Sabtu, 24 September 2022

Teori Organisasi Untuk Administrasi Publik

 Resume Buku 

Teori Organisasi Untuk Administrasi Publik


Pengarang: Micher M Harmon (George Washington University); Richard T Mayer (George Mason University)


Chapter 10

Teori Interpretasi dan Kritik

Perorganisasian sebagai Tindakan Sosial


Ketertarikan individu dan organisasi adalah dua hal yang berbeda, untuk dapat memahami keduanya maka diperlukan pengkarakteran dari kedua ciri tersebut, agar keduanya dapat saling berjalan beriringan dan mengurangi konflik antara minat individu dan organisasi. Tindakan rasional lebih tepat dianalisis pada level individu secara berlawanan dengan level kolektif. Pengkarakteran individu dan organisasi dapat diketahui untuk menetapkan target, apabila target individu dan organisasi sama maka tujuan dan goal dapat lebih mudah tercapai, organisasi akan menghitung pencapaian tujuan agar tetap efisien

Teori organisasi dengan suatu metodologi menganlisis mulai dari level individu yang paling dasar dalam menentukan pilihan sampai sistem secara keseluruhan, walaupun terdapat perbedaan, bagaimanapun teori sosial secara asumsi tidak secara fundamental berbeda dengan ilmu alam, dan masih bisa digunakan untuk mengungkap objektivitas, nilai dari organisasi. Pertumbuhan dan perkembangan individu, keberlangsungan organisasi, daya tanggap dan kesehatan, manfaat maksimal dan adaptasi untuk berkompetisi dalam keberagaman. 


Penghantar

Terdapat dua pendekatan dalam teori Organisasi yaitu interpretatif dan kritikal. 

ada 6 elemen utama dari perpaduan kemunculan teori interpretatif dan kritikal yaitu:

  1. Ketertarikan individu dan organisasi berada dalam tensi yang fundamental satu sama lain. Hubungan keduanya melekat sebagai pertimbangan kekuatan politik. pertanyaan utama dari teori organisasi adalah bukan bagaimana untuk menyatukan keduanya tetapi bagaimana individu dapat melampaui organisasi.

  2. Model tindakan rasional yang menjadikan masalah, seringkali beberapa keterbatasan pemahaman dalam konteks tindakan individu, sosial dan  organisasi

  3. Secara natural ilmu sosial yang didukung/didasarkan  kepercayaan positivistic dalam gagasan berperilaku menyediakan ketidakcukupan dalam memahami dunia sosial yang secara langsung lebih memperhatikan pemahaman subjektif dari keseharian pengalaman sosial individu.

  4. Perhatian empirik, seperti gambaran dan penjelasan yang akurat. 

  5. Masalah utama dari teori organisasi adalah cara memahami birokrasi melayani  untuk memperkuat proses sosial dari dominasi yang ketika menghasilkan keterasingan individu. untuk memahami hubungan struktur sosial untuk membantu bahasa dan pembahasan

  6. Tujuan dari teori secara fundamental untuk dilaksanakan. teori adalah praktik sepanjang dapat dipahami untuk bertanggung jawab dan tindakan autonomi


Teori sosial dan organisasi  secara fundamental dibagi kedalam jawaban mereka atas dua pertanyaan, pertama apa basik utama dari asumsi filosofi yang dijadikan ilmu sosial dasar? dan kedua apa moral dan tujuan praktis jika teori memberikan layanan? Pertanyaan pertama menjadi perdebatan apakah asumsi dan metode dari ilmu alam cocok diterapkan dalam ilmu sosial, secara spasial masalah mengenai arti dan hubungan yang tepat antara gagasan objektif dan subjektif yang ditanamkan dalam perbedaan arti dari dua kata ketidaksepakatan mengenai isu dasar dari realitas alami ilmu sosial, sifat alami manusia dan pondasi pengetahuan dalam dunia sosial. Pertanyaan kedua berfokus pada  akhir minat bahwa teori pengetahuan dapat memberikan pelayanan yang mungkin lebih memecah belah dibanding pertanyaan pertama, masalahnya adalah tidak hanya pada satu putusan sadar yang mengakhiri dan minat pengetahuan seharusnya memberikan pelayanan setelah di validasi dan disertifikasi, setelah secara nyata mapan.


Asumsi dasar dari Teori interpretasi dan Kritik

Baik Teori interpretif dan kritik datang dari akar sejarah yang panjang. Teori Interpretif dengan beberapa pengecualian menempatkan bagiannya secara natural dalam ilmu sosial untuk menegaskan baik kemungkinan dan keinginan dari nilai ilmu sosial. Richard Bernstein menekankan mengenai teori kritis memiliki ketertarikan fundamental yang mengembangkan keberadaan manusia meramalkan tipe kesadaran dan pemahaman keberadaan kondisi sosial dan politik.


Objektif Versus Subjektif dalam Ilmu Sosial

 

Asumsi dalam menganalisis Ilmu sosial secara alami kedalam 4 dimensi


Pendekatan Subjektif dalam Ilmu Sosial

Dimensi

Pendekatan Objektif dalam Ilmu Sosial

Nominalism

Ontologi

Realism

Anti-Positivism

Epistemologi

Positivism

Voluntourism

Human Nature

Determinism

Ideographic

Metodologi

Nomothetic


Ontologi menekankan bagaimana suatu fenomena dapat diinvestigasi, dalam ontologis dimensi objektif yaitu Realisme yang bersandarkan bahwa dunia sosial lingkungan berada di eksternal atau sosial struktural yang membentuk kognitif individu, dunia yang nyata yang mempengaruhi individu. Berkebalikan dari hal tersebut dalam pandangan subjektif atau yang disebut nominalis, menolak ide bahwa struktur sosial bebas dari kesadaran manusia, makna sebenarnya struktur sosial merupakan produk dari kognitif sadar manusia dengan kata lain institusi, aturan yang berasal dari masyarakat lah yang merupakan pelabelan dari kesadaran manusia itu sendiri.

