada yang melekat apa dan untuk apa yang terlibat dalam birokrasi aktivitas membuat petugas untuk menimbang marginal return dari apa yang telah mereka habiskan melawan marginal cost.

kebanyakan pemerintah bertanggung jawab menghabiskan uang dalam pelayanan tetapi tidak untuk meraih keuangan. Penerimaan dari pelayanan birokrasi  secara umum memperoleh lebih sedikit dari yang mereka keluarkan. Padahal secara natural tekanan dari pemerintah memberikan mereka semi free god secara kontras pembayar pajak membayar pajak mereka tapi tidak menguntungkan mereka secara langsung. Pusat agensi kesesuain harus bisa merespon secara berat pada masing-masing birokrasi dan client utamanya untuk menentukan layanan yang sebenarnya. Birokrasi pemerintah pada akhirnya memperoleh sumber  yang berat keterpaksaan dibanding transaksi sukarela.


Practical Application of Theory

Pembuat keputusan memiliki 2(dua) tujuan utama yaitu:

  1. Untuk mampu memahami yang lebih baik dalam operasional birokrasi

  2. Untuk mampu membuat prediksi yang lebih akurat mengenai tingkah laku birokrasi

internal emenet dan aspek dari fungsi birokrasi


Rabu, 28 September 2022

Relasi Kebudayaan dan Kebijakan Publik

Relasi Kebudayaan dan Kebijakan Publik

Relasi kebudayaan mempertemukan 2 teori utama yaitu teori kebudayaan yang dikembangkangkan dalam ilmu antropologi dan sosiologi dengan teori kebijakan publik yang dikembangkan dalam ilmu administrasi  hukum dan politik. Dalam suatu kebijakan publik tidaklah semata-mata melihat pada aspek administrasi dan manajemennya saja tetapi melihat pada aspek hukum, politik dan respon masyarakat, dimana respon ini merupakan pandangan yang dapat ditelaah lebih jauh dalam kebudayaan masyarakat


Pemerintah dan Masyarakat di Era Postmodern

Era post modern ditandai dengan masifnya produk informasi yang jauh melebihi dari produksi kebutuhan lainya, di era industri produksi industri berupa barang dan jasa sudah melebihi kebutuhan masyarakat bahkan sampai pada spesialisasi sehingga proses produksi sudah menspesialkan produk-produknya pada kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendetail dan di era postmodern produksi informasi jauh lebih besar dari produksi-produksi lainnya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Perluasan konteks hubungan sosial ini tentu mempengaruhi hubungan masyarakat dengan pemerintah begitu juga sebaliknya. apalagi sumber informasi yang dicerna tidak sama antara masyarakat dan pemerintah.

Semakin terkoneksinya hubungan masyarakat yang tidak mengenal batas bertransformasi ke dalam globalisasi dan digitalisasi. perkembangan teknologi mentrigger konektivitas tersebut dan menjadi suatu masyarakat yang global. Penyelenggara negara dalam membuat kebijakan publik akan terbantu dengan arus informasi dan respon yang dapat ditangkap dari arus digital tersebut untuk di aplikasikan dalam kebijakan


Isi Kebijakan (Policy Content)

Sebuah peraturan yang diterapkan, berisi legal-normatif dimana mengatur masyarakat dalam spesifikasi aturan tertentu. Proses kebijakan (Policy proses), yaitu bagaimana proses kebijakan itu dibuat sampai diimplementasikan dan dievaluasi. proses awal tersebut karena muncul dari masyarakat itu sendiri


Antara kebijakan dan sistem regulasi

Suatu kebijakan yang telah disahkan, diundangkan dan masuk dalam lembar negara maka kebijakan tersebut telah menjadi sebuah regulasi yang harus dipatuhi oleh semua warga negara. Sebuah kebijakan jika dilihat dari sisi antropologi dan sosiologi sangat erat kaitanya karena munculnya kebijakan adalah karena masyarakat dan implementasi ke dalam masyarakat juga akan dapat dikaji dari sisi budaya masyarakat. Clifford Geertz (1973) kebudayaan adalah pola dari dan pola bagi tindakan, maka sama hal nya dengan kebijakan sebagai suatu tindakan sosial tidak bisa lepas dari pola dari dan pola bagi kebudayaan.

