Rabu, 16 November 2022

Tinjauan Studi Manajemen dan Kebijakan Publik di Indonesia Bab 3 Memahami Manajemen Publik Indonesia - Refleksi Ontologis (Yeremias T Keban)

Tinjauan Studi Manajemen dan Kebijakan Publik di Indonesia

Bab 3 

Memahami Manajemen Publik Indonesia - Refleksi Ontologis

(Yeremias T Keban)


Antologis dimaknai sebagai the nature of assistance atau problem of eksistensi atau dengan kata lain mengenai keberadaan dan keberwujudan suatu realitas. bagaimana hakikat dari realitas tersebut, apakah sifatnya objektif maksudnya wujudnya ada atau abstrak yang kemudian dikonstruksikan oleh pemikiran manusia (kivunja & kuyani,2017). Pembahasan pada bab ini terbagi dalam 4 fase yaitu (1) Pengabaian eksistensi pengaruh lingkungan internal dan eksternal sebagaimana yang terjadi dalam era manajemen klasik, (2) Pengakuan eksistensi pengaruh lingkungan internal, (3) Pengakuan eksistensi pengaruh lingkungan eksternal, dan (4) Pengakuan eksistensi pengaruh kombinasi lingkungan internal dan eksternal.


Pengabaian Eksistensi Pengaruh Lingkungan Internal dan Eksternal

Pada manajemen klasik model yang saintifik dalam mengelola suatu pekerjaan memberikan efektivitas yang sangat baik. Pembagian kerja, pengklasifikasian berdasarkan fungsi, setting tempat yang mengefisiensi gerak dan waktu merupakan rangkaian dari model manajemen saintifik. Produktivitas dapat dicapai dengan perencanaan, penetapan, pengorganisasian, penerapan dan kontrol. Tetapi model ini melupakan proses internal dan eksternal, secara prosedural struktur model ini adalah struktur yang terbaik. Internal model proses adalah suatu kegiatan yang melibatkan koordinasi dan kontrol serta komunikasi antar unit dalam melakukan kegiatan. (Quinn & Cameron, 1983; Tompkins,2005).

Faktor kontrol dari luar itu dapat dengan tegas mengatur dan mengorganisir individu dalam organisasi tetapi dalam pelaksanaannya interaksi antar individu tersebut dan kepentingan-kepentingan individu yang tersimpan membuat masalah lain yang tidak tampak tapi sewaktu-waktu dapat membahayakan organisasi. Teori klasik beranggapan bahwa sistem dan prosedur kerja  dengan standar, aturan dan kontrol merupakan jalan terbaik dalam menjamin keberhasilan kerja dan menganggap organisasi sebagai sistem mekanik tetapi mengabaikan faktor lingkungan internal dan eksternal yang terus tumbuh dan bergerak.

Taylor, Weber, Fayol, Gullick, telah memberikan kontribusi besar dalam peningkatan produktivitas tetapi mengabaikan sisi manusia dan organisasi sebagai suatu sistem organisme hidup yang berkembang bukan suatu sistem mekanik. Kritik lain juga disampaikan L. White beranggapan bahwa dasar administrasi adalah manajemen bukan hukum, White memberikan pengertian administrasi sebagai "the management of man and material in the accomplishment of the purpose of the state".


Pengakuan Eksistensi Pengaruh Lingkungan Internal

Manusia adalah makhluk yang dinamis memiliki kemampuan akal dan emosional. Kegagalan teori klasik tidak dapat melihat pengaruh relasi hubungan tersebut yang ternyata sangat mempengaruhi motivasi kerja sdm. Tokoh penggagas teori relasi tersebut antara lain adalah follet, mayo, fritz dan roethlisberger. Suatu aturan dan prosedur yang sangat saintifik yang pada umumnya sangat rasional memang dapat meningkatkan produktivitas tetapi perlu diingat bahwa di dalam tiap individu ada rasa yang berasal dari emosional. Manusia berpikir tidak hanya rasional tetapi juga emosional, untuk dapat saling meningkatkan efektivitas dan efisiensi maka rasional maupun emosional individu harus dikelola dengan baik untuk mencapai produktivitas terbaik. Merton (1997) berpendapat bahwa keyakinan Weber tentang keadaan struktur birokrasinya bisa meleset karena Weber tidak melihat apa yang terjadi di dalam pikiran masing-masing individu dalam organisasi. Merton menegaskan bahwa keberhasilan suatu birokrasi sangat tergantung pada perilaku, sikap dan suasana hati dari individu itu sendiri.

Perlu diketahui bahwa setiap individu yang datang tidak terlepas dari anteseden perilaku sosial yang dibawa oleh masing-masing individu sehingga karakter individu dalam organisasi sangat sangat variatif walau nilai-nilai organisasi secara tegas harus dilaksanakan di dalam suatu organisasi tetapi nilai-nilai organisasi tersebut juga akan direspon oleh nilai-nilai internal yang tidak tampak pada perilaku secara langsung tetapi perilaku tersebut muncul dan mengambil celah atau kekosongan dari pengaturan prosedur tersebut. Sebagai contoh mengenai evaluasi dari pelayanan publik hanya pandangan sepihak dan memberikan data-data yang baik-baik saja tetapi menyembunyikan kesalahan atau kegagalan. Evaluasi bisa memberikan dampak negatif apabila permasalahan-permasalahan di dalamnya tidak diungkap karena maksud status sosial untuk memperoleh penghargaan. pengabaian realitas kehidupan individu dapat berakibat fatal bagi organisasi.


Pengakuan Eksistensi Pengaruh dari Lingkungan Eksternal

Sosial masyarakat jauh lebih berkembang dari analisa atau peraturan yang akan diterapkan padanya. adanya interaksi yang sangat cepat dan pengaruh-pengaruh dari luar individu sendiri membatasi prosedur tersebut merencanakan ke depan atau menggunakannya di masa sekarang karena prediksi yang diharapkan akan selalu rentan dengan perubahan eksternal.Kehendak negara menurut Goodnow (1997) diwujudkan dalam tiga hal:

  1. Legislatif/Otoritas politik, sebagai pembuat peraturan, mendengarkan kehendak warga negara dan mewujudkannya dalam aturan perundang-undangan yang nanti akan dijalankan eksekutif.

  2. Eksekutif/otoritas administrasi, melaksanakan kehendak negara tersebut melalui organisasi birokrasi agar penyampaian tersebut tepat dan efektif.

  3. Yudikatif, yang menilai pelaksanaan peraturan, apakah sudah sesuai dengan kehendak rakyat tersebut.

Pemisahan politik dan administrasi menurut P. Appleby (1997) adalah hal tidak tepat, karena bagaimana administrasi dapat dengan tepat menjalankan peraturan yang dibuat oleh otoritas politik/legislatif? Applebly menegaskan bahwa pemisahan politik dan administrasi hanya menjadi layer kedua politik karena administrasi juga berpolitik dalam membuat pilihan kebijakan yang dapat menguntungkan atau merugikan pihak tertentu.