Epistemologi merupakan asumsi yang memperhatikan apa yang tepat dianggap sebagai pengetahuan atau fakta, bagaimana pengetahuan dikomunikasikan dan dipahami dalam kehidupan sehari-hari dalam pembahasan ilmiah. Epistemologi dari dimensi objektif adalah Positivisme yakni observasi, hipotesis, diuji dengan instrumen penguji dan hasilnya digeneralisir untuk memperoleh penjelasan dan prediksi mengenai kehidupan sosial. sedangkan antipositivisme dilain pihak kurang memperhatikan dengan penemuan yang melatarbelakangi aturan-aturan dan hubungan casual tapi lebih melihat pemahaman yang kaya dan nuansa dari subjek mereka, dalam memperoleh ide dengan pengamatan yang terpisah, anti positivistik mencari dengan memahami pengalaman dari subjek yang mereka pelajari. Burrel dan Morgan menjelaskan bahwa pemahaman yang esensial hanya bisa dipahami oleh subjek yang secara langsung terlibat dalam aktivitas yang dipelajari.

Hubungan manusia dengan lingkungannya, tindakan seseorang dapat dijelaskan dari kondisi atau paksaan dari lingkungan. Determinism dalam sudut pandang objektif adalah apa terjadi pada manusia dikarenakan lingkungannya, manusia sebagai sebuah objek, dalam pandangan ini untuk merubah manusia maka ubahlah lingkungannya. Sedangkan pandangan subjektif atau voluntarist melihat bahwa subjek atau manusia yang memengaruhi lingkungan dengan autonomous nya, voluntaris tidak menganggap bahwa tindakan autonomous selalu secara sadar rasional. Manusia memiliki kebebasan bertindak atau manusia sebagai kreator, jadi apabila ingin merubah manusia maka ubahlah manusianya bukan lingkungannya.

Asumsi Metodologis bagaimana cara seorang peneliti memperoleh pengetahuan tentang suatu fenomena. dalam pandangan objektif metodologisnya disebut Nomothetic yang menggunakan pandangan ontologi, epistemologi dan human nature yang objektif, digunakan alat ukur untuk mengukur fenomena, dengan membuat karakteristik dari fenomena tersebut. sedangkan metodologi dari pendekatan subjektif disebut Ideographic yaitu Melihat fenomena sebagai suatu subjektif, bagaimana subjek memandang fenomena tersebut tersebut.


Teori Interpretatif

Konteks Sejarah

Pengaruh teori interperifisme di eropa di inspairasi oleh Immanuel Kant (1724-1804), setelah Kant menulis tradisi positivisme dalam ilmu sosial, Kant secara kontras menyebutkan keterbatasan realitas terletak di dalam spirit atau ide dibanding di dalam rasa persepsi. Pikiran utama dari kant merupakan sumber landasan utama dari ketidaksepahaman antara objektif dan subjektif dalam ilmu sosial dengan implikasi bahwa kesadaran manusia lebih dari sekedar kelihatan dari pembuktian diri dalam dunia nyata, Burrel dan morgan kant memposisikan apriori pengetahuan didahului oleh pegangan atau pemahaman dari sense pengalaman empiris,  apriori pengetahuan dilihat secara bebas dari kenyataan eksternal hal ini dilihat sebagai produk dari pikiran dan proses interpretatif berjalan dengan itu. Sementara dunia dimana kita tinggal adalah produk dari hubungan yang kompleks antara apriori pengetahuan dan realitas empiris, bagi Kant titik mula untuk memahami terletak dalam dunia pikiran dan intuisi.

Immanuel Kant dan Edmund Husserl (1859-1938) dan max weber sebagai figur utama yang mempengaruhi teori interpretatif. Husserl menulis dengan jelas kebalikan dari semangat positivistic yang mendominasi filosof barat dan ilmu sosial. Max weber di lain pihak, mengambil jalan tengah yang berusaha menjembatani jurang pemisah antara idealisme kantian dan positivis ilmu sosial. Dengan catatan sebelumnya weber menolak positivistik tetapi lebih untuk alasan kenaifan objek yang diperoleh dari data dibanding dikomunikasikan langsung ke objek, nilai kebebasan dalam ilmu sosial, weber juga setuju dengan pandangan husserl bahwa objek membutuhkan bagian dan diturunkan dari subjek secara melekat berdasarkan pengalamannya, bagi weber sosiologi adalah ide subjektif yang melekat dalam setiap orang, gambaran arti yang melatarbelakangi tindakan seseorang, secara contrast filosofi husserl juga memperhatikan struktur bawaan kesadaran manusia.


Jumat, 23 September 2022

Catatan Labirin Nilai Birokrasi

 Catatan Labirin Nilai Birokrasi

Indonesia adalah negara yang luas, beragam suku, agama, adat istiadat dan cara pada setiap daerah mencerminkan betapa kayanya Indonesia. Sebagai bangsa yang besar tentu menyatukan perbedaan yang ada di dalamnya juga bukan merupakan perkara yang mudah. Setiap orang memiliki nilai yang diyakini yang terbentuk dari masa kecil hingga tumbuh dewasa, dibesarkan dari nilai budaya, nilai formil, nilai sekolah, nilai bangsa indonesia, nilai agama dan berbagai nilai yang terus berkembang, hingga saat ini nilai teknologi yang masif dan perkembangannya semakin populer menciptakan nilai-nilai baru yang saling berinteraksi, saling bertabrakan, semakin membesar atau mengecil, menguat atau melemah serta menciptakan nilai baru yang berbeda dari nilai-nilai yang ada, nilai disini adalah tolak ukur dari keyakinan seseorang.

Dalam setiap lingkup semua perubahan terjadi, dari individu sendiri sebagai subjek manusia yang memiliki akal pikiran dan memproses semua nilai tersebut dengan pikiran dan hati, berkembang dalam keluarga, dalam masyarakat, dalam suatu organisasi baik formal maupun informal serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Organisasi pemerintah juga menciptakan nilai yang di berpedoman pada nilai dasar, dimana bangsa indonesia menetapkan nilai dasar yang harus dipandang adalah pancasila. Agama juga menetapkan nilai dasar dimana yang dijadikan dasar bagi agama islam adalah Alquran dan Hadist serta ijma Ulama, Masyarakat juga memiliki nilai dimana yang dijadikan dasar adalah nilai yang telah turun temurun diyakini berdasarkan faktor di dalam lingkungan tersebut, ataupun juga masyarakat yang heterogen juga memiliki nilai yang sudah menjadi konsensus masyarakat dan diterapkan dalam nilai-nilai masyarakat.