Suatu regulasi yang dibuat dan bertentangan dengan budaya masyarakat maka akan sulit untuk dilaksanakan. Dalam kajian Christensen & Rabbibhadana (1994) tentang kegagalan pemerintah Thailand membuat peraturan yang dapat berlaku efektif dalam pemanfaatan sumber daya hutan yang tidak terkendali, kegagalan tersebut terjadi karena unsur kebijakan bertentangan dengan nilai budaya masyarakat sehingga pelaksanaanya tidak efektif. Suatu kebijakan publik yang tidak berpijak pada ranah sosial budaya masyarakat maka akan sulit diterapkan.

Benda-Beckmann (1984) menerangkan kebijakan publik dan peraturan dibuat, ditransformasikan, dimodernisasi, diubah, dimanipulasi, diselewengkan dalam konteks sosial dan budaya hidup. suatu peraturan dan kebijakan tidak dilihat hanya sebagai konteks peraturan saja tapi diluar peraturan tersebut seperti interaksi sosial dan lingkup kebudayaan(Benda-Beckmann, 1984)


Regulatory Communities (Meidinger, 1987) atau policy communities atau policy network (Bennet & Howlet)

Komunitas regulasi adalah suatu komunitas yang berperan penting dalam menyuarakan perlunya peraturan, komunitas ini bisa berangkat dari birokrasi, tokoh-tokoh masyarakat, ormas, NGO dan berbagai sumber lainnya. menurut Meidinger, karakteristik dari komunitas ini adalah:

  1. Mempunyai hubungan dengan masyarakat yang lebih luas, tapi tetap memiliki keunikan tersendiri.

  2. Para anggotanya mempunyai hubungan terus menerus.

  3. Mengejar kepentingan sendiri dan selalu berjuang mendefinisikan visi yang sama tentang suatu kebaikan bersama.

  4. Para warga masyarakat saling mempengaruhi satu sama lain, saling merujuk dalam bertindak serta saling menginginkan suatu penghormatan.

  5. Masyarakat selain menjadi arena untuk mengejar kepentingan, juga sebagai forum dialog dan diskusi mengenai permasalahan yang perlu diangkat dan diatur.

salah satu contoh yang menjadi bagian dari komunitas kebijakan publik menurut (Britain & Cohen, 1980a) adalah birokrasi


Kesimpulan:

  1. Proses kebijakan selalu berada dalam interaksi sosial dan konteks kebudayaan

  2. Kebijakan dibuat dan dilaksanakan oleh suatu komunitas yang tergabung dalam regulatory communities/policy communities


Pengaturan negara sebagai sistem budaya

Mengapa pengaturan negara dikaji dengan menggunakan perspektif kebudayaan? dan bagaimana melihat pengaturan negara dalam perspektif kebudayaan? mereka yang melihat menggunakan perspektif budaya selalu berpegang pada tesis bahwa pengaturan negara merupakan refleksi dari kebudayaan, bukan sekedar aturan teks, normatif tapi merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat. Dalam penelitian Ihromi (1984) menyatakan kebudayaan merupakan dasar, desain, cetak biru dalam norma dan peraturan hukum serta perlindungan terhadap  norma melalui proses hukum. Kebudayaan merupakan perangkat ideasional (Goodenough,,.) simbol dan makna (Geertz, 1973) dalam mempersepsikan suatu persoalan atau masalah dan mewujudkannya dalam regulasi negara, dan mempersepsikan kembali regulasi yang sudah ada dengan perkembangan sosial yang ada.

Meidinger (1987) dalam membentuk peraturan dan kebijakan terlebih dahulu mengkaji proses nilai dan norma serta pendefinisian kepentingan yang mendasari kepentingan sosial dan tujuan nya. Kebudayaan adalah proses yang dinamis, dan akan terus berkembang dari waktu ke waktu. Benda-Beckmann (1986) melalui proses sosial suatu kebijakan dibuat, hukum diciptakan, dimanipulasi, diubah dan diterapkan, karena perkembangan budaya yang terus hidup maka akan selalu terjadi proses konstruksi dan rekonstruksi persepsi atau interpretasi para pendukung kebudayaan terhadap suatu objek yang akhirnya akan mempengaruhi kebijakan publik dan sistem regulasi yang mengatur objek tersebut.

