Sabtu, 13 September 2025

Idiografik dan Nomotetik

 ðŸ”¹ 1. Idiografik (Idiographic Explanation)

Definisi:

Pendekatan idiografik bertujuan untuk menjelaskan satu kejadian spesifik secara mendalam dan rinci.

Karakteristik:

  • Fokus pada kasus tunggal.
  • Menyajikan penjelasan yang unik, kontekstual, dan sangat detail.
  • Tidak bertujuan untuk menggeneralisasi ke kasus lain.

Contoh:

Kamu gagal ujian karena:

  1. Lupa ada ujian hari itu,
  2. Terjebak macet,
  3. Panik saat ujian,
  4. Lembur malam sebelumnya,
  5. Anjingmu memakan buku teks.

Semua alasan ini mungkin benar dan valid, tetapi hanya berlaku untuk satu peristiwa tersebut dan tidak bisa digeneralisasi ke orang lain atau kejadian lain, bahkan jika melibatkan orang yang sama.


🔹 2. Nomotetik (Nomothetic Explanation)

Definisi:

Pendekatan nomotetik bertujuan untuk menjelaskan pola umum atau kelas kejadian yang berulang.

Karakteristik:

  • Fokus pada generalisasi, bukan peristiwa tunggal.
  • Menggunakan beberapa variabel penyebab utama (biasanya dalam jumlah kecil).
  • Menjelaskan secara ekonomis (efisien, tidak bertele-tele).
  • Digunakan dalam pengembangan teori.

Contoh:

Siswa yang gagal ujian biasanya karena:

  • Kurang belajar,
  • Gangguan konsentrasi (misalnya ADHD),
  • Cemas berlebihan saat ujian.

Penjelasan ini berlaku secara umum bagi banyak siswa, tapi kurang detail dibanding penjelasan idiografik.


🔹 3. Perbandingan Singkat

Aspek

Idiografik

Nomotetik

Fokus

Kasus individual/spesifik

Pola umum/kelas kejadian

Tujuan

Memahami secara mendalam

Menjelaskan secara luas

Generalisasi

Tidak

Ya

Tingkat detail

Tinggi

Rendah hingga sedang

Contoh dalam ilmu sosial

Studi kasus, etnografi

Survei, eksperimen kuantitatif

Hubungan dengan teori

Tidak selalu membangun teori

Biasanya digunakan dalam teori


🔹 4. Aplikasi dalam Penelitian

  • Idiografik cocok untuk:
    • Penelitian kualitatif.
    • Studi kasus mendalam.
    • Analisis fenomena unik atau langka.
  • Nomotetik cocok untuk:
    • Penelitian kuantitatif.
    • Mencari hubungan sebab-akibat umum.
    • Membuat atau menguji teori.

Kesimpulan:

  • Idiografik menjelaskan "kenapa sesuatu terjadi dalam konteks spesifik".
  • Nomotetik menjelaskan "kenapa sesuatu cenderung terjadi secara umum".
  • Teori ilmiah biasanya bersifat nomotetik, karena ingin menjelaskan dan memprediksi pola perilaku dalam populasi luas.
  • Namun, dalam praktik, keduanya bisa saling melengkapi: idiografik memberi kedalaman, nomotetik memberi keluasan.

Positivisme dan Post Positivisme

 ðŸ”¹ 1. Positivisme

Asal-usul: Dikembangkan oleh Auguste Comte (1798–1857), seorang filsuf asal Prancis.

Inti pemikiran:

  • Pengetahuan ilmiah hanya sah jika berdasarkan pada apa yang bisa diamati dan diukur secara empiris.
  • Penalaran ilmiah = observasi + pengukuran → Fokus pada fakta yang bisa diverifikasi secara objektif.
  • Bertujuan memisahkan ilmu dari agama, karena agama berdasarkan pada kepercayaan yang tidak bisa diobservasi.
  • Hanya hal-hal yang terlihat dan terukur yang dianggap pantas untuk diteliti secara ilmiah.

Kelemahan:

  • Menolak pemikiran abstrak, emosi, dan subjektivitas manusia karena tidak bisa diukur.
  • Melahirkan empirisisme ekstrem, atau kepercayaan buta pada data yang bisa diamati, tanpa ruang untuk penafsiran.

🔹 2. Post-positivisme

Muncul karena: Kekecewaan terhadap keterbatasan positivisme, terutama dalam memahami manusia sebagai makhluk kompleks dan kontekstual.

Inti pemikiran:

  • Menggabungkan data empiris dan penalaran logis.
  • Memandang ilmu sebagai pendekatan probabilistik, bukan pasti → artinya kebenaran ilmiah itu bersifat sementara dan bisa berubah tergantung konteks.
  • Tidak menolak data, tetapi mengakui keterbatasan pengamatan manusia dan pentingnya interpretasi.

🔹 Variasi dalam Post-positivisme

  1. Subjektivisme:
    • Dunia dianggap sebagai konstruksi subjektif dari pikiran manusia.
    • Tidak ada realitas objektif tunggal → semua realitas dibentuk oleh pengalaman dan pemahaman individu.
  2. Realisme Kritis (Critical Realism):
    • Percaya bahwa ada realitas objektif di luar diri manusia.
    • Tapi, kita tidak akan pernah bisa memahami realitas itu secara sempurna karena keterbatasan persepsi dan alat ilmiah.
    • Fokus pada struktur sosial yang tidak terlihat secara langsung, tapi berpengaruh nyata (misalnya: kekuasaan, budaya, norma tersembunyi).