Institusi atau organisasi pemerintah juga memiliki nilai-nilai yang merupakan turunan dari nilai dasar pancasila dan diterjemahkan ke dalam konstitusi UUD 1945, diturunkan menjadi UU sampai pada peraturan pelaksana di level organisasi pemerintah yang merupakan turunan dari hal tersebut dan merupakan aturan-aturan yang sudah konkret. Tetapi kebanyakan orang tidak memahami bagaimana cara nilai tersebut menjadi konkret karena bias antara nilai utama hingga menjadi turunan sangat besar, semakin lebar bias diciptakan dari fakta masalah yang selalu berkembang dari masa ke masa serta perkembangan, interaksi, pertumbuhan serta perubahan-perubahan yang sangat masif yang terjadi.

Nilai-nilai tersebut berubah dan membekas pada seseorang menjadi suatu pengalaman tertentu dan menyebabkan setiap orang tentu tidak memiliki kesepahaman yang sama dalam menginterpretasikan apa yang disaksikan secara empiris dan apa yang diinterpretasikan, baik pengetahuan mengenai nilai tersebut sudah masuk ke alam bawah sadar kita ataupun yang muncul di permukaan pikiran manusia sehingga apa yang ada dalam seseorang, apa yang diyakini pasti tidak akan ada yang sama antar individu maupun kelompok.

Organisasi pemerintah yang telah menetapkan nilai-nilai dan diperjelas dengan panduan tentu akan bertabrakan dengan nilai-nilai budaya, sosial. agama yang sudah melekat lebih dahulu pada seseorang. Benturan-benturan nilai ini akan diterjemahkan berbeda dalam setiap individu, mereka yang memiliki nilai yang sama dengan organisasi maka tentu akan cepat beradaptasi dengan organisasi sedangkan mereka yang memiliki nilai yang berbeda tentu akan menyesuaikan dengan berbagai cara. 

Organisasi sendiri tidak memiliki pikiran mengenai nilai, dalam pemerintahan nilai itu di bangun oleh pimpinan di pemerintah, mulai dari presiden, menteri sampai level eselon 1. Nilai-nilai organisasi tersebut kemudian diciptakan oleh mereka yang setiap lima tahun silih berganti dan berakibat pada perubahan yang ada dalam nilai-nilai organisasi tersebut secara keseluruhan, ditambah lagi perubahan teknologi, masyarakat, kondisi sosial secara simultan ikut mempengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi. Suatu nilai bisa dijadikan pedoman tapi perubahan sangat tergantung dalam bagaimana suatu interpretasi dengan keadaan dapat di konkretkan dalam sebuah nilai yang jelas.

Apa yang sudah didapatkan pegawai dalam suatu organisasi merupakan kumpulan dari nilai-nilai dari organisasi yang terus berganti, berubah, beradaptasi dengan nilai-nilai seseorang serta pengalaman-pengalaman yang dimiliki, proses injeksi nilai juga menimbulkan efek samping yang dramatis dimana nilai yang selama ini dianut berubah total menjadi sesuatu yang baru yang harus dilaksanakan, perlu proses dan adaptasi yang tinggi, semakin berbeda dengan nilai yang sudah dianut maka akan semakin sulit untuk menyesuaikan. Hal ini akan berdampak pada kinerja, selain itu masing-masing individu pada level bawah juga akan menunjukkan perlawanan, pemberontakan terutama bagi banyak sekelompok individu yang tidak mampu merubah nilai-nilai yang dulu dimiliki sebagai bagian dari suatu organisasi yang lama. apalagi jika nilai tersebut sudah menyatu dan saling mendukung dengan nilai-nilai intrinsik pada seseorang atau nilai-nilai dari kehidupan lainnya selain di pekerjaan seperti di rumah, masyarakat maupun organisasi non formal.

Dimasa-masa ini banyak individu yang akhirnya terjebak karena tidak bisa move on dari situasi yang lama dan bertemu dengan kondisi-kondisi baru yang jauh berbeda dengan nilai-nilai lama yang dimiliki, ditambah apabila individu tersebut berinteraksi dan bertemu dengan mereka yang memiliki pemahaman yang sama, maka nilai-nilai tersebut akan saling menguatkan dan berbenturan dengan nilai baru yang coba ditanamkan oleh organisasi, yang terjadi adalah kesemrawutan dan sikap apatis terhadap organisasi, lalu interaksi individu-individu ini mampu memberikan perlawanan atau negosiasi dengan organisasi tergantung dengan seberapa besar sumber daya yang dimiliki oleh individu maupun organisasi. Apabila organisasi dipimpin oleh mereka yang tidak sejalan dengan organisasi maka tentu akan sangat sulit merubah organisasi tersebut, begitu juga dengan individu-individu yang ada semakin sedikit individu yang tidak sejalan dengan organisasi dan berada pada level di bawah tentu akan mudah bagi organisasi dan pimpinan untuk merubah memaksakan nilai-nilai tersebut ke dalam organisasi.

Nilai yang ada akan melekat pada diri seseorang, nilai tersebut tidak hilang, sesuatu yang sebelumnya sudah diterima maka walau saat ini organisasi melarang maka nilai tersebut berpotensi untuk bangkit kembali atau mempengaruhi logika kognitif yang tersembunyi dibalik penerimaan nilai, secara tidak langsung nilai organisasi tidak murni diterima tapi didalamnya potensi perlawanan, atau penyesuaian yang dipaksakan juga berdampak pada penerimaan nilai yang tidak sempurna.