Kebudayaan sangat terkait konteks situasi dan proses historis, yang merupakan hasil interaksi berbagai aspek, antara manusia dan manusia serta manusia dan lingkungan. Tidak ada keseragaman  uniformitas kebudayaan karena lokasi dan waktu menjadi faktor penting pembentuk kebudayaan tetapi di era kecanggihan komunikasi seperti ini tercipta super culture dimana masyarakat di berbagai belahan dunia terpengaruh oleh suatu budaya teknologi dan melihat input yang nantinya juga akan mempengaruhi budaya mereka dari informasi-informasi tersebut.

Alvesson (1993) menekankan organisasi selalu berhubungan erat dengan lingkungan kebudayaan yang ada di luarnya. hubungannya saling mempengaruhi. budaya organisasi dapat mempengaruhi lingkungannya dan lingkungan dapat mempengaruhi budaya  organisasi.  dan besar kecil pengaruhnya tergantung karakteristik dan perbedaan organisasi  dan lingkungan tersebut.


Open System Birokrasi (Birokrasi terbuka)

Birokrasi terbuka yaitu suatu pendekatan yang melihat situasi dan kondisi dalam menjalankan organisasi, kecenderungan mengesampingkan prinsip bahwa birokrasi selalu bekerja atas aturan prosedural dan struktur formal dengan hubungan yang bersifat impersonal maka dengan sistem open ini maka pemahaman mendalam dalam membaca situasi dan putusan lebih diutamakan, serta koordinasi menggunakan hubungan informal dan putusan dapat segera diambil. 

Moore (1983) menggambarkan birokrasi sebagai bidang sosial semi otonom yakni sosial yang mampu menghasilkan aturan-aturan, dan instrumen agar tunduk pada aturan tapi pada saat yang sama memiliki kerentanan terhadap aturan-aturan yang berasal dari luar sehingga disebut semi otonom. Tapi dalam pengertian saya bahwa menggambarkan sosial semi otonom dalam birokrasi adalah birokrasi diberikan kewenangan untuk membuat diskresi aturan dan kebijakan tapi dibatasi oleh ranah-ranah peraturan yang lebih tinggi.

Pada umumnya pendekatan dalam antropologi-sosiologi adalah pendekatan emik yaitu pemahaman menurut pandangan subjektif dari objek yang diteliti (actors point of view) dan pendekatan holistik yaitu pemahaman menyeluruh terhadap objek secara utuh dan menyeluruh (Brian & Cohen, 1980)  yang merupakan tradisi membawa penelitian antropologi dalam kajian organisasi, birokrasi, dan kebijakan publik. 


Source : Relasi kebudayaan dalam kebijakan publik dan sistem regulasi negara

Hanief Saha Ghafur (Universitas Indonesia)

Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, Vol. 25, No. 4, Oktober–Desember 2012, 263–270


Teori Organisasi untuk Administrasi Publik

Teori Organisasi untuk Administrasi Publik


(Michael M Harmon dan Richard T. Mayer)


BAB 11


Organisasi Publik adalah organisasi yang berdiri sendiri dan memiliki karakteristik yang berbeda dengan organisasi lainnya sehingga cara berpikir dan bergeraknya pun berbeda. landasan teori-teori yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa teori yang saling berinteraksi satu sama lain.


Teori Emergensi : Organisasi sebagai rasionalitas yang ditemukan


Dalam ilmu sosial positivisme melihat sebuah problematis dalam kondisi yang statis dan tidak problematis. hal ini tersebut dikritik dengan pandangan bahwa organisasi merupakan suatu proyeksi kesadaran manusia. jadi, apa yang dilakukan manusia dan organisasi tidak dapat dipandang objektif karena berdasarkan makna tindakan sosial yang dibentuk oleh makna-makna subjektif yang dibentuk para aktor kepada perilaku manusia (Weber, ..). Teori yang berlandaskan objektif hanya dilihat sebagai instrumen untuk mendesain awal organisasi sehingga perlu memperhatikan proses atau kelemahan dari teori objektif ketika itu sudah berjalan dalam tindakan-tindakan tersebut. 