🧩 Perbandingan Singkat:

Aspek

Positivisme

Post-positivisme

Asal

Auguste Comte

Kritik terhadap positivisme

Realitas

Objektif dan bisa diketahui

Objektif tapi tidak bisa diketahui secara pasti

Fokus

Fakta yang bisa diukur

Fakta + interpretasi/logika

Subjektivitas

Dikesampingkan

Diakui dan dianalisis

Contoh pendekatan

Survei kuantitatif

Mixed methods, analisis kritis, interpretatif


Kesimpulan:

  • Positivisme cocok untuk fenomena alamiah dan terukur (misalnya fisika, biologi).
  • Post-positivisme lebih cocok untuk fenomena sosial yang kompleks dan penuh makna (misalnya perilaku manusia, kebijakan publik).
  • Dalam ilmu administrasi publik, banyak peneliti saat ini cenderung memakai pendekatan post-positivis karena lebih fleksibel dan mampu menangkap realitas sosial yang beragam.

Paradigma

 

Penjelasan kutipan tersebut berkaitan dengan konsep paradigma, yang merujuk pada kerangka berpikir atau sistem keyakinan yang digunakan seseorang atau kelompok untuk mengorganisasi penalaran dan menginterpretasi realitas. Berikut penjelasannya secara bertahap:

1. Paradigma sebagai model mental

Paradigma adalah model mental atau "kerangka acuan" (frame of reference) yang digunakan untuk memahami dan menafsirkan dunia. Kita semua memiliki "kacamata berwarna" yang membentuk cara kita melihat dan berpikir tentang fenomena sosial di sekitar kita.

2. Asal-usul konsep oleh Thomas Kuhn

Istilah “paradigma” dipopulerkan oleh Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions (1962). Kuhn menjelaskan bahwa dalam ilmu pengetahuan, paradigma menentukan cara ilmuwan melihat dan memahami dunia, termasuk metode, teori, dan asumsi yang digunakan. Bila paradigma lama tak mampu menjelaskan anomali, maka akan terjadi pergeseran paradigma.

3. Paradigma dalam ilmu sosial

Dalam ilmu sosial, paradigma juga penting karena realitas sosial tidak bersifat objektif mutlak. Orang berbeda bisa melihat fenomena sosial yang sama dengan cara yang sangat berbeda, tergantung pada nilai-nilai, latar belakang budaya, dan keyakinan mereka.

Contoh konkret:

  • Konservatif vs. Liberal:
    • Konservatif percaya pemotongan pajak bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.
    • Liberal percaya intervensi pemerintah, seperti program pekerjaan umum, lebih efektif.
  • Barat vs. Asia:
    • Masyarakat Barat lebih menekankan hak individu.
    • Masyarakat Asia cenderung menyeimbangkan antara hak individu dan kepentingan kolektif (keluarga, organisasi, negara).

4. Implikasi dari perbedaan paradigma

Perbedaan paradigma menyebabkan:

  • Ketegangan antar kelompok ideologis (misalnya antara konservatif dan liberal),
  • Perbedaan kebijakan publik,
  • Perbedaan cara menilai tindakan pemerintah atau masyarakat lain.

5. Paradigma sebagai lensa berpikir

Akhirnya, paradigma adalah "lensa berpikir". Seperti kacamata berwarna, paradigma memengaruhi:

  • Apa yang kita lihat sebagai masalah,
  • Bagaimana kita menjelaskan masalah itu,
  • Dan solusi apa yang kita anggap tepat.

Kesimpulan:

Paradigma bukan hanya cara berpikir individual, tapi juga kerangka kolektif yang membentuk bagaimana komunitas atau masyarakat memahami dan merespons dunia. Dalam studi sosial dan administrasi publik, memahami paradigma sangat penting agar kita bisa melihat keragaman perspektif, bukan hanya satu cara pandang tunggal.

Selasa, 22 Oktober 2024

Journal Finder Springer

 Menentukan Jurnal yang tepat di Springer

https://link.springer.com/journals

Selasa, 08 Oktober 2024

CHECK LANGUANGE QUALITY FOR YOR PAPER FROM TAYLOR

Rabu, 28 Agustus 2024

Menakar Kualitas Paper

Apa yang harus diperhatikan dalam membuat paper, silakkan koreksi paper anda

  1. Judul dan kesimpulan apakah telah menunjukkan KONTRIBUSI?
  2. Perhatikan Referensi anda, apakah referensi merupakan artikel-artikel terbaik dan jelas?
  3. Bagaimana bahasa inggris dalam tulisan anda?
  4. Apakah sistematika body penulisan telah sesuai dengan anatomi yang benar (Introduction-Metohds-Result-Discussion-Conclusion)?
  5. Apakah anda paham jurnal tujuan anda?
  6. APakah penulisan Sitasi sudah sesuai?
  7. Cek kembali hubungan antara masing-masing bagian (judul-tujuan-diskusi-kesimpulan)
  8. Template, Scope dan autor guideline apakah sudah sesuai yang diminta jurnal?


Motivasi

Motivasi adalah dorongan internal yang menggerakkan seseorang untuk bertindak. Ilmu psikologi mempelajari motivasi secara mendalam, mengungkap faktor-faktor yang memengaruhi, dan bagaimana kita dapat memanfaatkannya untuk mencapai tujuan.

Mengapa Motivasi Penting?

· Menggerakkan Tindakan: Motivasi adalah kunci untuk memulai dan mempertahankan tindakan.

· Menentukan Arah: Motivasi membantu kita fokus pada tujuan yang ingin dicapai.