Nilai-nilai yang dibawa ke dalam organisasi akan disampaikan melalui pimpinannya, tentu interpretasi pimpinan juga akan mengalami bias ketika diterapkan dalam organisasi, begitu juga seterusnya dari pimpinan ke level di bawahnya sampai pada para pelaksana. Sementara itu interaksi level-level di bawah juga memahami dengan cara yang berbeda sehingga akan selalu ada range nilai yang masih dapat diterima secara objektif tapi memiliki pemahaman berbeda pada segmen-segmen yang ada pada batas ambang kesepakatan pemahaman. Mereka yang terjebak pada kondisi sulit untuk melepaskan nilai yang lama yang masih diatur oleh sekelompok individu dengan mereka yang benar-benar memiliki nilai yang berbeda.

ketika nilai-nilai organisasi di tambah dengan pimpinan yang memiliki nilai organisasi yang sama dan kuat maka pimpinan dapat dengan kuat karena didukung oleh organisasi untuk dapat menerapkan nilai tersebut dalam individu-individu di dalamnya, kekuatan ini akan berdampak kepada kebijakan, mereka yang memiliki nilai yang bertentangan baik individu atau kelompok akan terpaksa harus menyesuaikan karena pimpinan dan organisasi memiliki power


Relasi Kuasa

Siapa yang berada diatas dan memiliki power maka akan dipatuhi karena power tersebut dapat memberikan keterjaminan, lalu apa yang mendorong seseorang bisa menuruti nilai yang berbeda tentu rasional, bentrok dengan pimpinan dan organisasi akan membahayakan kedudukan individu dalam organisasi, membahayakan disini maksudnya adalah mengeluarkannya dari zona nyaman yang selama ini membuatnya betah seperti pekerjaan yang autonomi, life balancing dengan keluarga karena sekota dengan keluarga, memiliki status sosial, pendapatan yang baik, reasli yang bagus serta motivasi-motivasi yang membuat seseorang betah. apabila semua tersebut hilang tentu akan sulit menerima hal ini.

Para korban karena memiliki kesamaan nasib dimana nilai-nilai mereka kalah dengan pimpinan dan organisasi atau kelompok-kelompok yang sepahaman tentu akan saling menguatkan, adanya rasa senasib ini tentu akan membuat perlawanan yang perlu diwaspadai oleh pimpinan. Rasa senasib ini di satu sisi membuat individu-individu tersebut merasa bersatu dan memperburuk situasi dan tentu memperkuat nilai yang ada pada individu tersebut yang bertentangan dengan nilai pemimpin dan organisasi. Disatu sisi keberadaan individu yang sebasib ini memberikan manfaat dari depresi yang besar yang diterima individu karena tekanan nilai-nilai yang dipaksakan. 

Ada juga individu yang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan setelah mengalami serangkaian waktu yang cukup panjang, maka individu mampu menerima nilai-nilai organisasi dan pemimpin untuk dapat diterima sebagai bagian dari nilai individu. Ketiga ada individu yang sulit untuk menerima dan mencari jalan lain yang lebih terhormat seperti mencari peluang lain baik itu mengundurkan diri secara terhormat dan mencari peluang lain yang memberikan manfaat yang lebih baik atau lari dari organisasi tersebut dan menghindar dengan mengikuti kesempatan sekolah ataupun mengajukan mutasi.

Kita tidak dapat benar-benar hilang dan lepas dari nilai semakin ekstrim perubahan maka semakin cepat adaptasi tapi dampak besar juga terdapat dalam individu yang tidak mampu menghadapi perubahan tersebut, elastisitas seseorang tentu akan berbeda-beda ketika perubahan nilai tersebut terjadi. Ada yang sangat elastis dengan perubahan tapi ada juga yang sangat kaku dan rapuh dengan perubahan nilai tersebut. Adanya tindakan tegas pemaksaan nilai ini juga memberikan ancaman bahwa tindakan penanaman nilai ini bukan sekedar main-main, karena proses perubahan sudah lama dicanangkan tapi seringkali terkendala. Hal tersebut terjadi karena pimpinan juga memiliki masa lalu nilai yang bertentangan dengan nilai yang dipaksakan oleh organisasi.

Perubahan ini membuat masing-masing menjadi rasional dan kembali kepada tupoksinya walau relasi kuasa dari pimpinan masih kuat, siapa yang dapat merekomendasikan pegawai untuk memperoleh kesempatan promosi, memberikan citra yang baik dengan penilain, masih ada di atasan yang berjenjang. Banyak dari mereka mencari muka dan menjilat atasan tanpa memperhatikan siapa yang seharusnya mereka layani. Pimpinan pun sering kali menutup mata dan melihat dengan perspektif yang sempit atau kadang kala hal ini hanya perasaan karena pola komunikasi yang kurang harmonis.

Perubahan-perubahan ini yang menjalar dan terbias pada tiap penghubung juga memberikan keberagamaan bagi tiap-tiap bidang yang jalurnya berbeda-beda. Organisasi dengan pimpinan utama yang meneruskan nilai ke pimpinan di bawahnya yang kemudian bias, kemudian memberikan implikasi konkret yang mesti dilaksanakan bawahannya, dan implikasi konkret ini juga menciptakan kekuatan yang berbeda-beda, apabila pekerjaan tersebut menambah pekerjaan atau tidak ada dorongan yang kuat untuk membiasakan maka akan kembali hilang, sehingga dorongan-dorongan dan ketegasan-ketegasan dalam setiap aplikasi harus tetap dipelihara. sampai pencapaian tercapai, awal yang sulit sering menerka para individu yang terjebak dalam nilai. Suatu kebiasaan baru akan sulit diterapkan tanpa adanya pemahaman dan nilai yang melekat pada kebiasaan dan pengalaman, apalagi tidak didukung oleh faktor-faktor lain


Wewenang, Pashion dan Kecocokan Antar Individu dan Individu dengan Pekerjaannya

apa yang diharapkan setiap individu adalah keinginan yang menjadi goal dan tujuannya, tapi seiring berjalannya waktu dan proses-proses yang ada seorang individu tidak mampu mengontrol keadaanya dan masuk dalam perangkap sistem yang seringkali bertentangan dengan tujuannya, sehingga perubahan dan penyesuaian akan selalu mewarnai perjalanan individu tersebut. Mencapai tujuan diperlukan disiplin, semangat dan nilai yang tinggi. Sementara itu setiap harinya selalu dihadapkan dengan gempuran yang berat. untuk melawan dari sisi internal saja masih sulit karena sikap malas serta ketidak disiplinan yang mewarnai individu. Sikap ini perlu dipupuk secara internal dengan pola kebiasaan yang panjang dengan pengalaman dan didikan, maka banyak orang yang hanya memberikan mimpi tanpa kebiasaan-kebiasaan untuk menjalankan mimpi tersebut, ada mereka yang secara kebetulan maupun kesesuain dengan disiplin individu akan menciptakan kebiasan-kebiasaan baik yang mendorong perlawanan terhadap kemalasan manusia. maka  dari itu mencari kebiasaan orang-orang sukses perlu dilatih dan dibiasakan dari sekarang.