Teori Emergensi yang dikembangkan oleh Mary Parker Follet (1868-1933) melihat dari sisi perspektif integratif dan terinspirasi dari gerakan pragmatis Amerika. Ide ini muncul karena mengedepankan sifat emergensi organisasi ketimbang tindakan organisasi yang rasional. Pendekatan pertama adalah seleksi alamiah oleh Karl Weick yang melihat tindakan organisasi ditentukan secara alamiah sesuai aksi dan respon tindakan dan cara memaknai aksi dan respon tersebut. pendekatan kedua adalah psikoanalitik oleh Orion White dan Cynthia McSwain melihat tindakan dari kerangka psikis meliputi hubungan energi tak sadar dengan kesadaran.

Instrumental rasional dalam organisasi sudah sangat mengakar dan kuat dalam cara berpikir, padahal kembali kepada pendekatan diatas apa yang akan terjadi adalah hasil reaksi tindakan-tindakan dan tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang statis. Organisasi menjadi suatu perwujudan  tindakan rasional. Rasionalitas telah menjadi fondasi utama organisasi tetapi Herbert Simon menyoroti bahwa rasionalitas memiliki keterbatasan kecerdasan, SDM, waktu, informasi dan perubahan. Tindakan rasional ini sangat bergantung pada pengalaman historis dan menjadi sebuah rekonstruksi artifisial yang menyesatkan, bukan dari asumsi deskriptif dan normatif dalam organisasi. 

Masing masing orang mengklaim tindakannya berdasarkan dari kesadaran kita yang muncul dari pengalaman sosial. orang bertindak secara spontan dalam menanggapi hakikat situasi sosial dan perubahannya serta menggunakan logika cepat dan pengaruh alam bawah sadar yang terbentuk dari pengalaman historis serta serapan informasi.

Perspektif pandangan:

  1. Rasional secara instrumen memandang pikiran mendahului, memunculkan, mengorientasi tindakan, padahal justru tindakanlah yang mendahului pemikiran sadar. kita seringkali bereaksi spontan terhadap respon tanpa memikirkan dahulu berdasarkan logika sadar. Makannya kadang kala seorang yang tahu teori ketika menerapkannya kesulitan karena tindakan dahulu baru pikiran sadar, sehingga sulit mengontrol tindakan berdasarkan teori.

  2. Tujuan sosial muncul dari proses sosial, proses bukan alat instrumen untuk mencapai tujuan

  3. perubahan lebih alamiah ketimbang stabilitas organisasi, sehingga mengenali rintangan perubahan bukan menciptakan perubahan baru dan biarkan alamiah jangan dibuat-buat

  4. organisasi digerakkan secara logis dan historis ketimbang politik

  5. tindakan administrasi adalah kesadaran diri, bukan memastikan tindakan yang tepat secara institusional

  6. berteori adalah alat yang berharga untuk memfasilitasi tindakan


Mary Parker Follet memiliki pandangan pragmatis moderat, yang memegang dua keyakinan yaitu: (1) komitmen pada ide pragmatis bahwa penuntun yang paling terjamin untuk menemukan kebenaran adalah pengalaman. (2) psikologi yang beranggapan adanya diri tidak mendahului interaksi sosial.

Follet juga menolak pandangan raison d’etre atau pemaksimalan keuntungan dan pekerja hanyalah instrumen produksi ekonomi dan mengkritik gagasan pluralistik karena adanya benturan kepentingan yang berujung pada kompromi antara kepentingan yang berlawanan tersebut. Follet mendukung melalui scientific frederick taylor tapi dalam hubungan sosial sehingga tujuan organisasi berupa produktivitas dan tujuan pekerja upah tinggi serta kondisi kerja yang lebih baik berjalan beriringan.


Maksud, Pengalaman Rasionalitas

Apa yang sudah ditetapkan menjadi tujuan dalam proses tidak dapat secara lurus dan tanpa hambatan serta perubahan pada subjeknya serta lingkungan akan selalu dihadapi. Tujuan organisasi dipandang tidak hanya sebagai target karena dalam proses dalam kehidupan ada yang lebih kaya seperti tanggung jawab, moral, etika yang mulia dan negosiasi terhadap semua hal tersebut.


Integrasi dan Hukum Situasi

Dalam setiap situasi, individu yang berhadapan langsung dengan situasi akan melihat perubahan kondisi situasi secara langsung yang luput dari target dan tujuan yang sebelumnya telah ditetapkan organisasi. sikap sadar pada pengalaman berarti kita memperhatikan perubahan yang dibuat oleh situasi dalam diri kita. selain itu sikap tanggung jawab dan komitmen bersama-sama menjaga sikap. Follet optimis dengan kemungkinan untuk mendamaikan individu dan organisasi sehingga dapat tercapai integrasi.