· Meningkatkan Kinerja: Motivasi yang tinggi dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja.

· Mengatasi Tantangan: Motivasi membantu kita mengatasi rintangan dan kegagalan.

Sumber-sumber Motivasi

Menurut psikologi, motivasi dapat berasal dari berbagai sumber, antara lain:

· Kebutuhan Dasar: Kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, dan tidur, serta kebutuhan psikologis seperti rasa aman dan rasa memiliki.

· Tujuan: Tujuan yang jelas dan spesifik dapat menjadi sumber motivasi yang kuat.

· Nilai-nilai: Nilai-nilai pribadi yang diyakini seseorang dapat menjadi pendorong motivasi.

· Insentif: Imbalan atau penghargaan dapat meningkatkan motivasi.

· Pengakuan: Pengakuan atas prestasi dapat memberikan dorongan motivasi.

Teori-teori Motivasi dalam Psikologi

Beberapa teori motivasi yang terkenal dalam psikologi antara lain:

· Teori Hierarki Kebutuhan Maslow: Teori ini mengurutkan kebutuhan manusia dari yang paling dasar hingga yang paling tinggi.

· Teori Dua Faktor Herzberg: Teori ini membedakan antara faktor yang dapat memuaskan dan faktor yang dapat menimbulkan ketidakpuasan.

· Teori Penetapan Tujuan: Teori ini menekankan pentingnya memiliki tujuan yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan memiliki batas waktu.

Penerapan Motivasi dalam Kehidupan

Memahami motivasi dapat membantu kita dalam berbagai aspek kehidupan, seperti:

· Pekerjaan: Meningkatkan produktivitas, kepuasan kerja, dan karier.

· Pendidikan: Meningkatkan minat belajar dan prestasi akademik.

· Hubungan Interpersonal: Membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain.

· Pengembangan Diri: Mencapai potensi diri secara maksimal.

Intinya:

Motivasi adalah kekuatan yang ada di dalam diri kita. Dengan memahami faktor-faktor yang memengaruhi motivasi, kita dapat mengoptimalkannya untuk mencapai tujuan hidup kita.

Apakah ada topik spesifik tentang motivasi yang ingin Anda bahas lebih lanjut? Misalnya, bagaimana cara meningkatkan motivasi diri, atau bagaimana memotivasi orang lain?

Beberapa pertanyaan yang mungkin bisa membantu Anda:

· Apa yang biasanya memotivasi Anda?

· Apa yang membuat Anda kehilangan motivasi?

· Bagaimana Anda mengatasi rasa malas atau tidak bersemangat?

· Apa tujuan yang ingin Anda capai saat ini?

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Anda dapat lebih memahami diri sendiri dan menemukan cara untuk meningkatkan motivasi Anda.

 

 

Sabtu, 22 Juni 2024

EMOTION AND MOODS

 

EMOTION AND MOODS

Stephen Robbin dan Timothy Judges


Emosi dapat sangat mempengaruhi sikap kita terhadap orang lain, pengambilan keputusan kita, dan perilaku kita. Mereka bahkan dapat memicu konflik dengan konsekuensi yang berpotensi bencana.

Pertama, kita perlu membahas tiga istilah yang saling terkait erat: pengaruh, emosi, dan suasana hati. Pengaruh adalah istilah umum yang mencakup berbagai perasaan, termasuk emosi dan suasana hati. Emosi bersifat intens, terpisah, dan berumur pendek, sering kali disebabkan oleh peristiwa tertentu. Suasana hati adalah perasaan yang berumur Emosi positifnjang dan kurang intens daripada emosi. Mereka sering muncul tanpa peristiwa tertentu yang bertindak sebagai stimulus. Bukti menunjukkan hubungan antara pengaruh, emosi, dan suasana hati. Pengaruh adalah istilah luas yang mencakup emosi dan suasana hati. Pengaruh bervariasi menurut valensinya, atau sejauh mana perasaan itu positif (misalnya, bersemangat, bahagia, gembira) atau negatif (misalnya, sedih, marah, frustrasi).

Kedua, ada perbedaan antara emosi dan suasana hati. Emosi lebih mungkin disebabkan oleh peristiwa tertentu dan lebih cepat berlalu daripada suasana hati.

 

Pengaruh Positif dan Negatif

Sebagai langkah pertama untuk mempelajari suasana hati dan emosi, kami mengklasifikasikan pengaruh ke dalam dua kategori: positif dan negatif.

Emosi positif  seperti sukacita dan syukur, mengekspresikan evaluasi atau perasaan yang menguntungkan.

Emosi negatif seperti kemarahan dan rasa bersalah, mengekspresikan sebaliknya. Kita dapat menganggap pengaruh positif (PA) sebagai dimensi yang terdiri dari emosi positif seperti kegembiraan, dan kegembiraan di ujung atas (high positive affect).

Pengaruh negatif (NA) adalah dimensi yang terdiri dari kegugupan, stres, dan kecemasan di ujung atas (high negative affect).

Misalnya, gembira adalah emosi pengaruh positif yang tinggi, sedangkan bosan adalah emosi pengaruh positif yang rendah. Gugup adalah emosi pengaruh negatif yang tinggi, sedangkan santai adalah emosi pengaruh negatif yang rendah. Akhirnya, beberapa emosi berada "di antaranya." Garis putus-putus, di sisi lain, menunjukkan bahwa beberapa emosi dapat secara bersamaan tinggi atau rendah di Emosi positif atau Emosi Negatif. Misalnya, kesal dan sedih secara bersamaan mempengaruhi positif rendah dan mempengaruhi negatif tinggi, sementara bahagia dan konten secara bersamaan mempengaruhi positif tinggi dan pengaruh negatif rendah.