Administrasi publik menempatkan sebagai ahli dalam menjalankan kegiatan yang diamankan karena memiliki  standar berdasarkan prinsip universal yang paling valid, serta bebas dari pengaruh moral, politik, maupun individu yang berada dalam administrasi itu sendiri. R. Dahl (1997) berpendapat, bahwa pandangan ini terlalu sempit karena memahami sepihak padahal belum tentu apa yang dipahami benar-benar sesuai. seperti yang diketahui bahwa proses kebijakan tersebut dari kehendak rakyat yang dirumuskan oleh legislatif dan dilaksanakan oleh eksekutif atau administrasi publik akan mengalami bias, sehingga administrasi publik perlu melihat aspek-aspek normatif. proses aspirasi politik yang tidak baik akan berdampak pada lemahnya regulasi dan di domplengi oleh banyak kepentingan dan tentu ketika dilaksanakan oleh administrasi publik akan mengalami banyak permasalahan karena dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai eksternal yang ada dalam masyarakat. Katz dan Kahn (1997) memperkenalan karakter organisasi dalam melihat tantangan lingkungan eksternal yang dinamis yaitu "open system". perubahan eksternal sangat ekstrim dan sangat cepat sehingga model organisasi yang lama sudah tidak adaptif dalam memenuhi kebutuhan yang diharapkan.

A. Wildavsky dan L. Pressman (1997) memperkenalkan konsep implementasi kebijakan, dimana faktor implementasi memegang peranan penting karena final kebijakan berada diujung tombak implementasi. kebijakan yang telah dirumuskan dengan sangat matang dan didesain dengan baik akan ditentukan dengan implementasi yang ada di lapangan, sehingga perlu program dan inovasi yang mampu menjembatani pelaksanaan dan kebijakan agar dapat terlaksana. dalam hal ini kekakuan yang saklek dari design malah akan menghambat implementasi penerapan kebijakan, selain itu tantangan perubahan yang cepat juga tidak dapat diselesaikan dengan desain hierarkis yang prosesnya panjang, pengapilkasian kecerdasan buatan dan big data lebih berpotensi untuk menyelesaikan masalah. Birokrasi perwakilan adalah suatu gagasan yang disampaikan Krislow dan Rosenbloom (1997) dimana birokrasi harus menyuarakan kepentingan rakyat sehingga seleksi pegawai, birokrasi dipilih rakyat  dan dapat merepresentasikan kehendak warga negara. Posisi birokrasi seperti perwakilan rakyat, dalam hal ini hak konstitusi dan partisipasi warga negara dalam implementasi kebijakan, tidak hanya pada level legislatif tapi juga eksekutif.


Pengakuan Eksistensi Pengaruh Kombinasi Lingkungan Internal dan Eksternal

Berbeda dengan Gulick yang memperkenalkan istilah POSDCORB, Garson dan Overman (1997) memperkenalkan PA-F-HR-I-ER, yaitu PA (Policy Analysis, melakukan analisis kebijakan publik dan penentuan program yang tepat dari hasil analisa), F (Financial, melakukan perencanaan, kebutuhan, model dan desain, implementasi dan monitoring, serta evaluasi anggaran keuangan), I (Information, berupa pengolahan data dan informasi guna mendukung proses pelaksanaan kebijakan), ER (External relations, adanya kegiatan interaksi dengan pihak luar organisasi guna dapat mendukung kebijakan berjalan dengan baik, baik komunikasi dan negosiasi).

Pentingnya pengaruh lingkungan terhadap organisasi telah banyak diteliti terutama dalam menghadapi ketidakpastian.(Allison & Kaye, 2015; Bryson & Edwards, 2017; David, 2011, Wheelen & Hunger, 2012; Wheelen dkk., 2018; Witcher, 2020). Kemampuan organisasi publik dalam beradaptasi terhadap lingkunganya akan menentukan maju atau tidak organisasi (Bryson, 2004). Model organisasi dalam menghadapi tantangan lingkungan dikenal dengan Manajemen strategi. Faktor di luar organisasi dapat di analisa dengan SWOT yaitu mengukur organisasi dengan melihat Strength (kekuatan), Weak (kelemahan), Opportunity (kesempatan) dan Threat (ancaman). Dengan memahami hal tersebut maka organisasi dapat menjadi peluang untuk memahami keunggulan dan kelemahan serta langkah strategis dalam menghadapi faktor ekonomi, sosial, budaya, demografis, kondisi alam, politik, pemerintahan, hukum, dan teknologi. Wheelen & Hunger (2012) menambah dua jenis environment, yaitu task environment seperti antara lain suppliers, stockholders, union, customers, communities dan internal environment yang meliputi structure, resources, dan culture.Sementara itu, Witcher (2020) mengubah lingkungan global sebagai bagian dari lingkungan eksternal.


Integrasi Model Manajemen Publik


Model administrasi publik klasik menekankan pada nilai efisiensi, ekonomis dan efektivitas melalui struktur hierarkis dan prosedur mekanik. Administrasi publik neo klasik menekankan pada reaksi manusia, sikap dan perilaku tidak hanya rasional tetapi nilai, norma, budaya, sosial, psikologis dan politis. Administrasi publik baru menekankan keadilan serta tetap menjaga nilai efisiensi ekonomi, dan efektifitas. Padangan lain berkembang dengan munculnya New Public Management berupa sistem administrasi publik yang mengadopsi sektor swasta yang lebih agile, adaptif, dan inovatif dalam menjalankan usaha dan mencapai tujuannya, New public service menekankan pada pelayanan yang baik, pemberdayaan dan mendorong partisipasi masyarakat, dan New public governance menekankan tata kelola pelayanan publik dan barang publik dengan kolaborasi pemerintah, swasta dan masyarakat.


Memahami Manajemen Publik di Indonesia

Rangkain pengaruh manajemen publik yang ada dalam tataran ilmu diambil manfaatnya dan diterapkan dalam program pemerintah. Model manajemen strategis sebagai wujud dari manajemen publik adalah diterapkannya Rencana Strategi (RENSTRA) yang dilakukan oleh unit instansi pemerintah, dimulai dari merancang visi, misi, tujuan, strategi, program dan kegiatan sebagai hasil interaksi danesepakatan dengan publik.lalu merancang struktur dan hierarkis, SDM, proses internal untuk implementasi, monitoring, dan evaluasi program.Indonesia memiliki keragaman budaya, lokasi geografis, ketimpangan sosial-ekonomi-pendidikan antar daerah, sehingga standar penerapan juga berbeda-beda.