Lebih jauh Follet menyampaikan:

Seorang pemimpin bukan orang yang menegaskan kehendak individunya dan membuat orang lain mengikutinya tetapi…orang yang tahu bagaimana menghubungkan kehendak-kehendak yang berbeda sehingga memnangkitkan daya penggerak. seorang pemimpin harus tahu bagaimana menciptakan suatu kekuasaan group ketimbang mengungkapkan kekuasaan pribadi. dia harus membuat suatu tim (DA, h.248)


Follet membedakan integrasi dengan kompromi. ketika integrasi adalah penyatuan kebebasan masing-masing individu yang seragam sedangkan kompromi adalah penindasan, dimana ada yang harus dikorbankan. lebih jelas Freud mengungkapkan bahwa orang waras adalah mereka yang tidak mempunyai hasrat yang terlarang. Kelompok industri yang sehat adalah kelompok industri dimana tidak ada majikan dan karyawan yang berkompromi, bangsa yang sehat tidak akan didasarkan pada balas jasa, liga bagsa yang sehat adalah dimana tidak ada negara yang menjadi korban, psikologi modern menyebut penindasan sebagai kompromi.


Teori Manajemen Follet pada Hakikatnya adalah teori politik

sangat berbahaya ketika kekuasaan individu diserahkan untuk mendapatkan kegiatan bersama, tetapi dengan menyatukan kekuasaan kita tidak menyerahkannya. kekuasaan yang dihasilkan oleh hubungan adalah hal yang kualitatif, jika kita mengikuti seluruh aturan kita menerjemahkan segala sesuatu dalam kegiatan , maka kita melihat kekuasaan sebagai kekuasaan untuk melaksanakan sesuatu (CE, h. 191)


Tanggapan Follet mengenai teori Persetujuan

Teori persetujuan bersandar pada kekeliruan intelektualistik yang menyeluruh bahwa pemikiran dan tindakan tidak dapat dipisahkan. teori ini bersandar bahwa kita berpikir dengan “pikiran”kita dan pihak lain pun dengan “pikiran”mereka. bagaimana konsep ini dapat dibilang setuju bahkan kita sering melihat kasus-kasus ketika kita tidak mampu meyakinkan orang-orang dengan penalaran kita yang paling cermat(CE, h. 198)


Koordinasi bukan Kontrol

Follet menolak proses kontrol baik oleh kekuatan kepribadian maupun otoritas hierarkis. Koordinasi merupakan hubungan timbal balik menyampaikan ide-ide dan fakta situasi yang berubah melalui aksi dan respon serta penyesuaian di kalangan aktor. Koordinasi menghindari korban dan individu memperoleh makna dari partisipasi mereka.

Dalam proses psikologis individu kita mengetahui bahwa setiap individu mempunyai kecenderungan berperang dalam dirinya ketika membuat putusan dan pilihan atau berinteraksi. keberhasilan dalam kehidupan sebagian besar tergantung pada berbagai tendensi, dorongan hati, hasrat yang disesuaikan satu sama lain yang sedang dimasukkan ke dalam suatu keseluruhan yang harmonis (PC, h 164)

kontak langsung atau perintah horizontal memberikan unsur bebas dari paksaan, dan tetap melakukan penyesuaian-penyesuain sendiri. berbeda dengan perintah vertikal yang erat dengan paksaan. Mary Parker Follet, menolak sosialisme tapi bukan pembela kapitalisme, menekankan koordinasi penyamaan tujuan bersama-sama.


Teori Seleksi Alamiah: Karl Weick

Dalam bukunya The Social Psychology of Organizing, dari judul tersebut menggambarkan bahwa organisasi sebagai makhluk hidup yang memiliki psikologi layaknya manusia. Weick mengartikan berorganisasi merupakan kegiatan sosial yang dicirikan oleh kesalingtergantungan para aktor sosial dengan perilaku yang cocok satu sama lain. Weick tidak menyebutkan untuk mencapai tujuan baik itu tujuan organisasi atau kolektif atau tujuan individu. rencana dan tujuan organisasi hanyalah sebuah simbol yang mengirimkan pesan kepada lingkungan apa yang akan dilakukan organisasi atau sebagai sebuah iklan untuk menarik investor dan klien.