Perlu diingat bahwa emosi tidak bisa netral. Bersikap netral berarti tidak emosional. orang berbeda dalam seberapa banyak mereka mengalami Emosi positif dan Emosi Negatif. Beberapa (kita mungkin menyebutnya intens secara afektif) mungkin sangat mengalami sedikit pengaruh positif dan negatif tinggi dalam hitungan hari atau minggu. Yang lain mungkin mengalami sedikit dari keduanya. Dan tetap saja, beberapa orang mungkin cenderung mengalami yang satu jauh lebih dominan daripada yang lain.

 

Emosi Dasar

Anda mungkin bertanya-tanya, berapa banyak emosi yang ada? Ada lusinan—termasuk kemarahan, penghinaan, antusiasme, iri hati, ketakutan, frustrasi, kekecewaan, rasa malu, jijik, kebahagiaan, kebencian, harapan, kecemburuan, sukacita, cinta, kesombongan, kejutan, dan kesedihan.

Banyak peneliti telah mencoba membatasi mereka pada seperangkat fundamental. Sarjana lain berpendapat bahwa dengan berpikir dalam kerangka emosi "dasar", kita kehilangan gambaran yang lebih besar karena emosi dapat berarti hal yang berbeda dalam konteks yang berbeda dan dapat bervariasi antar budaya.

Tidak mungkin bahwa inti psikolog atau filsuf akan sepenuhnya setuju pada satu set emosi dasar atau bahkan pada apakah ada hal seperti itu. Namun, banyak peneliti sepakat mengenai enam emosi universal—kemarahan, ketakutan, kesedihan, kebahagiaan, jijik, dan kejutan. Jika Anda pernah memegang pekerjaan sebelumnya, Anda mungkin dapat memikirkan saat-saat ketika Anda mengalami emosi-emosi ini di tempat kerja.

Misalnya, Anda mungkin mengalami pengaruh negatif setelah tinjauan kinerja yang buruk dari atasan Anda di department store tempat Anda bekerja. Anda mungkin marah dengan atasan Anda, takut diberhentikan, atau menduga bahwa supervisor memberi Anda evaluasi yang buruk.

Psikolog telah mencoba mengidentifikasi emosi dasar dengan mempelajari bagaimana kita mengekspresikannya. Ekspresi wajah terbukti sulit untuk ditafsirkan. Salah satu kemungkinan adalah bahwa beberapa emosi terlalu rumit untuk mudah diwakili di wajah kita. Kedua, meskipun orang dapat, untuk sebagian besar Emosi positifrt, mengenali emosi lintas budaya pada tingkat yang lebih baik daripada kebetulan, akurasi ini lebih buruk untuk kelompok budaya dengan lebih sedikit paparan satu sama lain.

Karyawan juga dapat secara vokal mengekspresikan emosi mereka, dan kecerdasan buatan (AI) memajukan penelitian di bidang ini. Misalnya, satu studi pembelajaran mesin (lihat bab pengantar) pidato dari seratus aktor profesional di berbagai negara berbahasa Inggris menemukan bahwa orang lebih baik dalam mengenali emosi aktor dari negara yang sama, menunjukkan bahwa ada perbedaan dialek dalam mengekspresikan emosi secara verbal.

Membedakan emosi lintas budaya cukup penting di era globalisasi ini; Anda mungkin menemukan diri Anda berkomunikasi dengan orang-orang dari budaya yang sangat berbeda. Memahami nuansa dalam cara mereka mengekspresikan emosi bisa sangat membantu. Mempelajari bagaimana emosi ditampilkan, mendidik diri sendiri tentang emosi khusus budaya, dan Emosi positif yang perhatian terhadap isyarat ketika berinteraksi dengan orang-orang dari budaya lain dapat membantu Anda menjadi komunikator lintas budaya yang lebih baik.

 

Moral Emotions

Beberapa emosi terkait erat dengan interpretasi kita tentang peristiwa yang membangkitkannya. Salah satu bidang di mana para peneliti telah memajukan gagasan ini adalah melalui studi tentang emosi moral, yaitu, emosi yang memiliki implikasi moral karena penilaian instan kita terhadap situasi yang membangkitkan mereka.

Katakanlah Anda menonton video rekan kerja membuat cercaan seksis atau rasis. Anda mungkin merasa jijik karena itu menyinggung perasaan Anda tentang benar dan salah. Anda mungkin merasakan beragam emosi berdasarkan penilaian moral Anda terhadap situasi tersebut.

 Contoh lain dari emosi moral mencakup simpati terhadap penderitaan orang lain, rasa bersalah tentang perilaku amoral kita, kemarahan tentang ketidakadilan yang dilakukan terhadap orang lain, dan penghinaan terhadap mereka yang berperilaku tidak etis. Oleh karena itu, kita perlu menyadari aspek moral dari situasi yang memicu emosi kita dan memastikan bahwa kita memahami konteksnya sebelum bertindak, terutama di tempat kerja.

Penelitian menunjukkan bahwa tanggapan kita terhadap emosi moral berbeda dari tanggapan kita terhadap emosi lain. Ketika kita merasakan kemarahan moral, kita mungkin lebih mungkin menghadapi situasi yang menyebabkannya daripada ketika kita hanya merasa marah. Misalnya, dokter ruang gawat darurat dan spesialis rumah sakit yang menangani krisis setiap hari menemukan bahwa mengamati penderitaan orang lain membuat mereka mengalami emosi moral yang simpatik dan menganjurkan Emosi positif. Sebaliknya, perilaku tidak etis dokter lain membuat sesama dokter menjadi marah dan memberi sanksi kepada mereka.