Reformasi terkait model internal proses terlihat dalam UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, dan Peraturan Daerah dan Perpres No. 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi tahun 2010–2025, Permenpan RB No. 20 Tahun 2010 tentang Road Map Reformasi Birokrasi. aturan ini mengatur mengenai model dan rencana bentuk internal organisasi pemerintah yang dipengaruhi paradigma new public management dan New Public Service. Reformasi terkait model open systems dapat dilihat dari UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan peraturan pelaksanaanya, termasuk regulasi terkait e-governance mengikuti paradigma new public governance. Reformasi model strategic management diterapkan dalam  UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan dilanjutkan dalam peraturan. Reformasi dalam model rational goal di tingkat nasional (RPJMN, RKP, RAPBN), dan tingkat provinsi, kabupaten/kota (RPJMD, RKPD, RAPBD). 

Kegagalan terbesar penerapan paradigma manajemen publik yang berkembang adalah karena ketidaksiapan organisasi publik dalam menghadapi respon model paradigma kebijakan tersebut dengan kondisi politik, sosial, budaya, kondisi, geografis, ekonomi, pengaruh iptek, dan globalisasi dalam lingkungan yang beragam. Boukaert & Jann (2020:31) mengingatkan bahwa dalam dunia administrasi publik, kita perlu keeping an eye around us, yaitu secara serius memperhitungkan faktor-faktor disekitar termasuk nilai dan norma serta menghindar pendekatan “one-sizefits-all” sembari terus belajar satu sama yang lain. gambaran dari pendapat ini administrasi publik perlu memperhatikan lokus (konteks wilayah) dan fokus (konteks prinsip, teori dan model).


Ontologi Dimensi Lokus (Budaya dan Geografis)

Publik harus responsif terhadap variasi lokal. desentralisasi dan kemampuan memahami nilai di daerah menjadi faktor penting dalam penyelenggaraan pemerintah.tradisi budaya, lingkungan primordial, dan kepentingan kelompok sangat mempengaruhi perilaku birokrasi, organisasi publik sudah menanamkan nilai netralitas, profesional, akuntabel, integritas dsb tetapi nilai yang dibawa individu di dalamnya serta interaksi antar individu kadang lebih kuat dari nilai organisasi itu sendiri tetapi adanya interaksi dan kemenangan nilai yang diterapkan sangat tergantung pimpinannya. suatu daerah akan sangat berpengaruh dengan tradisi setempat, budaya dan nilai akan mempengaruhi setiap aspek masyarakat termasuk dalam politik. suku daerah setempat sudah memiliki tradisi dalam memilih pemimpin. bagaimana standar nilai yang digunakan apakah standar paradigma administrasi publik yang dipakai atau standar masyarakat dalam daerah setempat. Pelaksanaan fit and proper test seringkali menjadi formalitas apabila pemilihan tetap menggunakan standar masyarakat setempat karena apabila dilihat dari sisi administrasi publik mungkin salah orang tetapi bisa jadi dalam sisi masyarakat setempat dengan standar yang dimiliki menghasilkan  “right man in the right place” tetapi tentu jika dilihat nantinya dalam konteks pemerintahan secara nasional hal ini akan terjadi benturan.

Perbedaan standar ini tentu akan menyebabkan meningkatnya kasus-kasus terkait relasi khusus yang bersifat informal seperti hubungan kekeluargaan, hubungan pertemanan, 

hubungan primordial. Menurut standar administrasi publik hal ini berpotensi terjadinya kasus dinasti, korupsi, suap, kolusi, dan nepotisme, tetapi efektif atau tidaknya model seperti ini tentu tidak dapat dipukul rata, kekuatan dinasi bisa jadi memberi angin perubahan yang masih apabila dilaksanakan dengan moral dan tanggung jawab yang tinggi. tetapi  fakta-fakta banyak di temukan maladministrasi akan berdampak pada kinerja. proses pelaksanaan fungsi manajemen, yaitu perencanaan, anggaran, implementasi, monitoring dan evaluasi, termasuk juga pada manajemen SDM, seperti pada kasus rekrutmen dan seleksi pegawai, penempatan dalam jabatan, promosi, rotasi, akan sangat menentukan kinerja organisasi pemerintah.

Wilayah geografis Indonesia yang besar dan terdiri atas pulau-pulau memiliki kekhasan tersendiri. persebaran wilayah dan penduduk serta ancaman bencana alam perlu menjadi perhatian dalam membuat kebijakan publik yang tepat sesuai kondisi alam. Lingkungan teknologi dan transportasi  juga sangat mempengaruhi keberhasilan manajemen publik di Indonesia. Dengan kondisi geografis yang kompleks seperti Indonesia, maka manajemen publik membutuhkan teknologi informasi dan transportasi untuk mempermudah jangkauan terhadap seluruh wilayah, khususnya wilayah-wilayah terpencil dan yang sulit terjangkau.


Ontologi dalam Dimensi Fokus

Berbagai ilmu yang berkembang dan telah diteliti seperti administrasi publik klasik, neoklasik, administrasi publik baru, new public management, new public service, dan new public governance telah diadopsi dalam konteks Indonesia serta upaya modifikasi disesuaikan dengan kondisi sosial, budaya, politik, ekonomi, pendidikan yang sangat variatif. manajemen publik di indonesia merupakan interdisipliner yang melibatkan beberapa aspek ilmu seperti sosiologi, antropologi, politik, psikologi, hukum, ekonomi, hubungan kemasyarakatan. Pemerintah sebagai otoritas yang diberikan amanah dalam menjalankan peraturan dibekali kemampuan teknis tapi kurang mempedulikan apakah publik menilai positif atau negatif. Pandangan ini akhirnya semakin memperburuk citra pemerintah.

Kebutuhan publik dan kepuasan publik harus menjadi fokus pemerintah. permasalahan peraturan yang kurang tepat dalam implementasi perlu dikaji dalam respon publik dan di buatkan sarana dalam memfasilitasi perubahan tersebut. maka itu seringkali peraturan yang dibuat legislatif masih sangat umum dan menjadi ruang gerak lembaga eksekutif untuk menetapkan dinamika perkembangan dengan tidak keluar dari maksud undang-undang. kasus semacam ini menjadi peluang besar bagi administrasi publik untuk berpolitik dalam menentukan kebijakan publik apakah semakin menyulitkan publik atau mempermudah publik. Selain itu sosok pemimpin yang inspiratif dan teladan diperlukan untuk menginisiasi kolaborasi antara pemerintah swasta dan masyarakat. walau karena unsur nilai budaya, nilai dan norma juga menyebabkan kolaborasi menjelma menjadi kolusi, nepotisme dan kesempatan karena faktor norma dan nilai yang ada didalam masyarakat.