Ide Herbert Simon tentang rasionalitas terbatas, karena pada prinsipnya rasionalitas tidak benar-benar memaksimalkan input informasi tapi sebatas terisolasi dalam pengetahuan terbatas para aktor pengambil keputusan termasuk konsekuensi jangka panjang atau pun informasi di luar pengalaman aktor.

Ide Weick diantaranya adalah membalikkan ide-ide tradisional mengenai sebab akibat dari kegiatan-kegiatan atau peristiwa dalam organisasi. contoh: seringkali manajer kesulitan karena lupa berpikir dalam lingkaran atau berpikir paradoks/berkebalikan misal gaya kepemimpinan mempengaruhi produktivitas, orang tua mengajarkan ke anak-anak, tujuan mempengaruhi alat, rangsangan mempengaruhi tanggapan, keinginan mempengaruhi tindakan. pernyataan ini salah karena dapat dibuktikan bekerja sebaliknya seperti produktivitas mempengaruhi kepemimpinan, tanggapan mempengaruhi rangsangan, anak mengajarkan ke orang tua, tindakan mempengaruhi keinginan.


Floyd Allport: Orang berkumpul karena ingin mengejar tujuannya sendiri-sendiri dan membutuhkan orang lain untuk melakukan hal yang tertentu, dan orang lain pun juga sama, jadi walaupun tujuannya berbeda ada titik temu yang sama dalam kelompok atau organisasinya. 


Berinteraksi dan berorganisasi rangkap

“perilaku seseorang tergantung input, dan respon aksi ini disebut interaksi”


Seleksi Alam dan Retrospeksi

4 model evolusioner berorganisasi didasarkan pada 4 asumsi yang saling berkaitan:

  1. Proses berorganisasi adalah yang utama, sementara tujuan atau sasaran adalah hal sekunder

  2. Perubahan adalah kondisi alamiah sementara stabilitas adalah kondisi yang dipaksakan

  3. berorganisasi dianggap kegiatan yang memaknai

  4. kegiatan memaknai biasanya dilaksanakan secara retrospek (setelah dilakukan) ketimbang secara prospektif


4 langkah dasar Weick mengenai model berorganisasi yaitu:

  1. Perubahan Ekologis, organisasi menanggapi perubahan  sehingga memaksa untuk melakukan cara-cara tertentu

  2. Pembuatan (enactment), tercipta lingkungan aktif sebagai respon dan berdampak pada kita sendiri

  3. Seleksi, proses pemaknaan sasaran sementara atau proses organisasional yang menghasilkan jawaban dari pertanyaan.

Kecenderungan untuk melihat masalah atau peristiwa dengan cara tertentu akan mengurangi ketegasan kita, kita cenderung melihat masalah dan peristiwa secara mainstream atau cara pandang kebanyakan. hal ini perlu diwaspadai dan pembatasan juga harus disusun secara longgar agar memungkingkan tindakan adaptif yang luwes dan dapat diimprovisasi.

“masalah organisasi bukan entropi hilangnya keteraturan, malah sebaliknya. keteraturan ditaksir terlalu tinggi dan dengan cara yang salah diberi penghargaan untuk keberhasilan adaptif. setelah diberi penghargaan, tindakan-tindakan yang teratur dilakukan lagi di masa depan, dan diperketat, dan mendadak organisasi itu mendapati dirinya dibebani oleh struktur ketat yang kuno”

seperti peraturan yang ada di birokrat dibuat semakin efektif dari masa ke masa dan pada akhirnya semua aturan menjadi semakin ketat dan sebagian sudah ketinggalan zaman dan tidak mengikuti perubahan yang terjadi.

  1. Penyimpanan, adalah proses berpegang selama beberapa periode waktu, penafsiran-penafsiran pengalaman yang tampak mempunyai validitas jangka panjang.


TEORI TRANSFORMASIONAL (Orion White dan Cynthia McSwain)

  • Level struktural, berada pada posisi paling jauh dari kesadaran individu, tetapi menjadi kesadaran sisa yang masuk kedalam manusia. contoh: Kosmos, dunia, masyarakat, lembaga dsb

  • Level Relasi sosial, hubungan langsung individu, interaksi, dunia pengalaman yang diterima secara langsung

  • Level Nomologis, level yang berada dalam individu, masuk ke dalam wilayah psikologis yang jarang dibicarakan, disini pikiran individu merespon, dan memutuskan. model kesadaran mencerminkan pilihan atau gaya penanganan di dunia luar. dalam level ini gagasan di seleksi otak dan perilaku akan muncul dari seleksi tersebut

  • Level pertemuan manusia, merupakan level kejiwaan manusia yang paling dalam. energi bawah sadar yang mendesak kepada pemikiran utama dan tindakan.