Namun, kita tidak dapat berasumsi bahwa reaksi emosional kita terhadap peristiwa akan sama dengan orang lain. Anak-anak mengembangkan emosi moral selama masa kanak-kanak ketika mereka belajar norma-norma dan standar moral, sehingga emosi moral bergantung pada situasi dan konteks normatif lebih dari emosi lainnya. Karena moralitas berbeda dari satu budaya ke budaya berikutnya, begitu juga emosi moral. Orang-orang sebelumnya percaya bahwa sebagian besar pengambilan keputusan etis bergantung pada pemikiran dan kognisi. Penelitian tentang emosi moral semakin mempertanyakan perspektif ini. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa keputusan etis terutama didasarkan pada perasaan daripada pikiran, meskipun kita cenderung melihat masalah moral sebagai logis dan masuk akal, bukan emosional. Sampai taraf tertentu, keyakinan kita dibentuk oleh kelompok-kelompok tempat kita berasal, yang memengaruhi persepsi kita tentang etika dalam situasi tertentu. Sayangnya, persepsi bersama ini dapat mengarahkan kita untuk membenarkan reaksi emosional murni sebagai rasional "etis" hanya karena kita membaginya dengan orang lain.

Kita juga cenderung menghakimi (dan menghukum) anggota kelompok luar (siapa pun yang tidak termasuk dalam kelompok kita) lebih keras atas pelanggaran moral daripada anggota kelompok dalam, bahkan ketika kita berusaha bersikap objektif (lihat bab tentang keragaman). Juga, kita cenderung memuliakan anggota kelompok (siapa pun yang Emosi positif dari kelompok kita), menggunakan lebih banyak keringanan hukuman ketika menilai kesalahan mereka,  sering kali mengarah pada standar ganda etika. Anda dapat memikirkan penelitian ini untuk melihat bagaimana emosi moral beroperasi dalam kehidupan Anda sendiri. Pertimbangkan saat ketika Anda telah melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain. Apakah Anda merasa marah atau kesal dengan diri sendiri? Atau pikirkan saat ketika Anda melihat orang lain diperlakukan tidak adil. Apakah Anda merasa jijik terhadap orang yang bertindak tidak adil, atau apakah Anda terlibat dalam perhitungan rasional yang dingin tentang keadilan situasi? Kebanyakan orang yang memikirkan situasi ini memiliki perasaan gejolak emosional yang mungkin mendorong mereka untuk terlibat dalam tindakan etis seperti menyumbangkan uang untuk membantu orang lain, meminta maaf dan berusaha menebus kesalahan, atau campur tangan atas nama mereka yang telah dianiaya. Singkatnya, kita dapat menyimpulkan bahwa berperilaku etis setidaknya Emosi positif melibatkan pengambilan keputusan berdasarkan emosi dan perasaan. Emosi bisa cepat berlalu, tetapi suasana hati bisa bertahan, dan cukup lama. Untuk memahami dampak emosi dan suasana hati dalam organisasi, kami selanjutnya mengklasifikasikan banyak emosi yang berbeda ke dalam kategori suasana hati yang lebih luas.

 

Mengalami Suasana Hati dan Emosi

Seolah-olah itu tidak cukup rumit untuk mempertimbangkan banyak emosi berbeda yang mungkin dialami seorang putra, kenyataannya adalah bahwa kita semua mengalami suasana hati secara berbeda juga. Bagi kebanyakan orang, suasana hati positif agak lebih umum daripada suasana hati negatif.

emosi negatif cenderung mengarah pada suasana hati negatif. Mungkin ini terjadi karena orang berpikir tentang peristiwa yang menciptakan emosi negatif yang kuat lima kali lebih lama daripada peristiwa yang menciptakan emosi positif yang kuat.

Apakah sejauh mana orang mengalami emosi positif dan negatif bervariasi antar budaya? Ya, Alasannya bukan karena orang-orang dari berbagai budaya secara inheren berbeda. Orang-orang di sebagian besar budaya tampaknya mengalami banyak emosi positif dan negatif dengan cara yang sama, dan orang-orang menafsirkannya dengan cara yang hampir sama di seluruh dunia.

Kita semua memandang emosi negatif seperti kebencian, teror, dan kemarahan sebagai berbahaya dan merusak. Kita menginginkan emosi positif seperti sukacita, cinta, dan kebahagiaan. Namun, pengalaman individu tentang emosi tampaknya dibentuk secara budaya.

Beberapa budaya menghargai emosi tertentu lebih dari yang lain, yang menyebabkan individuals mengubah perspektif mereka dalam mengalami emosi-emosi ini. Misalnya, banyak budaya, seperti Meksiko dan Brasil, menekankan emosi dan ekspresi positif. Namun, beberapa budaya, seperti Jepang dan Rusia, merangkul emosi negatif sebagai berguna dan konstruktif. Menariknya, emosi negatif kurang merugikan kesehatan orang-orang Timur (penilaian emosi negatif) dibandingkan dengan budaya Barat.

Sebagai dukungan, penelitian menunjukkan menilai pengaruh negatif sering memungkinkan orang untuk menerima keadaan saat ini dan mengatasinya, mengurangi efek buruk pada kesehatan fisik dan psikologis dan pengambilan keputusan.