Praktik manajemen publik di Indonesia lebih banyak fokus di awal seperti perencanna tapi setelah tahapan selesai sampai implementasi dan evaluasi, keberlanjutan program jarang dipertahankan, padahal usaha satu kali tentu jarang yang sudah mendapatkan hasil, perlu upaya sistematis yang berkelanjutan. Perencanaan, Pelaksanaan dan evaluasi merupakan rangkaian kegiatan yang saling terkait guna mencapai tujuan. Indikator yang digunakan harus mampu mengukur titik lemah dan upaya perbaikan jangan hanya dijadikan standar penilaian kinerja saja. tetapi penilaian seringkali sebagai upaya menunjukkan keberhasilan dan menyembunyikan kekurangan. Bentuk struktur organisasi dengan payung hukum seringkali memberi keterbatasan dalam upaya melakukan perubahan terutama faktor lingkungan dan perubahan publik tetapi kesalahan dan kegagalan yang di tampakkan akan menjadi celah implikasi sanksi tertentu.


Selasa, 15 November 2022

Teori Behavior Skinner (Operant Conditioning)

Melihat Perilaku Seseorang dari Prosesnya


Teori Behavior Skinner (Operant Conditioning)

Menurut Skinner manusia adalah kolaborasi reaksi unik yang sebagian diperoleh dari genetis dan perkembangannya dipengaruhi faktor eksternal. jadi, faktor genetis merupakan sifat dasar manusia yang diperoleh dari hasil genetis yang unik artinya walau satu gen juga tidak sama tetapi mengandung kemiripan dengan generasi sebelumnya dan perpaduan antara gen juga tidak sama, sehingga setiap anak yang terlahir pasti berbeda sifat dan perilakunya. selama hidup, perkembangan perilaku gen ini akan berkembang dan dimodifikasi oleh faktor eksternal yang diperoleh secara terus menerus dan menjadi dasar perilaku seseorang. Dengan kata lain, gen adalah bahan baku / raw material nya dan proses pengalaman eksternal yang diterima adalah proses produksinya. Perilaku manusia tercipta dari hal tersebut. Bahan baku yang baik tetapi kualitas produksi (pengaruh lingkungan) yang jelek tentu akan menghasilkan produk yang salah, sedangkan bahan baku yang jelek dengan pengelolaan yang baik dan menyesuaikan dengan tujuan produk akan dapat memberikan hasil yang baik.manusia adalah produk dari lingkungannya (Husein, 2003: 115). 

Skinner meyakini kepribadian adalah hasil interaksi manusia dengan lingkungannya. Teori Skinner menekankan pada mekanistik antara peranan lingkungan dan respon atau reaksi individu yang dilatarbelakangi genetiknya, respon tersebut akan menimbulkan respon lanjutan begitu pula seterusnya yang saling terkait dan hasil pengaruh tersebut tersimpan dalam pengalaman yang kemudian membentuk dasar perilaku.Skinner juga beranggapan bahwa reward (hadiah)/reinforcement (penguatan) sebagai unsur yang paling penting dalam menstimulus dorongan berperilaku. Reward/reinforcement adalah penguat dorongan untuk bertindak sedangkan punishment adalah penguatan untuk menghindari suatu tindakan.


Kritik Terhadap Behavior Skinner

Kritik terhadap pendekatan Behavior Skinner adalah karena Skinner beranggapan bahwa perilaku berpijak pada gen dan lingkungan tetapi mengabaikan faktor emosional, insting, naluri manusia dan id. selain itu beberapa kelemahan teori Skinner antara lain:

  1. Proses belajar atau pengaruh lingkungan merupakan reaksi yang sulit untuk diamati ketika direspon oleh tiap-tiap individu, karena gen atau sikap dasar setiap orang berbeda-beda dan pengalaman lingkungan yang diperoleh dari pengalaman masing-masing orang juga berbeda maka respon internal seseorang sulit diamati. contoh: menghina seseorang, dan orang tersebut diam, bisa jadi orang tersebut tidak masalah di hina atau bisa jadi orang tersebut dendam dan berencana jahat. reaksi pada diri seseorang tidak dapat diamati dari sisi pengamat.

  2. Proses respon dianggap otomatis-mekanis padahal setiap orang memiliki kemampuan mengatur diri yang bersifat kognitif sehingga bisa menolak ataupun merespon. manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan.


Motivasi

Motivasi adalah suatu dorongan dalam diri seseorang untuk bertindak. Motivasi digolongkan menjadi dua, yakni motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah dorongan berperilaku yang sudah aktif dan berfungsi tanpa rangsangan lagi dari luar. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang diakibatkan pengaruh eksternal atau dorongan yang belum aktif tapi harus diaktifkan melalui stimulus itu sendiri seperti uang, hadiah, popularitas dan sebagainya. Skiner meyakini perilaku manusia tersebut dapat dikontrol dengan proses operant conditioning, yaitu dengan merekayasa lingkungan untuk merubah dan mengontrol perilaku.


Kesimpulan

Skinner beranggapan bahwa perilaku manusia merupakan pola hasil dari interaksi antara faktor genetik dengan lingkungan eksternal serta respon yang diterima yang melekat dalam pengalaman pribadi setiap orang. pengalaman ini juga dipengaruhi oleh pendidikan, budaya seseorang berasal, film, agama dan teknologi. Dalam berperilaku manusia juga terbatas pada sistem reinforcement (reward dan punishment) sehingga reaksi yang ditimbulkan juga dapat dikontrol. dalam teori behavioristik Skinner menjelaskan bagaimana cara mengontrol perilaku dengan operant conditioning yaitu (1) law of operant conditioning, timbulnya perilaku karena stimulus faktor penguat dan (2) Law of operant extinction, tidak adanya perilaku karena tidak ada faktor penguat bahan penguat negatif atau hukuman.


POSTMODERNISME DALAM PANDANGAN JEAN FRANCOIS LYOTARD (M Chairul Basrun Umanailo )

POSTMODERNISME DALAM PANDANGAN JEAN FRANCOIS LYOTARD 

(M Chairul Basrun Umanailo )


Postmodernisme adalah  perubahan yang fundamental pada sosial culture didalam masyarakat. Menurut Jean Francois Lyotard (Filsuf postmodern) Postmodern adalah suatu gagasan yang menolak naratif besar yaitu suatu gagasan yang yang menolak legitimasi yang universal. Pada dasarnya postmodern berarti keunikan yang ada ada sebagai pembeda. Postmodern Ini pertama kali muncul di kalangan seniman dan kritikus di New York tahun 1961. Menurut Lyotard filsafat merupakan pemikiran secara logis untuk menerima suatu kebenaran. Kebenaran akan terus berkembang dan relatif di masanya sehingga pembenaran filsafat saat  ini hanya akan menjadi cerita dimasa yang akan datang.