Kedua, selain pola kebiasaan yang ada dalam diri seseorang ada juga gempuran kondisi dari eksternal, seseorang menciptakan pola kebiasaan tentu karena faktor eksternalnya yang pertama kali mendorongnya untuk melakukan itu dan karena kebutuhan internal , jadi secara tidak langsung kedua faktor tersebut tidak dapat dipisahkan karena saling berketergantungan dan saling mempengaruhi. Faktor eksternal ini tiap orang tidak sama sehingga akan berdampak pada perkembangan kebiasaan yang akan membentuk seseorang menciptakan nilai-nilainya. nilai tidak final karena akan mengalir dan berkembang untuk itu perlu kesepahaman yang menjadikan semua individu sepakat dalam satu nilai. yang sering diperdepaktna adalah apakabila nilai-nilai tersebut diubah maka akan muncul fraksi-fraksi yang berbeda. Dalam konteks organisasi nilai-nilai yang ada pada organisasi tidak dapat dipukul rata disamakan dengan maksud organisasi, selama individu-individu masih berlatar belakang yang berbeda, budaya, agama dan masyarakat sosial tentu nilai ini berkembang sesuai dengan wadahnya. 


Teknologi

Perubahan masif membuat batas-batas nilai yang ada semakin general, semua orang terhipnotis dengan pandangan baru yaitu teknologi, perbedaan-perbedaan yang tadinya sangat variatif akan semakin menjurus kepada kesamaan yaitu teknologi. konten-konten masif yang dibawakan oleh teknologi akan menciptakan nilai baru yang global, menembus batas-batas wilayah dan fenomenal. Lihat bagaimana acara-acara indonesia got talent, film, internet, yang semakin hari-semakin menyentuh setiap orang. konten-konten ini juga mempengaruhi nilai-nilai yang ada

hal yang sangat sulit adalah bagaimana menjembatani tiap-tiap nilai, bagaimana menjembatani nilai-nilai pada negara, nilai-nilai pada organisasi, nilai-nilai pada masyarakat, input budaya adalah sesuatu yang akan mempengaruhi global, anda pasti bingung kenapa restoran KFC, MCdonald dapat menjadi tempat favorite. Mereka membentuk penyesuaian dengan masyarakat tapi sebelumnya menanamkan nilai-nilai budaya melalui berbagai macam pandangan yang membuat bahwa makan di restoran mereka adalah sesuatu yang keren. Hal ini ditanamkan dalam struktur nilai masyarakat sebelum mereka menciptakan pengalaman baru mendirikan restoran. Membuat film yang dimasukkan ke dalam masyarakat, kemudian menginvasi suatu sosial baru dengan nilai-nilai budaya mereka agar dapat diterima, selain itu penyesuaian mengenai makanan dan kondisi masyarakat juga diperlukan agar dapat diterima perlahan demi perlahan.

Seseorang dengan nilai yang sama dengan organisasi akan menang dalam persaingan, organisasi akan menjadi tempat yang menyenangkan. masyarakat indonesia datang dari buaya dan nilai yang berbeda-beda tanpa adanya penanaman nilai yang diciptakan dari masa kecil akan sulit berubah di masa yang akan datang. Pendidikan-pendidikan moral dan budaya pekerjaan harus ditanamkan dari masa kecil, masyarakat, agama maupun dunia internet yang sangat besar pengaruhnya dalam masyarakat saat ini. Tanpa kontrol media, maka negara ini akan dapat dikenalkan dan dijajah karena nilai-nilai yang ada pada seseorang akan terbentuk dan dibentuk dengan input-input internet, dan nilai-nilai tersebut akan tumbuh untuk selanjutkan akan mempengaruhi nilai interaksi dan konsensus baru yang merubah tatanan yang ada.

Siapa yang menguasai input sistem akan mampu membaca data dan masukkan nilai-nilai seperti youtube, twitter, tiktok, instagram adalah kelompok-kelompok aplikasi yang memiliki sumber untuk mengelola dan merangsang serta menciptakan nilai baru melalui media teknologi. Kemampuan membaca ini akan memprediksi kemana nilai tersebut berjalan, kemampuan mengendalikan informasi dan mengarahkan akan mampu membentuk nilai tersebut dilarikan kemana. hal ini perlu dibuat sedemikian rupa agar tidak tampak mencurigakan.

Apa yang terjadi dalam nilai individu yang terjebak dengan tingginya arus informasi yang mengandung nilai-nilai, maka muncul perdebatan dalam diri individu, muncul tanda tanya besar kemana harus melangkah. informasi yang semakin digali memunculkan asumsi-asumsi seseorang untuk melangkah. akan banyak prediksi-prediksi yang bergerak, mengalir yang tentu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal setiap harinya serta pikiran-pikiran dan asumsi individu lainnya yang sama-sama mengalir menimbulkan gelombang yang saling bertabrakan, semakin gelombang-gelombang individu mengalir dengan tujuan yang sama akan menciptakan gelombang yang lebih besar, gelombang individu yang berlainan yang kecil akan terseret oleh gelombang individu individu yang besar, tapi yang menarik dalam setiap gelombang nilai-nilai individu ada pecahan-pecahan hasil pengalaman-pengalaman yang lampau yang membentuk nilai yang terpengaruh dengan arus gelombang.