Relasi-relasi sosial

Teori Kritis Jurgen Habermas, white melukiskan efek menindas yang dihasilkan bahasa bersifat menjustifikasi pada perkembangan individu dan relasi sosial

“penghakiman menciptakan suatu bentuk kesadaran palsu atas makna dalam komunikasi antarpribadi, hal ini membuat individu percaya bahwa percakapan bersifat menilai atas orang lain jauh lebih menarik daripada percakapan bersifat melukiskan pengalaman hidup orang itu sendiri dan pengalaman yang dipunyai seseorang dalam relasinya dengan pihak yang dinilai.”


untuk menetralkan tendensi berbahaya dari penghakiman atau penilaian dapat dilakukan dengan 2 (dua) kriteria bahasa, yaitu:

  1. Refleksivitas, yaitu bahasa yang memantulkan kembali kepada individu apa yang sudah dan masih dilakukan, jai sifat bahasa juga desktiptifketimbang menilai.

  2. Relasionaitas, bahasa yang mengakui jarak diantara individu yang satu dengan individu yang lain. atau pertanyaan yang mengakui sepenuhnya penafsiran pembicara yang bersifat subjektif


Semua posisi nilai moral atau nilai etis pada akhirnya akan tertutup dan bersifat sembarangan dan nilainya akan muncul dari alam bawah sadar yang sering kita sebut nurani.


AKHIR BAGI HIERARKI DAN KOMPETISI (Frederick Thayer)

Mary Parker Follet secara sungguh-sungguh membenci persaingan, dimana persaingan saling menjatuhkan, membuat perpecahan, serta menolak individualisme dan lebih memilih sistem komunitarian yang memandang pemimpin sebagai fasilitator ketimbang pembuat keputusan, menentang paksaan dan hierarkis perintah. Fredrick Thayer dalam bukunya yang kontroversial, An End to Hierarchy and Competition, mengusulan visi radikal tentang dunia baru yang didasarkan pada teori organisasi tak memaksa. thayer mendesak 3 lembaga utama dunia yang sudah berjalan ribuan tahun yakni pencabutan atas:

  • demokrasi politis (ide perwakilan dan demokrasi)

  • persaingan ekonomi

  • hierarki

contoh persaingan ekonomi yang dikritik Thayer adalah para pelaku bisnis saling menjatuhkan dan menekan biaya produksi serta membuka peluang dan cara-cara yang tidak fair untuk menjatuhkan lawan.


Selasa, 27 September 2022

Handbook of Ethnography

Ringkasan Buku

Handbook of Ethnography.London: Sage, 2001.507 pp

Paul Atkinson, Amanda Coffey, Sara Delamont, John Lofland and Lyn Lofland 


Book Review

penelitian etnografi 


Buku Lain-lain

  • Handbook of Qualitative Research, edited by Norman Denzin and Yvonna Lincoln in1994,

  • Ethnography  after  Postmodernism, by   Jonathan  Spencer

  • Postmodernism, Post-structuralism  and  Post (critical)  Ethnography: of  Ruins, Aporias and Angels, by  Patti  Lather, neither  of  which  is  very  good  in  tackling  the  issues


Sumber konflik yang terjadi antara post strukturalis dan post modern yang didekonstruksi ke dalam metodologi dan praktek  dari etnografi . Tidak dapat terelakkan lagi bahwa etnografi akan menjadi arena peperangan antara post strukturalis dan postmodern melawan konflik yang menyerang pencerahan ethos dari rasional, objektif dan ilmu pengetahuan sosial. Apa yang mengejutkan bahwa etnographer sendiri yang berpotensi merusak praktik mereka sendiri dalam penelitian etnografi. Pertama dalam ilmu social dan budaya antroplogi, peneliti etnografi meragukan dua hal yaitu mereka mengkritik  perwakilan etnografi dari realitas sosial, yang meragukan text etnografi dan pertanyaan dari suara penulis yang digunakan. Mengkritik gagasan seperti reliabel dan validitas yang telah dilegitimasi di masa lalu.