Ciri   masyarakat postmodern adalah masyarakat yang individualis, terfragmentasi, dan  menginginkan kebebasan  bertindak. Pendapat Lyotard menekankan bahwa tidak ada individu yang serupa bahkan level atom pun berbeda-beda. Beberapa pemikir filosof yang mempengaruhi Jean Francois Lyotard antara lain Karl Marx tidak menyukai kesadaran universal,  Nietzsche mempengaruhi pemikiran Lyotard dalam hal bahwa tidak ada perspektif yang dominan dalam ilmu pengetahuan, Immanuel Kant adalah konsep Kant yang membedakan antara domain teoritis (ilmiah), praktis (etis), dan estetis dimana masing-masing memiliki otonomi, aturan dan kriteria sendiri, Sigmund Freud berada dibalik pemahaman Lyotard tentang politik hasrat.

Jean Francois Lyotard lahir di Versailles, Perancis pada tahun 1924 dan meninggal dunia di Paris pada tahun 1998. Lyotard  memprediksi pemikiran masa depan dan kritik terhadap filsafat modern dalam bukunya “La Postmoderne, Rapport sur le Savoir” atau “The Postmodern Condition: A Report on Knowledge” sebagai tindak lanjut dari laporan ketika dia diminta oleh dewan Ahli Universitas Quebec tentang bagaimana  perkembangan masyarakat yang telah mencapai kemajuan dalam bidang pengetahuan dan teknologi pada akhir abad ke-20, Semakin berkembangnya teknologi membuat informasi dengan cepat diproduksi dan masyarakat semakin memahami pengetahuan dan memiliki interpretasi terhadap pengetahuan pengetahuan yang lebih detail dan mendalam. sehingga pengetahuan yang tadinya hanya diketahui satu ternyata memiliki pecahan-pecahan yang lebih besar lagi. Contoh narasi besar yang telah runtuh antara lain adalah kekuasaan agama, kepercayaan terhadap keunggulan bangsa barat dan pengetahuan pengetahuan yang secara umum diterima oleh masyarakat pada akhirnya diketahui bahwa wa al tersebut tidaklah benar secara umum. 

Postmodern juga beranggapan bahwa mengaktifkan ilmu pengetahuan adalah menghidupkan perbedaan-perbedaan dan keterbukaan pada tafsiran baru. Pada intinya postmodern menolak cara pandang tunggal atau perspektif tunggal dalam melihat realitas Tetapi lebih mengedepankan pandangan yang hermeneutik tentang realitas. mungkin dahulu orang bilang bahwa sekolah tinggi maka akan sukses tapi cara pandang seperti itu ternyata secara realitas berbeda karena ada yang membuktikan bahwa tanpa sekolah tinggi Anda juga bisa sukses dan banyak juga yang sekolah tinggi tapi tidak sukses.

Fenomena sosial dianggap sebagai suatu konstruksi sosial dan konstruksi ini dapat berubah seiring dengan waktu. Sehingga suatu kebenaran konstruksi sosial akan selalu berubah. Perkembangan lain di abad ke-19 adalah adanya ekspansi kapitalisme pasca revolusi industri di mana pengetahuan dihasilkan demi terpenuhinya profit dan memaksimalkan semaksimal mungkin dengan biaya sekecil mungkin .Pada masyarakat tradisional narasi dihubungkan dengan sesuatu yang mistis seperti dewa-dewa ataupun benda-benda lain yang memiliki kemampuan yang dapat memberikan perlindungan keuntungan bagi masyarakat. pada masyarakat pra modern  narasi  dihubungkan dengan kerjasama antar individu untuk mencapai tujuan tertentu secara realistis,  pada masyarakat modern pengetahuan yang lebih kompleks dihasilkan untuk mencapai tujuan dengan tingkat efisiensi yang tinggi. dan pada masyarakat postmodern narasi berkembang tidak secara universal tetapi selalu di kritik  pada level individu untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih detail dan mendalam. Masyarakat postmodern sangat kritis karena tidak akan gampang percaya dengan pengetahuan yang universal. 

Perbedaan mendasar antara pengetahuan narasi dan pengetahuan ilmiah adalah terkait dengan argumentasi dan bukti. pengetahuan ilmiah Tunduk pada argumen dan bukti yang valid Mama sementara pengetahuan narasi Mengedepankan kemampuan bahasa dalam berargumen. Dalam penelitian ilmiah sudut pandang ilmu menggunakan bahasa denotatif dan pembenarannya dilakukan melalui verifikasi Sementara pengetahuan narasi menggunakan bahasa metafora. 

Sejauh mana bahasa dapat  mewakili pikiran kedalam kata-kata atau tulisan?Bahasa menjadi tema kajian utama dalam filsafat modern banyak yang mempersoalkan dasar filsafat tradisional sehingga memperkarakan hakikat filsafat itu sendiri dari sudut bahasa dengan kata lain filsafat perlu dipelajari tentang Meta filsafat. Di era yang semakin kompleks bahasa tidak dapat mendukung kekompleksitasan sehingga memunculkan batasan-batasan dalam menjelaskan. Lyotard meyakini bahwa tidak ada kesatuan dalam intisari bahasa, bahasa adalah agonistik yaitu suatu ruang atau tempat perselisihan yang tidak pernah bisa diselesaikan perbedaan tidak benar-benar dapat dibandingkan secara bahasa. Menurut Lyotard, Ada tiga jenis permainan bahasa yang lazim yaitu: 

  1. The denotative game, Permainan bahasa mengenai benar atau salah di mana fakta-fakta saja yang diperhitungkan. 

  2. The prescriptive game, Permainan bahasa dilihat dari baik dan buruk, adil dan tidak adil titik pengetahuan ini didapat dari nilai-nilai dan kondisi sosial dari hal-hal yang diyakini di satu ruang tertentu. 

  3. The technical game, Permainan bahasa yang fokus pada apa yang efisien dan apa yang tidak efisien.

Ilmu adalah permainan bahasa yang didalamnya terkandung aturan-aturan normatif seperti proposisi dan bukti yang memperkuat proposisi tersebut serta bukti yang menggambarkan persetujuan atau penolakan proposisi. ilmu dihadapkan pada kenyataan yang tidak dapat membenarkan aturan mainnya secara universal atau dengan kata lain logika tunggal yang diyakini kaum modernis sudah mati digantikan oleh pluralitas logika atau paralogi.

Seni juga dapat menjadi sebuah bahasa yang bahasa sendiri tidak dapat menampilkan secara utuh suatu pikiran hingga seni pun bekerja di situ. Seni adalah gambaran perspektif yang yang tiap individu memiliki keberagaman dalam menafsirkannya. Menurut Lyotard Seni sebagai pencarian yang menentang kemungkinan stabilitas melalui suatu representasi. Lyotard Menolak kebenaran objektif universal karena kebenaran itu terbentuk dari bahasa, dan kita tidak bisa menafsirkan realita yang bebas dari bahasa. semua kebenaran pemikiran berkaitan erat dengan faktor sosial budaya atau dengan permainan bahasa tertentu. 