Menghilangkan Nilai yang Tidak Sejalan dengan Nilai Organisasi

Langkah awal bahwa menemukan nilai organisasi terlebih dahulu yang juga bersesuaian dengan nilai-nilai lain yang kita miliki, contohnya adalah nilai organisasi yang sejalan dengan nilai agama, budaya, keluarga, sosial. ketika seseorang sudah terbentuk dengan nilai-nilai organisasi dan tertanam, tiba-tiba terjadi perubahan nilai kembali karena pimpinan berubah, modifikasi nilai ini akan berimbas lagi kepada individu, individu yang tidak adaptif akan berjatuhan. tidak semua orang akan mampu membaca nilai-nilai yang ada. sulit sekali menjadi paham bahwa benturan-benturan nilai ini sangat menyakitkan. kesalahan tersebut dapat terjadi pada individu yang kurang memperoleh informasi yang luas sehingga tidak tahu mana nilai yang harus dijalankan ataupun individu-individu yang terjebak antara pimpinan dan organisasi


Ilmu Pengetahuan sebagai katalisator Nilai

Membaca pengetahuan akan membuka jalan memahami dengan cepat suatu nilai yang ada walau tanpa harus merasakan pengalaman nilai. Regulasi sebagai pembenaran tetapi pemahaman regulasi tertulis dijadikan pedoman, sayangnya tidak semua yang tertulis dapat ditemukan dalam menyelesaikan masalah. Ketika nilai-nilai yang ditanamkan. kemampuan dan wewenang membatasi individu berbuat diskresi, keterbatasan pengetahuan dan pemahaman aturan serta nilai-nilai serta menghindari konflik serta mempertaruhkan waktu dengan ekstra effort sulit untuk dilakukan, nilai yang terbentuk belum meresap kedalam karena hanya merupakan bentuk penghindaran konflik dan cenderung sebagai perintah , nilai masih menjadi bagian dari eksternal yang masih belum meresapi tapi sudah melekat. Nilai yang masih melekat ini sulit untuk mengembangkan keberanian untuk mengambil diskresi selain itu pengetahuan terkait peraturan dan pengalaman menjadi faktor penting lainnya


Rabu, 21 September 2022

DESIGN ORGANISASI

 DESIGN ORGANISASI

Dalam mendesain organisasi paling tidak ada 4 hal dasar yang harus diperhatikan yaitu:

  1. Pembagian kerja (division of labor)

  2. Pendelegasian wewenang (authority delegation)

  3. Pengelompokan tugas (departmentalization)

  4. Rentang kontrol (span of control)


setelah dasar-dasar tersebut diambil maka selanjutnya adalah bagaimana masing-masing dapat berkoordinasi satu sama lain, mekanisme tersebut dilakukan dengan lima cara yaitu:

  1. Mutual Adjustment yaitu proses komunikasi informal yang sederhana

  2. Direct Supervision, yaitu supervisi langsung berupa penjelasan dari atasan atau supervisor atau yang sudah berpengalaman ke bawah.

  3. Work Process Standardization, yaitu standarisasi proses (SOP dan IKER)

  4. Standardization of Output, yaitu standarisasi hasil dari pekerjaan.

  5. Standardization of Skill yaitu standarisasi kemampuan dan kapabilitas yang dimiliki


Menurut tugas dan fungsinya masing-masing individu atau kelompok dalam organisasi dapat dibagi ke dalam:

  1. Strategic Apex yakni bagian yang berfungsi sebagai top management/direktur ke atas/pimpinan/kepala dari semua aktivitas organisasi.

  2. Operating Core yaitu individu atau kelompok yang bertugas sebagai pelaksana operasional atau yang melakukan pekerjaan-pekerjaan dari organisasi

  3. Middle Line, yaitu individu atau kelompok yang menjembatani strategic apex dan operating core

  4. Technostructure yaitu kelompok peneliti, analis, penyusun standar operasional, kelompok ini atau individu ini keliling pada semua bagian dalam menyusun sop tersebut.

  5. Support Staff, yaitu individu atau kelompok yang memfasilitasi  strategic apex, operating core, middle line dan technostructure dalam memfasilitasi sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menunjang jalannya organisasi.


Proses pengambilan keputusan melewati lima tahapan yaitu:

  1. Mengumpulkan informasi

  2. Memproses informasi untuk memberi rekomendasi

  3. Memilih alternatif tindakan yang bisa diambil

  4. Memberi otorisasi untuk melaksanakan tindakan yang dipilih

  5. Melaksanakan tindakan


Lima Model Struktur Organisasi (Mintzberg)


  1. Simple Struktur, bentuk organisasi yang paling sederhana, penetapan langsung dari pimpinan teratas dan secara langsung, model pembagian pekerjaan serabutan dan semi terkontrol. Simple Structure ini merupakan bentuk organisasi yang cocok dengan kondisi yang sifatnya juga simple, tetapi bisa sekaligus dinamis.

  1. Machine Bureaucracy, bentuk organisasi yang sangat rapi dengan terspesialisasi, tugas-tugas rutin, prosedur kerja, aturan, formalitas komunikasi di seluruh bagian. Kondisi yang cocok untuk Machine Bureaucracy adalah lingkungan yang stabil dan sederhana.

  1. Professional Bureaucracy, mekanisme melalui standarisasi keterampilan dan diberikan kewenangan yakni mereka merekrut ahli dibidangnya dan memberikan kewenangan untuk menjalankan operasionalnya. Lingkungan yang cocok adalah yang bersifat kompleks tetapi stabil.

  1. Divisionalized form adalah bentuk organisasi yang di design sesuai dengan basis konsumen, wilayah maupun pendapatan. Lingkungan yang cocok adalah lingkungan yang tidak terlalu kompleks dan tidak terlalu dinamik, atau mirip dengan lingkungan yang cocok untuk model machine bureaucracy.

  1. Adhokrasi, struktur yang sangat organik, minimal formalisasi, spesialisasi pekerjaan yang tinggi berdasarkan pendidikan formal dan keahlian, dan fokus pada proyek2 khusus, koordinasi ke semua bagian, fungsional, dan lingkup tertentu. Kondisi lingkungan yang membutuhkan model adhocracy ini adalah lingkungan yang kompleks dan dinamis.