Pengaruh negatif juga memungkinkan manajer untuk berpikir lebih kritis dan adil. Namun, perbedaan dalam apa yang dianggap ideal mempengaruhi lintas budaya dapat memiliki implikasi yang signifikan bagi keragaman tempat kerja. Misalnya, serangkaian penelitian yang membandingkan orang Eropa-Amerika dan Cina Hong Kong menemukan bahwa orang Eropa-Amerika menyampaikan lebih banyak emosi positif dalam lamaran pekerjaan dan wawancara jarak jauh mereka daripada orang Cina Hong Kong.  Selain itu, manajer perekrutan Eropa-Amerika menilai pelamar ideal mereka menampilkan lebih banyak emosi positif dan lebih cenderung mempekerjakan pelamar yang menunjukkan emosi ini untuk magang.  Sekarang setelah kita mengidentifikasi emosi dasar, suasana hati dasar, dan pengalaman kita tentang mereka, mari kita jelajahi fungsi emosi dan suasana hati, Emosi

Fungsi Emosi

individu yang cenderung mengalami pengaruh positif secara konsisten karena Emosi positif dari kepribadian mereka, cenderung menikmati hasil positif ini dalam jangka panjang.  Apakah emosi membuat kita tidak rasional? Seberapa sering Anda mendengar seseorang berkata, "Oh, Anda hanya sedang emosional"? Anda mungkin tersinggung.

Pengamatan seperti ini menunjukkan bahwa rasionalitas dan emosi berada dalam konflik dan bahwa dengan menunjukkan emosi, Anda bertindak tidak rasional. Hubungan yang dirasakan antara keduanya begitu kuat sehingga beberapa peneliti berpendapat bahwa menampilkan emosi seperti kesedihan sampai menangis sangat beracun.

Perspektif ini menunjukkan bahwa pengalaman emosi dapat membuat kita tampak lemah, rapuh, atau tidak rasional. Namun, emosi kita dapat membuat pemikiran kita lebih rasional. Mengapa? Karena emosi kita memberikan informasi penting tentang bagaimana kita memahami dunia di sekitar kita dan membantu membimbing perilaku kita. Misalnya, individu-individu dalam suasana hati yang negatif mungkin lebih mampu membedakan yang benar dari yang tidak akurat daripada orang-orang dalam suasana hati yang bahagia.

Lebih jauh lagi, rasionalitas dingin tidak mengakui bahwa di dunia di sekitar kita orang-orang, dengan Emosi Negatif, Kami akan melakukan yang terbaik untuk mengenali dan memahami emosi kami sendiri (dan orang lain) dan menggunakan informasi ini dalam interaksi kami dengan orang lain. Ketika kita dapat mengidentifikasi sumber emosi dan suasana hati, kita dapat mendikte perilaku dengan lebih baik dan mengelola interaksi kita dengan orang-orang secara lebih efektif. Mari kita jelajahi topik itu selanjutnya.

 

Sumber Emosi dan Suasana Hati

Dalam 24 jam ada waktu suasana hatmu akan turun naik pada jam-jam tertentu naik dan jam-jam tertentu beda. Dapat dihubungkan dengan metabolisme tubuh juga.

Dari mana suasana hati yang buruk ini berasal :

Kepribadian

Pengaruh memiliki komponen sifat kepribadian, yang berarti bahwa beberapa orang memiliki kecenderungan bawaan untuk mengalami suasana hati dan emosi tertentu lebih sering daripada yang lain.

Orang yang intens secara afektif mengalami emosi positif dan negatif lebih dalam: Ketika mereka sedih, mereka benar-benar sedih, dan ketika mereka bahagia, mereka benar-benar bahagia. Baik kecenderungan untuk mengalami emosi positif maupun negatif dan intensitas di mana kita merasakannya memengaruhi beberapa faktor di tempat kerja,

 

Waktu hari

Mungkin terlalu dini bagi Jordan untuk berinteraksi dengan rekan kerja. Memang, penelitian menunjukkan bahwa suasana hati bervariasi berdasarkan waktu. Selain itu, kebanyakan dari kita mengikuti Emosi positifttern yang sama. Pada hari kerja biasa, tingkat pengaruh positif cenderung meningkat di pagi hari setelah matahari terbit, memuncak di pagi hari (jam sepuluh hingga tengah hari) dan kemudian perlahan-lahan menurun hingga sore hari (sekitar jam enam). Kemudian positif mempengaruhi arah peralihan dan meningkat hingga tengah malam. Setelah itu, lintasan beralih arah lagi dan menurun sampai matahari terbit. Adapun pengaruh negatif, sebagian besar penelitian menunjukkan itu berfluktuasi kurang dari pengaruh positif. Namun, kecenderungan umum adalah untuk itu meningkat sepanjang hari, sehingga terendah di pagi hari dan tertinggi di sore hari.Sebuah studi yang menarik menilai efek waktu

 

Hari dalam seminggu

Apakah ini hanya kasus "Senin" untuk Yordania? Di sebagian besar budaya, hari Senin dapat . . . "bermasalah" bagi karyawan — misalnya, seperti yang ditunjukkan dalam Exhibit 4-4, orang dewasa AS cenderung mengalami pengaruh positif tertinggi pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu dan terendah pada hari Senin.53 Ini cenderung benar di beberapa budaya lain. Namun, ini tidak terjadi di semua budaya. Di Jepang, pengaruh positif lebih tinggi pada hari Senin daripada pada hari Jumat atau Sabtu.54 Mengenai pengaruh negatif, Senin adalah hari dengan dampak negatif tertinggi di sebagian besar budaya.55 Namun, di beberapa negara, pengaruh negatif lebih rendah pada hari Jumat dan Sabtu daripada pada hari Minggu. Mungkin sementara hari Minggu menyenangkan sebagai hari libur (dan dengan demikian kita memiliki pengaruh positif yang lebih tinggi), orang juga sedikit stres tentang minggu depan (itulah sebabnya pengaruh negatif lebih tinggi).