Senin, 14 November 2022

Tinjauan Studi Manajemen dan Kebijakan Publik di Indonesia Bab II Ilmu Administrasi Modern dan Kekuasaan Dari Administrasi Negara ke Manajemen Dan Kebijakan Publik (Erwan Agus Purwanto dan Arif Novianto)

Tinjauan Studi Manajemen dan Kebijakan Publik di Indonesia

Bab II

Ilmu Administrasi Modern dan Kekuasaan

Dari Administrasi Negara ke Manajemen Dan Kebijakan Publik

(Erwan Agus Purwanto dan Arif Novianto)



Perkembangan Ilmu Administrasi Publik

Gelombang pertama 

Dikotomi politik dan administrasi negara, serta adopsi manajemen scientifik yang lebih efisien dan logis

Tokoh: Woodrow Wilson, Frederick Taylor, Henry Fayol

Gelombang kedua

Perluasan kajian kebijakan publik tidak hanya mengenai kegiatan negara tetapi setiap hal yang berhubungan dengan masalah yang menyangkut publik. penegasan dan pengaturan posisi serta peran aktor publik

Gelombang ketiga

Partisipasi masyarakat, demokrasi publik serta proses penyusunan kebijakan publik dan manajemen kebijakan tersebut. kepentingan publik yang real dapat diserap serta diskresi untuk mengatasi masalah publik 

Gelombang keempat

Administrasi publik dalam dunia digital dan kepedulian terhadap keberlangsungan umat manusia di masa depan


Perkembangan ilmu administrasi negara sangat dinamis dimulai dari semakin kompleksnya peran negara dan pengaturan yang mengikuti perkembangan sosial di dalam masyarakat. Kesepakatan masyarakat yang membentuk pemerintahan dan untuk menjalankan pemerintahan tersebut diperlukan suatu lembaga yang diatur dan dapat berjalan dengan efektif dan efisien yang kita sebut birokrasi. Untuk memastikan bahwa unit yang telah dibentuk berjalan dengan maksimal maka dibuatlah regulasi dan kontrol dari atas ke bawah. Pada masyarakat sosial perkembangan yang lebih masif terus berjalan dengan berkembangnya scientific manajemen yang dipelopori oleh Taylor dan Fayol memberikan dampak perubahan di dalam birokrasi tersebut. 

Proses selanjutnya juga terjadi hal yang sama ketika pemerintah dengan sistem yang diharapkan dapat berjalan optimal tetapi gagal. Maka berkembanglah pemahaman baru terkait dengan new publik manajemen dan good governance. Pandangan baru ini pun banyak mendapat kritik karena mengabaikan konsep kesetaraan dan pertanggungjawaban pemerintah kepada semua rakyat. Apa yang terjadi di dalam masyarakat tentu memberikan insight bagi pemerintah untuk terus berinovasi dan mengembangkan strategi dalam memberikan pelayanan yang terbaik. Setiap perkembangan juga memberikan dampak negatif di dalam sosial masyarakat, pemerintah dituntut untuk dapat mengejar kebutuhan masyarakat serta mengantisipasi dampak negatif sosial yang terjadi di dalam masyarakat.


Gelombang Pertama dalam Perkembangan Ilmu Administrasi Negara

Penerapan ilmu administrasi negara sudah dilakukan mulai dari sejak adanya suatu pemerintahan baik itu monarki maupun kelompok masyarakat yang diketuai oleh kepala suku. Sistem-sistem ini dibuat untuk menjaga dan menjadi instrumen bagi kepentingan kelompok atau negara untuk dapat memastikan bahwa tujuan yang telah disepakati bersama dapat terwujud. Bentuk dan sistem pemerintahan yang ada pada setiap negara sangat menentukan sistem pemerintahan atau pola pemerintahan yang nantinya akan berjalan. Di negara demokrasi yang pemimpinnya ditentukan oleh pemilihan umum yang rutin dilaksanakan tentu membawa konsekuensi berbeda dengan alat-alat pemerintah yang nantinya akan menjalankan roda pemerintahan tersebut. Alat-alat pemerintahan atau administrasi publik ini tentu harus memiliki fundamental yang kuat agar tidak terjadi pergolakan yang luar biasa apabila terjadi pergantian rezim. 

Woodrow Wilson melihat hal tersebut dan mengusulkan pemisahan antara politik dan administrasi negara. Dengan pemisahan tersebut administrasi negara tidak hanya menjadi suatu alat yang bergantung dari keputusan politik tapi menjadi suatu sistem yang otonom, akuntabel, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Administrasi negara atau roda pemerintahan tidak hanya menjadi oportunis kelompok yang memenangkan pemilihan umum tetapi dapat memberikan masukan dan perubahan yang jauh lebih baik kepada warga negara.

Ide pemisahan ini juga didukung dengan ketidakefisienan pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan karena pertarungan politik akan sangat berdampak pada administrasi negara. Disaat yang bersamaan berkembang manajemen saintifik yang dipelopori oleh Fayol dan Taylor yang memberikan dampak efisiensi yang sangat tinggi. Dengan melihat kondisi dan perkembangan yang ada maka administrasi negara dan politik terjadi dikotomi yaitu pemisahan fungsi antara pimpinan politik dan lembaga administrasi negara.

Pemisahan tersebut diharapkan mampu membuat lembaga administrasi negara menjadi lembaga yang profesional, kompatibel, spesialisasi dengan mengadopsi prinsip manajemen pada sektor privat yang telah berkembang dan menunjukkan hasil. Pendapat mengenai adopsi sistem privat mendapat kritik dari Paul Appleby dalam tulisannya Government is Different (1945) yang menegaskan bahwa masuknya logika bisnis dalam pemerintah adalah hal yang keliru, kritik yang sama juga dilontarkan oleh Herbert Simon yang menekankan bahwa administrasi yang diambil dari bisnis memiliki banyak kekurangan apabila diterapkan dalam pemerintahan.

Weber menegaskan dalam bukunya birokrasi (1946) bahwa dalam manusia ada permasalahan moral yang harus dapat ditertibkan dengan suatu sistem dan pola yang kuat.  Oportunis dalam individu akan merusak sistem yang telah dibuat sehingga sistem birokrasi yang hirarkis, instrumental, terkontrol, kuat dengan regulasi dan peraturannya akan membatasi gerak hasrat dan oportunis individu serta membuat birokrasi layaknya sebuah mesin yang dijalankan sesuai program. Webber juga menyatakan bahwa organisasi pemerintah harus menerapkan kontrol hirarki dan meritokrasi, kedua cara tersebut seharusnya dapat menyingkirkan sistem administrasi dari benalu patrimonial, patronase, dan favoritisme. Cara ini juga beresiko sangat tinggi ketika pemimpin memiliki moral yang rusak maka akan cepat menyebar sampai ke bawah.