Desain organisasi, ada 4 macam hal yang perlu diperhatikan

  1. Membagi pekerjaan yang kompleks menjadi pekerjaan yang lebih simpel (spesialisasi)/Division of labor.

  2. Membagi kewenangan dalam jabatan-jabatan yang telah dibentuk. Kewenangan termasuk hak untuk memutuskan dan memerintah  (Authority delegation)

  3. Melakukan pengelompokan pekerjaan-pekerjaan sejenis/setipe (Departmentalization)

  4. Menentukan jumlah Keefektifan suatu kelompok kerja (span of control)


Jumat, 09 September 2022

Pahami dulu Administrasi Publik, maka akan mengerti Pelayanan di Pemerintah

    Berurusan dengan administrasi pemerintah sering kali menjadi beban pikiran karena masalah administrasi yang sangat kaku, lambat, dan bisa jadi apa yang sudah disiapkan ditolak dan harus mengulang kembali dari awal sehingga memerlukan proses yang berulang-ulang dan waktu yang lama. Proses yang panjang dan kompleks dengan berbagai syarat administrasi pada layanan sering kali menjadi momok yang menakutkan yang membayangi pelayanan administrasi pemerintah.

    Berbagai upaya mengatasi hal tersebut dilakukan dengan inovasi-inovasi yang mencontoh perkembangan inovasi di sektor privat seperti pelayanan digital E-government dan mall pelayanan satu pintu tetapi sederet inovasi tersebut tidak melepaskan persyaratan administrasi yang wajib ada dan disiapkan saat berurusan dengan pelayanan pemerintah. Dokumen fisik yang telah ditandatangani dan berkas-berkas pendukung lainnya masih tetap disyaratkan dan ditransformasi ke dalam bentuk digital. Di era transparansi dan keterbukaan persyaratan dapat dilihat dari media online dan web pemerintah tetapi pelaksanaanya selalu jauh dari harapan, persyaratan formal mungkin bisa tertulis dalam informasi tersebut tetapi hal teknis seperti isi permohonan, format surat, dan konsep permohonan yang dipersyaratkan tidak secara jelas tertuang. Ketika bersinggungan dengan pemerintah terkait suatu kewajiban maka mau tidak mau masyarakat yang harus mengejar, menyiapkan berkas yang diminta, memfotokopi atau mentransformasikan data dalam bentuk digital sesuai permintaan persyaratan instansi.

    Kantor pemerintah yang sudah di modernisasi memberikan harapan semu pada perubahan layanan yang lebih maksimal tetapi permasalahan muncul karena berbagai macam penyebab. Administrasi publik tidak dapat disamakan dengan administrasi bisnis, efisiensi sangat penting dalam administrasi bisnis tetapi tidak begitu menjadi hal utama dalam administrasi publik, Persyaratan harus lengkap padahal syarat yang diminta seharusnya sudah ada dalam database pemerintah dan dapat diakses secara online tetapi prosedur yang dijalankan dalam administrasi publik tidak dapat melangkahi persyaratan formal yang harus dipenuhi.

    Salah satu yang menjadi permasalahan adalah membandingkan layanan pada pemerintah dengan pihak swasta, layanan pihak swasta selalu memanjakan customer dengan pelayanan terbaik, customer adalah raja dan kebutuhan mereka harus terpenuhi. tidak heran apabila dalam hal ini pihak swasta selalu mengejar customer, semua persyaratan yang kurang dapat dicari solusi sehingga tidak membuat customer berubah pikiran, berbeda dengan layanan pemerintah, sulitnya keputusan tersebut diambil oleh aparatur sipil negara dan anggapan bahwa masyarakat yang butuh karena itu pelayanan yang dimonopoli pemerintah mengandung kewajiban serta punishment bagi masyarakat apabila tidak dilaksanakan, sehingga pelayanan menjadi tidak seimbang, mau tidak mau masyarakat lah yang menjadi memanjakan pemerintah.

    Polemik seperti ini sering terjadi dalam layanan pemerintahan, syarat administrasi yang diminta dan kewajiban masyarakat menerima peraturan menjadi ketimpangan, padahal pola yang ditetapkan adalah sebuah layanan, bagaimana sebuah layanan mengandung pengertian menjadi dilayani dalam pemerintah. Hal ini juga dikarenakan pemerintah mengenakan sanksi dan memonopoli semua layanan yang ada, tidak ada pilihan lain kecuali keterpaksaan menerima pelayanan yang buruk tersebut dan semakin memperkuat stigma yang ada tentang birokrasi.

    Dalam pemerintahan para pejabat yang berpengalaman dan kompeten dalam mengambil keputusan selalu duduk dibalik meja, dan menerima laporan dari bawahannya, sedangkan mereka yang berhadapan di tengah masyarakat adalah para pegawai yang minim pengalaman dan kompetensi yang masih teoritis. Para ASN tersebut hanya menjadi perpanjangan tangan pimpinan tanpa mengetahui makna dan maksud dari suatu kebijakan. Hal ini seperti halnya sebuah mesin yang sudah diprogram dan tidak dapat memberikan diskresi dari prosedur administrasi yang ada, seringkali hal ini menjadi sorotan, ditambah lagi di era digitalisasi banyaknya pejabat publik maupun masyarakat dengan mudah menshare segala aktivitas dalam menerima pelayanan publik dengan menyoroti kinerja ASN pada level frontliner, mengomentari kerja yang lambat dan tidak efisien, padahal di balik itu ASN Frontliner tersandera dengan peraturan yang dibuat oleh aktor politik serta prosedur dari intansi.

    Tingkat kepuasan yang rendah dah kompetensi yang ada menambah permasalahan yang terjadi. Jika para pejabat birokrat yang memiliki kewenangan turun langsung menyelesaikan masalah setiap client dengan kewenangan dan pengalamanya tentu akan cepat mengambil diskresi dan memutuskan saat itu juga. mereka yang duduk dibalik meja diberi kewenangan tertentu untuk mengambil diskresi sedangkan mereka yang berhadapan langsung dengan masyarakat adalah pegawai dengan minim pengalaman, minim pengetahuan, dan hanya  mengetahui hal-hal teknis sesuai SOP yang telah diprogram oleh atasannya.