 

Stres

Mungkin Jordan cemas tentang pertemuan yang mengkhawatirkan dengan manajer sore itu. Seperti yang Anda bayangkan, peristiwa stres di tempat kerja (e-mail Emosi Negatifsty, tenggat waktu yang akan datang, kehilangan penjualan besar, teguran dari bos, dll.) secara negatif mempengaruhi emosi dan suasana hati kita (yang kita bahas secara lebih rinci dalam bab ter tentang kesehatan organisasi dan stres). Sebagai penulis dari satu catatan penelitian, "Diet konstan bahkan peristiwa stres tingkat rendah memiliki potensi untuk menyebabkan pekerja mengalami peningkatan tingkat ketegangan secara bertahap dari waktu ke waktu." 59 Tingkat stres yang meningkat dapat memperburuk suasana hati kita saat kita mengalami lebih banyak emosi negatif. Meskipun kadang-kadang kita berkembang di atasnya,60 kebanyakan dari kita menemukan stres biasanya berdampak buruk pada suasana hati kita. Bahkan, ketika situasi terlalu emosional dan penuh tekanan, kita memiliki respons Emosi Negatiftural untuk melepaskan diri, untuk benar-benar berpaling.6

 

Cuaca

Mungkin Jordan merasa sedikit ... "di bawah cuaca." Banyak orang percaya bahwa suasana hati mereka terkait dengan cuaca, dan memang, ada banyak "pembenci hujan" dan "pecinta musim panas" yang memproklamirkan diri. 56 Namun, banyak bukti menunjukkan cuaca tidak banyak berpengaruh pada suasana hati, setidaknya bagi kebanyakan orang.57 Korelasi ilusi, yang terjadi ketika kita mengaitkan dua peristiwa yang, pada kenyataannya, tidak memiliki hubungan, menjelaskan mengapa orang cenderung berpikir cuaca memengaruhi mereka. Misalnya, karyawan mungkin lebih produktif pada hari-hari cuaca buruk, sebuah studi di Jepang dan Amerika Serikat menunjukkan, tetapi bukan karena suasana hati. Alih-alih, cuaca yang lebih buruk menghilangkan beberapa gangguan pekerjaan.58

 

Interaksi Sosial

Sama seperti Jordan mungkin memiliki interaksi negatif dengan supervisor di awal hari, demikian juga Anda terpengaruh oleh interaksi Anda dengan Jordan. Memang interaksi yang kita miliki dengan orang lain dapat memengaruhi emosi dan suasana hati kita. Pengalaman negatif ini juga dapat, sebagai akibatnya, memengaruhi hubungan kita dengan orang lain, yang menuntun pada penguatan atau pembubaran ikatan di antara orang-orang. Sebagai contoh, interaksi negatif di tempat kerja tidak hanya dapat memengaruhi emosi Anda di tempat kerja, tetapi juga begitu kuat sehingga emosi ini dapat "meluas" dan memengaruhi hubungan Anda dengan anggota keluarga. Interaksi sosial juga tidak semata-mata menghasilkan emosi positif atau negatif murni. Misalnya, dalam tindakan inter suam-suam kuku dan hangat dengan orang-orang, kita mungkin bosan dan kurang termotivasi untuk membuat atau mempertahankan suatu hubungan. Di sisi lain, interaksi yang membawa kita pada "roller coaster emosional" (misalnya, sering mengalami interaksi sosial positif dan negatif) dapat membuat kita merasa pahit atau berkonflik tentang orang itu

 

Tidur

Mungkin Jordan sangat lelah pagi itu karena kurang tidur (dan, karenanya, kebutuhan akan kopi). Tampaknya, dunia dapat menggunakan lebih banyak tidur, dengan sekitar 62 persen orang dewasa dari dua belas negara melaporkan pada tahun 2019 bahwa mereka tidak tidur nyenyak atau cukup lama.65 Orang dewasa melaporkan tidur kurang dari orang dewasa yang melakukan erasi generasi yang lalu.66 Data yang ditambang dari jutaan pengguna aplikasi "Siklus Tidur" menunjukkan bahwa rata-rata, panjang dan kualitas tidur telah berkurang selama bertahun-tahun.67 Kualitas tidur memengaruhi suasana hati dan pengambilan keputusan,  dan peningkatan kelelahan menempatkan pekerja pada risiko penyakit, cedera, dan depresi.68 Tidur yang buruk atau berkurang juga menyebabkan perubahan emosional, membuatnya sulit untuk mengendalikan emosi, dan dapat mengganggu kepuasan kerja.69 Di sisi positif, peningkatan tidur teratur dapat mengurangi efek negatif dari kelelahan dan stres pada emosi karyawan.70 Selanjutnya, peneliti University of California-San Diego menghitung bahwa,  Bagi karyawan yang tidak cukup tidur, "peningkatan satu jam dalam tidur rata-rata jangka panjang meningkatkan upah sebesar 16 persen, setara dengan lebih dari satu tahun sekolah."