Gelombang Kedua Perkembangan Ilmu Administrasi Negara

Perkembangan ini terjadi setelah krisis pasar bebas di mana kerakusan manusia menyebabkan persaingan yang tidak sehat dan tanpa campur tangan dari otoritas maka kondisi akan semakin memburuk. Munculnya neoliberalisme ini mewajibkan pemerintah untuk ikut campur dalam memfasilitasi kebutuhan bisnis dan memberikan bantuan serta sistem yang dapat membuat kebutuhan masyarakat terpenuhi. Peran yang diharapkan adalah peran yang sewajarnya, apabila peran pemerintah terlalu berlebihan maka dapat mengganggu perkembangan bisnis dan pemenuhan kebutuhan manusia. Lalu muncullah new public manajemen sebagai respon terhadap peran pemerintah yang sebaiknya dilakukan seperti deregulasi,privatisasi dan liberalisasi.

Perkembangan yang terjadi membawa pada penemuan baru di bidang administrasi publik karena model yang lama tidak mampu untuk mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan administrasi publik harus mampu mengadopsi kebutuhan warga negara dan perkembangan di sektor privat serta pengaruh dari pandangan umum masyarakat terhadap pelayanan publik. Inovasi administrasi publik antara lain new public manajemen atau NPM, good governance. Rentetan perubahan tersebut sebagai bentuk bentuk yang diadopsi oleh pemerintah dan administrasi publik dalam menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat. Saat ini banyak sektor-sektor publik yang tidak dijalankan oleh pemerintah lagi tetapi dikembangkan oleh sektor swasta. Terdapat juga persaingan antara sektor pemerintah dan sektor swasta dalam melayani kebutuhan publik seperti rumah sakit, sekolah, perumahan, transportasi, dan pelayanan publik lainnya. Kajian publik tidak hanya tentang pemerintah tetapi juga tentang sektor lainnya yang memberikan layanan publik. Perbedaan gelombang pertama dengan gelombang kedua adalah pada gelombang pertama berfokus pada efektivitas dan pada gelombang kedua mengenai perkembangan dan perluasan kajian administrasi publik.


Gelombang Ketiga Kemunculan Manajemen dan Kebijakan Publik Serta Aktor Masyarakat Sipil

Model new pabrik manajemen yang berorientasi pasar telah mengabaikan makna substansi dari demokrasi. Makna kepentingan pasar tersebut juga telah mengabaikan kewajiban pemerintah dalam menyediakan sarana dan prasarana serta mengatur persaingan yang terjadi. Konsep ini pun ditentang dengan terbitnya new public service di mana kepentingan demokrasi warga negara tetap ikut terlibat dalam kebijakan yang diputuskan. Upaya menyerap aspirasi masyarakat dilakukan oleh administrasi publik.NPS menekankan bahwa administrator publik harus mendedikasikan kerja mereka untuk kepentingan publik secara luas dan pelibatan warga negara dalam apa yang disebut “manajemen publik” dan “kebijakan publik”. Peran ASN dalam new public service sebagai pelayan dari kepentingan dan kemauan publik sehingga terjadi proses bottom up yaitu kehendak publik diterima oleh pemerintah di bawah dan kemudian dapat dijadikan usulan perubahan atau pembuatan suatu kebijakan. 

Ketidakmampuan administrasi publik dalam menyerap semua aspirasi publik memunculkan non government organization (NGO) yang berupaya untuk menyerap aspirasi publik serta menyampaikannya kepada pemerintah maupun mengkampanyekan tentang pentingnya perubahan terhadap kebijakan. Gelombang ketiga ini merubah proses administrasi publik yang tadinya dari atas ke bawah menjadi dari bawah ke atas karena aspirasi masyarakat dan partisipasi masyarakat langsung diserap oleh administrasi publik pada level bawah yang kemudian diformulasikan untuk menjadi usulan perubahan kebijakan. Kemudian terkait dengan munculnya organisasi non pemerintah yang memperjuangkan aspirasi rakyat juga. Serta bagaimana pemerintah mengelola kebijakan publik maupun manajemen kebijakan tersebut. Aspek pelaksana pemerintah pada level interaksi ini memunculkan istilah diskresi yang harus diambil.


Gelombang keempat Ilmu Administrasi Publik, Manajemen kebijakan publik dalam era digital dan muncul pengaruh lingkungan, kesehatan, dan pendidikan

Pemanfaatan teknologi yang masif di dalam administrasi publik tentu membawa dua konsekuensi konsekuensi yang positif adalah semakin cepat, ringkas, dan dapat dimaksimalkan secara optimal. Adapun konsekuensi negatifnya adalah mengenai keamanan dan kerahasiaan data agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan pribadi/kelompok. Pelaksanaan pelayanan publik dapat dilakukan secara digital, sehingga ruang publik pun terdistorsi menjadi ruangan-ruangan digital di mana pelayanan-pelayanan publik dapat dilakukan di setiap tempat dengan terhubung internet. Proses ini mengubah instansi atau kantor-kantor pemerintah menjadi sepi karena pelayanan publik sudah dilakukan melalui ruang digital tersebut. Pemanfaatan artificial intelligence untuk pengambilan keputusan, penilaian dan analisis dilakukan oleh ai berdasarkan data yang dikelola oleh sistem. Dengan teknologi setiap masyarakat lebih memiliki kemudahan akses dalam berpartisipasi pada kebijakan publik dan kemauan serta tujuan dari masyarakat dapat tersampaikan melalui mekanisme yang berbasis sistem teknologi.

Dampak industri dan perkembangan modern mulai menjadi kekhawatiran dunia. Kesepakatan protokol Kyoto pada tahun 1997 yang memutuskan agar setiap negara berkontribusi untuk menurunkan emisi karbon. Kesepakatan internasional lain seperti kesepakatan anti-nuklir, Kesepakatan terkait global warming dan sebagainya yang membahayakan keberlangsungan manusia di bumi. Gelombang keempat ini menunjukkan bagaimana angin sisi publik masuk ke dalam dunia digital serta perubahan yang sangat radikal di dalam dunia digital dan kesadaran terhadap ancaman lingkungan serta keberlangsungan umat manusia.


Minggu, 13 November 2022

The Public Sektor Pivot–Book Bagaimana Generasi z Akan Memimpin Perubahan Besar di Dalam Public Service (Kaitlyn Rentala, 2021) Chapter 2 Efisiensi Perception Millennial vs Gen z

The Public Sektor Pivot–Book

Bagaimana Generasi z Akan Memimpin Perubahan Besar di Dalam Public Service

(Kaitlyn Rentala, 2021)


Chapter 2

Efisiensi Perception Millennial vs Gen z


Ketika generasi z terlibat dalam partisipasi kebijakan dan dampak secara langsung pun juga dirasakan seperti membuat surat negosiasi ke pemerintah kuba untuk menarik aset dari USA yang dilakukan oleh pegawai magang dari generasi z, kemudian surat itu memberikan dampak bagi kepentingan negara, maka hal ini memberikan semangat positif bagi generasi z untuk mengembangkan dan terus berpartisipasi aktif tetapi ketika pada suatu kondisi generasi z melihat betapa politik yang berkepentingan saling menjatuhkan berdampak pada proses politik yang lama padahal ide dari pembuatan keputusan tersebut atau peraturan tersebut sangat luar biasa tetapi terhambat karena adanya kepentingan politik pihak tertentu akan menjatuhkan motivasi generasi Z.