    Surat menyurat menjadi solusi tertulis yang akhirnya diambil oleh client, mau tidak mau semakin tertutupnya para pemimpin untuk berinteraksi langsung dan semakin terbatasnya jumlah pejabat karena mengikuti pola weberian dimana posisi jabatan adalah seperti piramida maka sulit bagi masyarakat untuk memperoleh keputusan secara cepat, akhirnya langkah prosedur administrasi ditindaklanjuti dengan mengajukan permohonan administrasi kepada pejabat yang berwenang. Semakin banyak masalah yang kompleks bisa jadi karena positivisme teoritis yang ditetapkan selalu mengacu pada aturan, tanpa pemahaman interpretivisme dan pengetahuan serta pengalaman yang cukup maka sulit bagi para ASN Frontliner untuk menyelesaikan masalah. Citra yang lambat, jelek dan tidak efisien akan selalu melekat dalam pelayanan publik.

    Banyak yang masih belum memahami tujuan dari pelayanan yang ada di pemerintah dengan pelayanan yang ada di sektor swasta, bahkan banyak juga yang memahami bahwa pelayanan gratis dan murah itulah penyebab lambatnya pelayanan yang ada di pemerintah. Hal ini diperparah dengan praktik percaloan yang seolah-olah mendukung asumsi tersebut. padahal calo hanya tahu secara mendetail prosedur dan syarat-syarat administratif yang harus dilengkapi dan dipersiapkan.  Pandangan masyarakat terhadap pelayanan publik diperoleh dari pengalaman empiris yang dialami saat berurusan dengan pemerintah, jika saja ASN yang berhadapan langsung dengan masyarakat adalah ASN yang kompeten tidak hanya di level pengetahuan tetapi juga wewenang maka keputusan dapat langsung diambil saat itu juga.

    Masyarakat semakin berkembang dan penggunaan teknologi semakin masif, hal ini menjadi tantangan baru dalam administrasi publik, terpaku pada satu konsep maka akan semakin besar jenjang harapan masyarakat dengan pelayanan publik. Teori administrasi publik yang sebelumnya dipisahkan dari ilmu politik pada era woodrow wilson membawa perubahan dimana administrasi publik mengadopsi ilmu-ilmu yang berkembang dari administrasi dan manajemen, walau tidak sepenuhnya lepas dari politik paling tidak administrasi publik sudah menempatkan posisinya sebagai bagian yang terpisah dari ilmu politik, perkembangan ilmu administrasi publik semakin masif mulai dari awalnya bergerak dengan pandangan positivisme dimana teori-teori yang ada dijadikan dasar untuk mengisi ilmu administrasi publik sampai kepada postpositivisme dimana administrasi publik tidak saja dipandang sebagai ilmu pasti tetapi dinamis dan perlu pendekatan yang lebih interpretif. hal ini lah yang menjadi perbedaan kenapa administrasi publik semakin ribet, apakah konsep politik yang masih melekat dalam administrasi publik tidak dapat terlepas sehingga menjadikan administrasi publik masih di bayang-bayangin politik yang berbeda dengan administrasi bisnis yang sudah dengan jelas memposisikan dirinya, administrasi publik masih terjerat dengan keputusan aktor politik.

    Masyarakat menuntut perubahan dengan keterwakilan para politisi dan pimpinan yang dipilih langsung, harapan perubahan akan sampai pada administrasi publik yang dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat, tapi struktur organisasi yang luas sulit dikendalikan oleh aktor politik. Kepentingan masyarakat yang semakin terspesifik ke persepsi individu akan semakin memperlebar harapan dan kenyataan. Administrasi publik tidak berfokus pada satu hal tapi banyak hal dalam menjalankan kegiatannya. Perkembangan masyarakat menuntut perubahan dan menjadi pertanyaan kenapa masih tidak dapat berjalan dengan baik. Secara sistem dan organisasi perubahan selalu di gemborkan, dibutuhkan pimpinan yang melayani dan pegawai ASN Frontliner yang kompeten dan memiliki wewenang yang cukup serta pengetahuan yang memadai untuk mengambil diskresi. Pegawai yang paham dari makna dan nilai suatu peraturan serta melihat diluar batas-batas administrasi yang kaku tanpa melanggar makna substantif yang ada dalam peraturan tersebut.

Kamis, 25 Agustus 2022

Catatan Kuliah

Masalah adalah kesenjangan (gap) antara harapan (das solen) dengan kenyataan (das sein),antara kebutuhan dengan yang tersedia, antara yang seharusnya dengan yang ada. Penelitian dimaksudkan untuk menutup kesenjangan. Kesenjangan masalah menimbulkan kebutuhan untuk menutupnya dengan mencari jawaban atas pertanyaan yang menimbulkan kesenjangan. Kegiatan menutup kesenjangan dilakukan dengan penelitian. Dengan kata lain, penelitian mencari suatu jawaban yang belum diketahui, memenuhi kebutuhan yang belum tersedia, dan menyediakan yang belum ada. Penelitian di harapkan dapat memecahkan masalah atau setidak-tidaknya memperkecil kesenjangan.



Hofstede's cultural dimensions theory


Social exchange theory is a sociological and psychological theory that studies the social behavior in the interaction of two parties that implement a cost-benefit analysis to determine risks and benefits. 

Game theory is the study of mathematical models of strategic interactions among rational agents.[1] It has applications in all fields of social science, as well as in logic, systems science and computer science.


cultural identity theory (Wildavsky 1987)


social learning theory (Bandura 1977 and 1986; Grusec 1992)

theory of deontic work motivation

The Functionalist Perspective

The Interactionist Perspective

The Conflict Perspective


Boundary theory

Featured snippet from the web

Boundary theory proposes that individuals manage the boundaries between work and personal life through processes of segmenting and/or integrating the domains. T





Kamis, 18 Agustus 2022

Tools Kuis

Aplikasi-aplikasi Online

https://kahoot.it/ (aplikasi kuis2 online)

https://quizizz.com/join (aplikasi2 pembalajaran oline berbasis game)

https://wordwall.net/ (interactive Learning)

dalam pemebalajaran media interaktif berkembang pesat dan dalam dunia swasta juga seperti itu, lalau bagaimana dengan goverment, apakah model kerja goverment akan selalu tertinggal, bagaimana posisi hukum dan administrasi publik berada?

https://handypolls.com/ (web pooling)