 

Identitas Gender

 

Teknik Pengaturan Emosi

Para peneliti regulasi emosi sering mempelajari strategi yang digunakan orang untuk mengubah emosi mereka (misalnya, seperti yang telah kita bahas sebelumnya dalam bab ini, akting mendalam dan akting permukaan adalah teknik pengaturan emosi). Salah satu teknik regulasi emosi adalah penekanan emosi, atau menekan respons emosional awal terhadap situasi. Tanggapan ini tampaknya memfasilitasi pemikiran praktis dalam jangka pendek tetapi umumnya tidak efektif bila dibandingkan dengan mengekspresikan emosi seseorang.134 Namun, tampaknya hanya membantu ketika peristiwa yang sangat negatif akan menimbulkan reaksi emosional yang tertekan selama krisis.135 Misalnya, seorang manajer portofolio mungkin menekan reaksi emosional terhadap penurunan nilai saham secara tiba-tiba dan oleh karena itu dapat dengan jelas memutuskan bagaimana merencanakannya. Penindasan yang digunakan dalam situasi krisis tampaknya membantu seseorang pulih dari peristiwa tersebut secara emosional, sementara penindasan yang digunakan sebagai teknik pengaturan emosi sehari-hari dapat berdampak buruk pada kemampuan mental, kemampuan emosional, kesehatan, dan hubungan.136 Jadi, kecuali kita benar-benar berada dalam krisis, mengakui alih-alih menekan respons emosional kita terhadap situasi dan mengevaluasi kembali peristiwa setelah itu terjadi menghasilkan hasil terbaik.137 Penilaian ulang kognitif,  atau membingkai ulang pandangan kita tentang situasi emosional, adalah salah satu cara untuk mengatur emosi secara efektif.138 Kemampuan penilaian ulang kognitif tampaknya paling membantu individu dalam situasi di mana mereka tidak dapat mengendalikan sumber stres.139 Misalnya, jika Anda kehilangan pekerjaan, membingkai ulang sebagai kesempatan untuk mencoba karier baru yang selalu Anda impikan dapat membantu Anda mengatur emosi Anda. Satu studi menggambarkan efek yang berpotensi kuat dari teknik ini. Emosi positifrticipants Israel yang ditunjukkan informasi yang memicu kemarahan tentang konflik Emosi positiflestinian Israel setelah mereka siap untuk menilai kembali situasi menunjukkan lebih banyak kecenderungan ke arah konsiliasi dan kecenderungan kurang ke arah taktik agresif terhadap Emosi positiflestinians daripada kelompok kontrol, tidak hanya segera setelah penelitian tetapi hingga lima bulan kemudian. Hasil ini menunjukkan bahwa penilaian ulang kognitif memungkinkan orang untuk mengubah respons emosional mereka, bahkan ketika materi pelajaran sangat emosional seperti konflik Israel-Palestina.140 Namun, penilaian ulang kognitif dapat digunakan untuk tujuan yang tidak etis — misalnya, menilai kembali rasa malu dan bersalah yang akan diantisipasi seseorang untuk melakukan CWB dapat menyebabkan orang mempertimbangkan kembali dan benar-benar berkomitmen untuk terlibat dalam CWB yang tidak etis.141 Namun studi lain menemukan bahwa penilaian ulang kognitif dapat sebenarnya menyebabkan kelelahan mental, menunjukkan bahwa tidak semua hasil penilaian ulang kognitif positif.142

Teknik lain dengan potensi regulasi emosi adalah berbagi sosial, atau melampiaskan. Penelitian menunjukkan bahwa ekspresi emosi yang terbuka dapat membantu viduals indi untuk mengatur emosi mereka sebagai lawan dari menjaga emosi "tertutup." Berbagi secara sosial dapat mengurangi reaksi kemarahan ketika orang dapat berbicara tentang fakta-fakta dari situasi yang buruk, perasaan mereka tentang situasi tersebut, atau aspek positif apa pun dari situasi tersebut.143 Misalnya, curhat kepada rekan kerja Anda setelah bekerja tentang perasaan Anda dan pahami situasinya sedikit lebih baik. Namun, kehati-hatian harus dikerahkan, karena mengekspresikan frustrasi Anda memengaruhi orang lain. Bahkan, apakah melampiaskan emosi membantu "venter" merasa lebih baik sangat tergantung pada respons pendengar. Jika pendengar tidak merespons (banyak yang menolak untuk menanggapi ventilasi), penyewa merasa lebih buruk. Jika pendengar merespons dengan expres sions dukungan atau validasi, penyewa merasa lebih baik. Karena itu, jika kita akan curhat ke rekan kerja, kita perlu memilih seseorang yang akan merespons dengan simpatik. Melampiaskan kepada pelaku yang dirasakan jarang memperbaiki keadaan dan dapat meningkatkan emosi negatif.144 Sementara teknik pengaturan emosi dapat membantu kita mengatasi situasi tempat kerja yang sulit, penelitian menunjukkan bahwa efeknya bervariasi. Sebagai contoh, satu studi tentang karyawan yang bekerja untuk supervisor yang kasar melaporkan kelelahan emosional dan kecenderungan penarikan kerja tetapi pada tingkat yang berbeda berdasarkan strategi reg ulasi emosi yang mereka gunakan. Karyawan yang menggunakan teknik penindasan menderita kelelahan emosional dan penarikan kerja yang lebih besar daripada karyawan yang menggunakan penilaian ulang kognitif. Ini menunjukkan bahwa penelitian lebih lanjut tentang penerapan teknik perlu dilakukan untuk membantu karyawan meningkatkan keterampilan mengatasi mereka.145