Denzin dan lincoln menggambarkan keraguannya sebagai dua kritik terhadap etnografi yaitu representasi (apakah studi etnografi benar-benar mewakili budaya yang digambarkannya) dan Legitimasi. Tidak adala penelitian etnografi secara substantif bebas nilai dan benar-benar mewakili suara budaya tersebut baik dari metode, data, text dan kehadiran peneliti.

Etnografi secara sempit sering diartikan sebagai metode pengumpulan data melalui pengamatan partisipasi, unobtrusive  measure, analisis dokumen, studi tentan bahasa asli yang natural, wawancara mendalam, tujuan yang mengexplore arti sosial dan perilaku dalam lapangan yang spesifik atau setting yang memberikan makna yang penting dan kontext, sehingga sangat jelas etnografi adalah metodologi yang simultan atau pandangan yang mengandaikan teori dan filosofis framework untuk memahami perkembangan dari pengetahuan. 

Model penelitian telah menyebar dari sosial dan budaya antropologi, yang datang dari semboyan kolonialisme yaitu gold, glory dan gospel  dan akhirnya berkembang demi mendukung imperialisme di daerah baru agar dapat memahami dan mengetahui titik penting dari budaya setempat agar dapat mencapai tujuan secara efektif


Etnografi sebagai pilar dan perkembangan intelektual 

berbagai perkembang metode penelitian etnografi dipelopori oleh intelektual antara lain : British  social  anthropology (Macdonald), the Chicago School of sociology (Deegan), the community studies tradition  (Brunt), and beberapa penerjemah sosiologi tradisional seperti ethno-methodology (Pollner and Emerson), phenomenology (Maso), grounded theory (Charmaz  and  Mitchell)  and symbolic interactionism (Rock), British social science around the Second World War (Stanley), semiotics (Manning)


Orientalisme adalah suatu studi yang dikembangkan oleh sarjana barat dalam mempelajari budaya timur dengan kata lain barat menyebut budaya timur adalah asia wilayah asia. Pemahaman ini berkembang dalam masa penjelajahan eropa menemukan sumber baru, contoh perbincangan etnografi yang disampaikan melalui cerita traveller, novel dan perwakilan lainnya yang terbentuk. 


Kontribusi etnografi ke beberapa bidang antara lain: 

  1. Michael Bloor writes on ethnographic studies of health and medicine, 

  2. (Dick Hobbs, Alison  James) yang menangkap studi ini untuk memahami bidang-bidang lain

  3. Studies  in  educational  settings (Gordon, Holland  and  Lahelma)

  4. industry  and  work (Smith)

  5. Menengai social  studies  of science and technology (Hess)

  6. Communication (Keating). 

Beberapa Penelitian Etnografi digunakan dalam aplikasi yang lebih unik seperti:

  1. Ethnographic  studies  of  photography  and film (Ball and Smith)

  2. material culture (Tilley) and 

  3. cultural studies (Van Loon).

Penggunaan metode etnografi ini sangat membantu dalam bidang seperti kepolisian, Kejahatan, agama, profesi dan kesejahteraan sosial. Teknik pengumpulan data dijelaskan oleh pakar-pakar seperti 

  1. participant  observation  (Emerson, Fretz  and  Shaw), 

  2. interviewing (Heyl), 

  3. life histories (Plummer) and 

  4. narrative analysis (Cortazzi).

Sebagian fokus pada isu-isu seperti:

  1. research  ethics  (Murphy  and  Dingwall),

  2. feminist  ethnography  (Skeggs)  and  

  3. computer-assisted  qualitative  data  analysis packages (Fielding). 

tetapi ada juga yang fokus pada isu yang tidak biasa seperti Mieczkowski menulis very postmodern style about the role of drama as performed research, 


Cerita:

Gagasan Snouck Hurgronje, ketika pemerintah kolonial marah karena biaya yang sangat besar adanya pesta rakyat terutama pada saat lebaran idul fitri, melalui metode etnografi yang disusun oleh Snouck Hurgronje, maka dengan tegas snouck hurgronje melarang keputusan gubernur jenderal tersebut karena akan berdampak besar dan dapat meletupkan peperangan yang biayanya akan jauh lebih besar