Efisiensi menurut generasi z adalah ketika seseorang memiliki ide yang brilian, kemudian diberikan otonomi untuk melakukan dan mengembangkan ide tersebut serta difasilitasi mentor dan peralatan untuk mewujudkan ide tersebut dan memperoleh masukan serta kritikan bagaimana membangun ide tersebut menjadi kuat yang hasilnya adalah dapat dijalankan dengan cepat dan tepat serta membawa dampak perubahan, maka itulah yang disebut dengan efisien menurut generasi z.

Apabila melihat pola yang ada di sektor publik dan sektor swasta, sektor swasta lebih menunjukkan sistematis perubahan yang efektif dan efisien serta mampu melihat potensi-potensi yang dapat berkembang. sementara sektor publik harus mencontoh lebih banyak terhadap kemampuan sektor privat tersebut. Kesan bahwa birokrasi adalah tidak efisien dan tidak efektif berkembang dalam sosial masyarakat dan hal ini berdampak pada persepsi generasi z untuk bekerja dalam sektor publik. Dapat dilihat juga bahwa sektor privat lebih memiliki peranan penting dalam merubah sosial masyarakat di Indonesia contohnya perkembangan market online dan transportasi online telah merubah sistem sosial dalam masyarakat.

Seharusnya dengan keterbatasan tersebut sektor publik harus lebih inovatif dan kreatif untuk memberikan pelayanan terbaik. Perlu diketahui bahwa teknologi yang muncul adalah hasil dari konflik di mana kepentingan setelah perang dunia ke-2 adalah untuk mencari jalan bertahan dari potensi ancaman, sehingga ancaman tersebut menciptakan motivasi dorongan untuk membuat teknologi-teknologi baru yang awalnya untuk terhindar dari tekanan ancaman kemudian dapat dimanfaatkan lebih kepada kepentingan yang lebih luas seperti internet. Pada awalnya internet ditujukan untuk mencari jalan atau teknologi baru untuk menanggulangi ancaman antara dua negara adidaya dan pada akhirnya internet saat ini dipergunakan oleh seluruh dunia untuk kehidupan yang lebih baik.

Ketika Amerika masuk dalam masa keemasannya setelah perang dunia ke-2 terjadi pembangunan yang sangat luas di bidang infrastruktur, pendidikan, dan militer. Perkembangan ini mendorong peningkatan anggaran serta menjadi pertanyaan ketika kemampuan tersebut tidak tercukupi karena dianggap proyek-proyek yang dilakukan pemerintah tidaklah efisien dimana sektor private dapat melakukannya dengan efisien dan juga memuaskan customernya. Sektor Private lebih adaptif, perusahaan besar seperti McKinsey dan Goldman Sachs Capitalize merekrut generasi muda dan memaksimalkan potensinya. Apakah sektor privat lebih efektif?aturan membuat segalanya berjalan tertib dan seharusnya lebih efisien. sektor publik sangat kuat dengan aturannya tapi kenapa sektor publik tidak mencapai posisi yang lebih efektif? 

Sektor publik juga berkewajiban merangsang dan menstimulasi sektor privat melalui kebijakan-kebijakan yang memberi manfaat bagi sektor privat seperti bantuan materil dan non materil, stimulus moneter maupun fiskal, serta peningkatan sarana-prasarana untuk mendukung lancarnya proses di sektor privat. Upaya privatisasi sektor publik terjadi sejak era presiden Ronald reagen di awal tahun 1980. Upaya ini mendapat banyak dukungan publik karena sektor privat telah memberikan efisiensi dan pemaksimalan dan hasil yang tentunya memuaskan customernya. Perkembangan selanjutnya adalah digitalisasi yang dimulai sejak berkembangnya www dan dimanfaatkan oleh banyak perusahaan untuk menjembatani antara produsen dan konsumen. Perusahaan teknologi meningkatkan goodwillnya dibandingkan dengan modal fisiknya. Hal ini memberikan peran di dalam masyarakat. Visi misi Facebook untuk memberikan kekuatan untuk berbagi dan membuat dunia lebih terbuka dan tersambung.  visi Google untuk mengatur informasi di dunia ini dan membuat semuanya dapat diakses dan berguna.

Perkembangan teknologi dimotori oleh generasi milenial yang mengisi inovasi-inovasi di era digital tersebut. gerakan berusaha dengan memaksimalkan teknologi bermunculan secara masif dan memberikan dampak perkembangan bisnis digital yang masif. Perkembangan ini juga tidak terlepas dari dampak negatif seperti perusakan moral, isu-isu ketidak percayaan, berita bohong, kejahatan online dan privasi data pribadi. kondisi sosial pada masa sebelum pandemi masih didominasi dengan kegiatan normal, tetapi begitu terjadi pandemi covid-19 kegiatan berubah total, masyarakat masuk dalam suatu sistem sosial yang mau tidak mau di seluruh sektor harus membatasi kegiatan fisik dan beralih pada teknologi, perkembangn sosial pun menjadi sangat masif. Generasi Z dan Milenial seperti mendapatkan angin segar, sebelumnya apa yang mereka lakukan sering mendapat tekanan dari generasi di atasnya karena sangat fokus dalam sosial digital tapi pandemi membuat semua kalangan tahu bahwa sudah seharusnya digital sosial masuk ke semua sektor termasuk juga sektor publik.

Dampak-dampak sosial dan ketidaksiapan pengambil keputusan di sektor publik terutama dalam sistem digital yang baru membuat generasi Z melihat sebagai ketidakmampuan pemerintah dalam menyelesaikan masalah. isu-isu di bahas dan berkembang dalam digital sosial bahkan lebih masif dari isu yang berkembang secara real, saling debat di youtube, twitter, facebook dan Instagram menjadi pemandangan setiap hari. Sosial sudah bergerak dari digital, dan menjadi semakin tak terbendung. Generasi Z merasa masa depan harus lebih optimis dan mereka harus merubah masa depan itu dari tangan-tangan penguasa saat ini. Bagaimana kampanye yang dilakukan mengenai perubahan iklim, masalah plastik, bahan bakar karbon, dan mendesak agar semua pemimpin dunia memikirkan tentang masa depan dibanding keuntungan dan persaingan saat ini. Diantara tokoh-tokoh tersebut antara lain: Greta Thunberg menyuarakan mengenai perubahan iklim, Malala Yousafzai menyuarakan pendidikan bagi perempuan, Emma Gonzales menyuarakan mengenai kontrol senjata dan peperangan, dan Hillary Shah tentang kepedulian terhadap pelayanan publik.